TUHAN HADIR di TENGAH HIDUP YANG GETIR

news-thumb1280

Markus 1:29-39

Belakangan ini, semakin mudah melihat bagaimana agama dan umat beragama menjadi alat kepentingan politik. Agama kehilangan kesuciannya, karena diubah menjadi alat perang menyerah lawan-lawan politik. Agama tidak lagi menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan manusia, sorga dan dunia; tetapi menjadi jembatan menuju harta, tahta dan kuasa. Agama dan umat beragama dikerahkan untuk mencapai keuntungan-keuntungan duniawi yang sempit. Pemimpin-pemimpin agama, termasuk pemimpin Kristen dan Gereja, menghalalkan segala cara demi suara dan kuasa ini.

Sikap ini tentu saja merusak bukan hanya sendi-sendi berbangsa dan bermasyarakat tetapi juga sendi-sendi keimanan. Rasa apatis dan skeptis terhadap agama semakin akut. Rasa butuh terhadap agama semakin hilang. Rasa hormat sesama umat beragama semakin sirna. Orang semakin sulit melihat faedah-faedah dari agama dan umat beragama. Bahkan bagi banyak orang, ada atau tidak ada Tuhan, tidaklah penting. Mereka berkata, “Tidak perlu beragama. Yang penting hidup benar. Tidak berbuat jahat. Hidup jujur dan tulus. Toh orang yang katanya ber-Tuhan juga tidak baik-baik amat, bahkan banyak yang lebih buruk daripada orang yang tidak ber-Tuhan!”

Melihat Tuhan dan agama dipermainkan serta ditinggalkan tentu saja menyedihkan. Bagaimanapun, dunia membutuhkan Tuhan dan tidak dapat bertahan tanpa Tuhan. Dalam situasi hidup yang getir, penuh pergumulan dan menuntut jawaban, kita memerlukan tangan Tuhan sebagai sumber pertolongan. Dunia tidak mampu memberikan jaminan kehidupan dan keselamatan, selain oleh janji dan pemeliharaan dalam Tuhan.

Alkitab memberikan kita gambaran yang sangat jelas bahwa Allah adalah sosok yang mahakuasa, tetapi juga mahakasih. Kuasa dan kasih Allah itu nyata sempurna dalam kehadiran dan pelayanan Yesus Kristus. Melalui Kristus, Allah mengulurkan tangan-Nya dan merengkuh manusia yang menderita karena dosa. Menurut bacaan di atas, setelah mengusir roh jahat di rumah ibadah di Kapernaum, Tuhan Yesus diminta hadir di rumah mertua Petrus. Yesus memenuhi undangan itu. Ia memang senang memperluas lawatan-Nya. Sesampainya di rumah mertua Petrus, Tuhan Yesus menemui ibu mertua Petrus yang sedang terbaring sakit karena demam.

Permintaan melawat mertua Petrus di atas sesungguhnya mewakili harapan banyak orang. Ada banyak situasi dalam hidup kita ini yang tidak mampu kita pahami dan atasi sendiri. Jika atas demam saja manusia memerlukan pertolongan Tuhan, maka terlebih lagi dalam pergumulan keluarga, pekerjaan, bencana, keuangan, kedukaan dan kegagalan. Ajaibnya, Tuhan Yesus selalu mau hadir di dalam kegetiran hidup yang demikian.

Setelah malam tiba, ternyata semakin banyak orang mencari Tuhan Yesus. Mereka memenuhi rumah mertua Petrus. Di antara mereka banyak yang menderita; mulai dari sakit badani sampai sakit rohani karena dirasuk setan-setan.  Tuhan Yesus pun menyambut dan menyembuhkan mereka satu persatu. Di dalam Kristus, mereka mengalami pemulihan. Belas kasihan dan kemurahan diberikan-Nya kepada mereka yang mencari-Nya. Bahkan menurut ayat 35-39, Tuhan Yesus giat berkeliling mencari mereka yang terhilang dan butuh pertolongan.

Kehadiran dan pelayanan Tuhan Yesus ini murni karena kasih, bukan karena pamer kehebatan atau gila kehormatan. Ia sengaja membungkam mulut setan-setan, agar mereka tidak mengungkap keilahian-Nya sebelum tiba waktunya. Ia menunjukkan bagaimana umat dan pemimpin seharusnya hidup dan bertindak; yakni hadir dan berpihak kepada orang-orang lemah. Di tengah hebatnya kompetisi merebut kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, kita harus belajar memimpin untuk melayani, dan melayani dengan rendah hati. Dengan begitu, hidup kita akan menjadi kesaksian yang menginspirasi bahwa Tuhan layak dijadikan sandaran di tengah kegetiran hidup.

                                                                                                MM

Leave a comment