TUNDUK DI DALAM TAKJUB

news-thumb1280

Luk 9 : 28-36

Minggu ini kita merayakan Minggu Transfigurasi, yaitu peristiwa ketika Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung dan mengalami transfigurasi (transfigurasi: perubahan rupa). Transfigurasi yang dialami oleh Tuhan Yesus di atas gunung dijelaskan pada ayat 29, “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan”. Dalam peristiwa itu bukan hanya Yesus yang hadir, tetapi juga Musa dan Elia. Musa adalah seorang nabi besar Israel yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir melalui laut merah. Ia telah melihat Allah dan memberikan Hukum Taurat kepada bangsa Israel. Elia adalah nabi yang menyerukan kepada bangsa Israel agar kembali kepada Allah. Keduanya adalah tokoh besar bagi bangsa Israel, dan mereka sedang berbicara (berembuk dan berunding) dengan Tuhan Yesus.

Apa yang sedang mereka bicarakan? Tentu ada kaitannya dengan tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (ayat 31). Minggu transfigurasi memiliki kaitan erat dengan kematian Yesus untuk menggenapi rencana Allah. Minggu transfigurasi terjadi ketika Tuhan berada di puncak kemuliaan, sebelum menuju titik terendah di dalam kesengsaraan dan kemudian ditinggikan di bukit Golgota lalu mengalami kebangkitan saat Paskah. Dengan kata lain kita melihat bahwa tidak ada kemuliaan tanpa ketaatan, tidak ada kemuliaan tanpa salib, tidak ada kebangkitan tanpa kematian.

Peristiwa transfigurasi itu terjadi di hadapan Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dapat dibayangkan betapa takjub dan gembiranya ketiga murid tersebut bisa menjadi saksi dari peristiwa yang luar biasa. Itu sebabnya Petrus dengan semangat langsung menawarkan diri untuk membuatkan tiga kemah bagi mereka. Satu untuk Tuhan Yesus, satu untuk Elia dan satu lagi untuk Musa. Petrus rindu agar peristiwa yang menakjubkan itu dapat berlangsung untuk waktu yang lebih lama lagi.

Belum selesai Petrus berbicara, tiba-tiba datang awan menaungi mereka dan terdengarlah suara yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”. Perintah ini ditujukan kepada para murid yang menyaksikannya. Pada ayat 28 ada keterangan yang menyatakan, “kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu”. Pengajaran yang dimaksud adalah pemberitahuan pertama tentang penderitaan yang akan dialami oleh Tuhan Yesus. Ketika Tuhan memberitahukan pengajaran tersebut, Petrus dengan terus terang tidak setuju pada apa yang Tuhan katakan (lih. Mat 16:21-23). Maka suara itu ditujukan kepada para murid agar di dalam ketakjuban mereka atas penegasan siapa Yesus (Inilah Anak-Ku yang Kukasihi), mereka juga harus meresponnya dengan ketaatan dan tunduk, “dengarkanlah Dia”.

Saudara, apakah saudara pernah ada dalam perasaan takjub kepada Allah? Takjub dalam kamus diartikan perasaan kagum dan heran. Mungkin saudara pernah mengalami kagum dan heran atas tuntunan Allah dalam hidup saudara. Rancangan Allah yang membuat sesuatu yang dulu rasanya tidak mungkin diraih, tetapi Allah menganugerahkannya dalam hidup saudara. Takjub yang dirasakan ketika menyadari kehadiran-Nya yang menguatkan dan menopang saudara ketika mengalami pergumulan hidup yang sulit. Takjub melihat kejutan-kejutan yang Allah siapkan dalam hidup saudara, yang membuat saudara bergetar dalam keterpukauan atas kuasa-Nya

Pernahkah saudara merasakan dan mengalami ketakjuban pada Allah? Lalu bagaimana respon saudara ketika mendapatkan pengalaman menakjubkan itu? Tentu kita tidak sabar untuk menceritakan kebaikan Allah kepada sesama. Ini hal yang baik, kita bersaksi akan pemeliharaan Allah dalam hidup kita (asal tetap fokusnya memuliakan Allah dan bukan diri sendiri). Tetapi apakah cukup ketakjuban itu sampai pada bagaimana kita membagikan cerita kepada sesama? Saya rasa kita perlu melangkah lebih jauh, seperti suara yang terdengar dari dalam awan, dengarkanlah Dia. Ketakjuban akan Allah seharusnya juga membawa kita untuk semakin tunduk dan taat kepada-Nya. Bukan memanfaatkan dan merasa dapat mengendalikan kemuliaan dan kuasa- Nya bagi kepentingan diri sendiri. Kita dipanggil untuk menghormati Allah dalam ketaatan total kepada-Nya.

Semoga kita selalu merasakan takjub setiap saat kepada-Nya di dalam menapaki perjalanan hidup ini. Perasaan takjub yang sepatutnya direspon dengan tunduk dan ketaatan total kepada-Nya. Hari Rabu ini kita akan mengadakan kebaktian Rabu Abu, sebagai awal rangkaian masa Pra Paskah. Baiklah kita memaknai masa Pra Paskah ini sebagai waktu untuk mengevaluasi hidup yang telah kita jalani, apakah kita telah hidup dalam ketaatan kepada- Nya.

DRS

Leave a comment