YANG TERSISI YANG DIKASIHI

news-thumb1280

(Yeremia 31: 7 – 9; Mazmur 126; Ibrani 7: 23 – 28; Markus 10: 46 – 52)

Kualitas kasih seseorang terlihat dari kasihnya kepada orang yang dianggap lemah, tidak berdaya dan tersisihkan. Jika seseorang hanya mampu mengasihi orang yang kaya, kuat, hebat, berkuasa atau baik kepada dirinya, kasih tersebut bukanlah kasih yang berkualitas. Kasih seperti itu biasanya kasih yang mengharapkan balasan. Sebaliknya apabila seseorang mampu mengasihi orang yang tidak berdaya, tersisih, dianggap hina atau dianggap najis, maka kasihnya bisa disebut sebagai kasih yang berkualitas, tidak menuntut imbalan. Kasih seperti itu sangat sulit dilakukan dan jarang ditemukan, untuk menyatakannya seseorang mungkin harus keluar dari rasa nyaman, karena mengasihi orang-orang yang berada dalam ketidaknyamanan seringkali menuntut kita untuk keluar dari rasa nyaman.

Kita tidak dapat memungkiri realitas tentang kelompok orang yang tersisih. Siapakah mereka yang disebut orang-orang yang tersisih? Mereka adalah juga orang-orang yang ada di sekeliling kita, bisa jadi mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi atau akses kepada pendidikan dan informasi yang memadai. Dengan mudah mereka menjadi obyek permainan kelompok orang yang berkuasa. Atau orang-orang yang mempunyai keterbatasan secara fisik atau yang dikenal dengan kaum difabel atau penyandang disabilitas. Mereka kerap tidak mendapatkan perhatian yang memadai dan keadaan mereka diperburuk oleh kepercayaan yang masih tumbuh di tengah-tengah masyarakat tertentu, bahwa kaum difabel adalah orang-orang yang jauh dari rahmat Allah, alias orang-orang yang menerima hukumann Allah. Keyakinan ini tentu akan semakin menambah beban para penyandang disabilitas.

Dalam Markus 10:46-52, kita melihat bagaimana Kristus hadir untuk menyatakan kasih Allah yang sangat besar kepada manusia yang tersisih. Kristus Yesus bersedia mendengarkan seruan Bartimeus, seorang pengemis buta, anak Timeus itu. Ia berhenti dan meminta orang memanggil Bartimeus agar Ia dapat mendengarkan apa yang dikehendaki agar Ia lakukan baginya. Teriakan Bartimeus didengar dan diperhatikan Tuhan, bahkan Tuhan mengabulkan apa yang dimintanya. Apa yang dapat kita lihat dari peristiwa ini? Pertama, kita diajak untuk melihat bahwa kasih Allah melalui diri Yesus Kristus adalah kasih yang tanpa batas. Kasih-Nya merangkul semua orang tanpa terkecuali, termasuk mereka yang dipandang sebagai kelompok yang lemah, gagal dan cacat. Kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus melampaui segala kelemahan manusia. Selain itu, kita juga dapat melihat bagaimana Bartimeus, sebagai orang yang tersisihkan di tengah-tengah masyarakat dapat menerima anugerah kasih Allah yang tidak terbatas melalui Yesus Kristus. Ada tiga hal penting yang Bartimeus lakukan, yaitu:

1. Bartimeus yakin dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias.
Bartimeus memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud” (ayat 47). Ia adalah orang pertama yang memanggil Yesus demikian, menurut catatan Injil Markus. Orang Yahudi meyakini bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud (band. Mat 12 : 23). Jadi dengan menyerukan “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku” secara tidak langsung Bartimeus menyatakan keyakinannya akan Yesus sebagai Mesias. Bartimeus juga menyebut Yesus dengan istilah “Rabuni” (bahasa Aram “rabbouni”). Istilah ini mengungkapkan rasa hormat yang tinggi. Hanya dua kali istilah ini disebutkan dalam Kitab Injil: Selain oleh Bartimeus, diucapkan juga oleh Maria Magdalena saat ia berjumpa dengan Yesus yang bangkit (Yoh 20:16).

2. Bartimeus terus memanggil dan meminta kepada Yesus.
Pada saat Yesus tengah mengajar, seseorang berteriak memanggil namaNya. Dialah Bartimeus, anak Timeus, seorang pengemis buta. Penulis Injil Markus menulis nama ini dengan jelas, tidak seperti dalam kisah-kisah penyembuhan yang lain yang bersifat anonimus. Agaknya Bartimeus adalah seorang yang dikenal baik oleh orang-orang di sekitar Petrus, sumber penulisan Injil Markus serta para pembaca Injil Markus. Teriakan Bartimeus terasa mengganggu banyak orang yang sedang mendengarkan Yesus. Banyak orang menegor supaya ia diam (ayat 48b), namun rupanya Bartimeus tidak menyerah, justru ia „semakin keras berseru‟. Sebagai seorang pengemis buta, mungkin ia sudah mendapatkan perlakuan buruk atau tidak dipandang sebagai seorang manusia yang berpribadi. Sebagaimana pemahaman orang-orang yahudi pada umumnya bahwa penyakit adalah hukuman Tuhan, maka ia sudah biasa menerima penghakiman dan penghukuman masyarakat. Teriakannya menjadi sebuah jeritan akan pertolongan Tuhan “kasihanilah aku”. Dan Yesus mengerti dan mendengar jeritannya.

3. Bartimeus mendapatkan kesembuhan dan kemuliaan Allah.
Perhatikan apa yang kemudian mereka katakan kepada Bartimeus “kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau“ (ayat 49b). Pandangan mereka tentang Bartimeus segera berubah: dari seorang pengemis buta yang hanya menjadi gangguan, menjadi seorang pribadi yang mendapat perhatian Kristus. Sebuah pelajaran yang berharga, dimana Kristus hadir untuk menyatakan kepedulian Allah kepada orang-orang yang lemah dan tak berpengharapan. Yesus menyambut kebutuhan dan keinginan yang kuat dari iman Bartimeus untuk sembuh.

Kasih Tuhan dinyatakan kepada setiap kita tanpa melihat rupa, kedudukan, harta dan kuasa kita. Kasih itu disediakan bagi setiap orang yang percaya dan mau berseru kepada-Nya. Kita sudah mengalami kasih Allah menjamah hidup kita ketika kita masih jadi orang-orang yang tersisih. Hari ini Tuhan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama, membawa dan menyatakan kasih Tuhan dalam hidup banyak orang di sekeliling kita, mereka yang disebut orang-orang yang tersisih. Kiranya Tuhan menolong dan melengkapi kita. Amin.

(BMW)

 

Leave a comment