Yesus Bait Allah yang Sejati

news-thumb1280

Yoh 2:13-22

Sebuah lagu Sekolah Minggu berbunyi:

Apa yang dicari orang? uang…

Apa yang dicari orang? uang…

Apa yang dicari orang siang malam pagi petang? Uang..uang..uang

Bukan Tuhan Yesus!

Tidak dapat disangkal bahwa setiap orang membutuhkan uang. Dengan uang kita dapat membeli berbagai barang yang kita butuhkan dan kita suka. Tidak ada yang salah dengan uang ketika dilihat sebagai alat tukar. Namun ketika ditambahkan kata ‘cinta’ di depan kata uang, maka persoalannya menjadi berbeda. Atas nama cinta uang orang rela menjual tubuhnya, menipu teman, korupsi, mengabaikan sesama yang miskin dan menderita, mengeksploitasi sesamanya, segala hal dilakukan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Seperti lagu di atas, “apa yang dicari orang? Uang!”. Uang-lah yang kemudian memegang kendali atas hidup, menjadi tujuan utama sampai membuat orang lalai mengerjakan tugas yang harus dikerjakannya.

Seperti yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi dalam Yoh 2:13-22. Menjelang hari Paskah, banyak orang Yahudi yang berasal dari berbagai tempat datang ke Bait Allah. Begitu juga Tuhan Yesus. Sesampainya di halaman Bait Allah, Tuhan melihat ada banyak pedagang hewan dan para penukar uang berkumpul di sana. Kehadiran mereka tentu mempermudah orang Yahudi yang datang untuk beribadah, sebab uang yang digunakan di Bait Allah hanya uang logam Galilea atau logam Bait Allah. Oleh karena itu, orang Yahudi harus menukarkan uangnya terlebih dulu di ‘money changer’dengan logam Bait Allah. Persoalannya adalah para penukar uang itu memanfaatkan kesempatan dengan mengambil laba per orang sama dengan upah kerja satu hari. Kalo upah kerja satu hari Rp 100.000, sebesar itulah keuntungan dari satu orang.

Demikian juga dengan para penjual hewan korban. Mereka bekerja sama dengan para pejabat Bait Allah yang bertugas untuk memeriksa hewan korban yang hendak dipersembahkan. Kerjasama yang mereka lakukan adalah dengan menolak semua hewan korban yang dibawa dari rumah dan menganjurkan untuk membeli dari para pedagang di halaman Bait Allah. Para pedagang itu memanfaatkan situasi dengan mengambil untung yang sangat besar. Contohnya: di luar harga sepasang burung merpati harganya Rp 3.000 di dalam Bait Allah menjadi 3.000.000! Hal ini sudah terjadi untuk jangka waktu yang lama dan tidak ada yang protes sebab pemilik kios itu adalah para pemimpin agama.

Para pemimpin agama yang diberikan mandat untuk merawat dan memperhatikan umat, justru melalaikan tugas utamanya demi memuaskan hawa nafsu dan keserakahan. Demi uang dia rela memeras dari sesamanya atas nama menaati Firman Tuhan (pemeriksaan hewan korban)! Bait Allah sebagai pusat hidup orang Yahudi yang merdeka (3 pilar hidup orang Yahudi: tanah, Bait Allah dan Taurat), justru menjadi tempat perbudakkan terhadap sesama. Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat dirasakannya kasih dan pelayanan, justru menjadi tempat ketidakadilan dan eksploitasi manusia. Parahnya pemerasan itu dilakukan atas nama agama, supaya Hukum Taurat dapat ditaati dengan benar! Hal ini membuat umat tidak lagi fokus pada Allah, tetapi fokus pada uang dan korban bakaran! Fokus dari Creator (pencipta) kepada creation (ciptaan). Tanpa sadar penyembahan berhala dalam bentuk uanglah yang menjadi pusat hidup mereka.

Situasi ini yang mendorong Yesus membuat cambuk lalu mengusir para pedagang dari Bait Allah. Tindakan Yesus bukan hanya secara fisik menyucikan bait Allah dengan mengusir semua pedagang, tetapi Ia juga mengembalikan fungsi Bait Allah yang sesungguhnya sebagai tempat manusia mengalami perjumpaan dengan Allah. Maka tindakan Yesus adalah upaya mengembalikan fokus mereka yang hadir ke tempat yang benar, kepada Tuhan dan bukan persoalan lainnya.

Dalam keseharian ada banyak hal yang tanpa disadari menjadi ‘bait Allah’ bagi kita. Bisa jadi hal itu adalah uang (seperti lagu di atas), kehormatan, kenyamanan, keluarga, dsb. Maka hari ini kita diajak untuk memeriksa diri dalam kerendahan hati di hadapan Allah, apakah fokus hidup kita saat ini? Benarkah kita sudah memfokuskan hidup kepada Allah atau kepada hal lain? Cara mengetahuinya adalah hal apa yang terus-menerus kita pikirkan dalam keseharian atau secara khusus dipertimbangkan ketika mengambil sebuah keputusan. Fokus hidup ini yang akan menentukan cara kita menjalani hidup. Bukan hanya bicara tentang pelayanan, tetapi juga dalam hal pengelolaan keuangan, cara bicara, cara merespon situasi yang ada, mengajar anak, semuanya akan memperlihatkan apakah fokus utama hidup kita. Ketika hidup berfokus pada yang fana, maka hidup yang dijalani juga bisa lenyap dalam sekejap. Supaya hidup ini bermakna, maka fokuslah di tempat yang tepat, di dalam Allah! Jadikanlah Allah sebagai pusat ibadah kita, Bait Allah yang sejati dan bukan yang lain.

                                                                                                DRS

Leave a comment