Tuhan, Pulihkan Kami

news-thumb1280

Lukas 13:10-17

Ketika Tuhan Yesus sedang mengajar di salah satu rumah ibadat, Ia melihat seorang perempuan yang sudah 18 tahun sakit – ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri kembali dengan tegak – karena dibelenggu atau dirasuk oleh kuasa roh Jahat. Bagi Tuhan Yesus, pertolongan atas perempuan tersebut adalah sesuatu yang mendesak, maka Yesus segera menyembuhkannya. Namun, proses penyembuhan ini ternyata memancing amarah kepala rumah ibadat karena tindakan itu dipandang memiliki unsur bekerja, ia menilai bahwa Tuhan Yesus yang menyembuhkan perempuan itu pada hari sabat, telah melanggar peraturan Sabat.

Namun, Yesus memahami motif amarah kepala rumah ibadat itu, yaitu karena kemunafikan semata. Ujud kemunafikan itu ada pada standar ganda yang diterapkan kepala rumah ibadat itu. Di satu sisi, para pemuka agama Yahudi sepakat bahwa di hari Sabat ada larangan untuk bekerja, tetapi mereka sendiripun sering melanggarnya dengan menggiring ternaknya untuk memberi mereka makan dan minum (Lukas 13:15). Tentu ini dibuat bukan karena belas kasih kepada ternak yang kehausan. Semata agar ternaknya tetap sehat dan dapat dipakai bekerja membajak ladang mereka pada hari-hari setelah Sabat. Jadi, untuk kepentingan diri sendiri. Akan tetapi, terhadap kerja Tuhan Yesus yang menyembuhkan seorang perempuan yang kerasukan roh jahat, kepala rumah ibadat ini menganggapnya sebagai pelanggaran peraturan Sabat. Tambah ironis lagi, si kepala rumah ibadat ini tidak berani langsung menyalahkan Tuhan Yesus, si perempuan yang ‘malang’ itu yang dipersalahkan. Padahal, jiwa perempuan ini jelas jauh lebih berharga dari pada ternak (hewan)!

Maka di hari Sabat itu, Yesus menyatakan kehendak Allah yang sejati. Ia memulihkan orang yang dirasuk setan sekaligus membongkar kemunafikan dalam diri pemimpin rumah ibadat. Ironis, orang yang seharusnya mengarahkan pelaksanaan peraturan agama, justru memutarbalikkannya. Peraturan agama hanya ia tujukan bagi orang lain, dan bukan bagi dirinya juga. Kita pun bisa terjebak ke dalam kesalahan yang sama sehingga kita hanya bisa melihat kesalahan orang lain, padahal kesalahan kita jauh lebih buruk. Kiranya Tuhan memulihkan kita untuk tidak munafik.

Gereja sebagai rekan kerja Allah ditengah dunia ini pun memiliki banyak kesalahan, kelemahan dan keterbatasan dalam melaksanakan panggilannya menjadi garam dan terang dunia. Disatu sisi kita bersyukur pada Tuhan untuk berbagai kebaikan yang dialami GKI selama 31 tahun penyatuan GKI. Namun disisi lain, kita mengakui bahwa GKI tetap membutuhkan pemulihan dari roh atau spirit yang melemahkan, yang menghambat, menghalangi kasih Allah disalurkan melalui GKI.

TH

Leave a comment