Transformasi Diri

news-thumb1280

Ibrani 11:29-12:2

Lukisan ‘Perjamuan Terakhir’ dilukis oleh Leonardo Da Vinci, seorang artis Italia yang terkenal. Lukisan ini dibuat selama 7 tahun, dan menggambarkan 12 rasul serta Yesus sendiri yang sedang mengadakan perjamuan terakhir. Mereka ini dilukis berdasarkan model orang-orang yang hidup. Pertama-tama, Da Vinci memilih untuk melukis Kristus. Karena ini merupakan proyek yang serius dari raja, Da Vinci pun melakukan observasi.

Pertama-tama, ia mengamati ratusan anak muda untuk mencari pola wajah dan kepribadian yang cocok, tidak terlalu tercemar oleh dosa. Setelah berminggu-minggu, akhirnya ada seorang model yang cocok dengan penggambaran Yesus. Dia merupakan seorang anak muda berusia 19 tahun yang memiliki wajah polos dan tidak tercemar dosa. Selama enam bulan, Da Vinci melukis karakter ini dengan serius. Selama enam tahun , Da vinci melanjutkan pekerjaannya. Satu demi satu, dia mencari tokoh-tokoh yang tepat untuk dilukis sebagai perlambang kesebelas rasul.

Akhirnya tinggal tokoh Yudas Iskariot sebagai tahap akhir dari mahakaryanya. Yudas Iskariot? Dia adalah murid yang mengkhianati Yesus dengan imbalan 30 keping perak atau setara nilainya dengan USD16,95. Selama berminggu-minggu, Da Vinci mencari orang berwajah keras, bertampang penipu dan suka mengkhianati teman sendiri.

Akhirnya dia menemukan sesosok pria di penjara bawah tanah di Roma. Orang tersebut dijatuhi hukuman mati sebagai seorang penjahat dan pembunuh. Ketika Da Vinci melihatnya dalam kegelapan bawah tanah, dia melihat pria yang tak terurus, berewokan dan rambutnya yang tidak disisir, menutupi raut mukanya. Seraut wajah yang melukiskan sifat yang sangat kejam dan bejat. Inilah sosok yang dapat mewakili karakter Yudas dalam lukisan, pikir Da Vinci. Atas seizin raja, tahanan ini dibawa ke Milan untuk dilukis.

Selama enam bulan tahanan ini duduk di hadapan Da Vinci. Saat menyelesaikan sapuannya yang terakhir, Da Vinci berkata kepada pengawal, “Saya sudah selesai. Bawalah tahanan ini keluar.” Saat itu, si tahanan mendadak melepaskan diri dari pengawasan si pengawal dan berlari menuju ke Da Vinci seraya menangis.

“Oh, Da Vinci, pandanglah saya ! Apakah anda tidak tahu siapa diri saya sebenarnya ?” Dengan mata tertatih, Da Vinci mengamati wajah si tahanan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak pernah melihat anda sebelumnya hingga anda diizinkan ke luar dari penjara bawah tanah Roma.” Sambil menengadahkan wajah ke atas, tahanan itu menangis dan berdoa, “Ya Tuhan, apakah saya sudah terjatuh begitu dalamnya ?” Lalu dia memandang kembali si pelukis dan sambil menangis dia berkata, “Da Vinci, saya adalah anak muda yang pernah anda lukis 7 tahun yang lalu sebagai perlambang Yesus !”

Inilah kisah nyata di balik lukisan ‘Perjamuan Terakhir’. Anak muda yang tadinya begitu polos dan tidak terlalu tercemar oleh dosa-dosa dunia, tujuh tahun kemudian jatuh ke dalam dosa dan kejahatan besar. Dia pun berubah, dari perlambang Yesus, menjadi perlambang karakter seorang Yudas Iskariot. Sebagai murid Kristus, kita diperintahkan Yesus untuk untuk berubah – berubah menjadi sempurna sama seperti Bapa di sorga sempurna (Mat.5:48). Bagaimana kita bisa terus mengalami perubahan tersebut?

Pertama, penulis Ibrani mengingatkan bahwa kita dapat belajar dari para pahlawan iman. Mereka telah menyaksikan perjuangan mereka untuk berubah menjadi sempurna. Kita melihat teladan iman dan ketekunan dari para pahlawan iman dalam berjuang menanggalkan dosa: ada Daud yang melakukan perzinahan dan pembunuhan dan Allah menolongnya menyelesaikan dosanya; ada Yohanes Markus yang mudah menyerah dan Allah menolongnya mengatasi kelemahannya; ada Ayub yang mengalami penderitaan luar biasa dan Allah menolongnya mengatasi pergumulannya itu; ada Stefanus yang dibenci dan dirajam orang banyak karena pelayanan dan kesaksiannya dan Allah menolongnya menuntaskan tugas panggilannya dengan penuh sukacita; ada Perempuan Samaria yang terjebak dalam kehidupan yang tidak bermoral dan Allah menolongnya menyelesaikan/membereskan dosanya; dsb. Mereka semua ditolong Tuhan mengalami transformasi/perubahan dalam hidupnya. Kita pun akan mengalami transformasi diri dengan pertolongan Yesus Kristus.

Kedua, dalam kehidupan rohani, kita perlu berfokus pada hal-hal yang membangun iman. Nas hari ini mengajarkan kita untuk berfokus pada Yesus. “Mata yang tertuju kepada Yesus” dalam terjemahan bahasa Inggrisnya berbunyi “Let us keep our eyes fixed on Jesus.” Semua aspek kehidupan kita haruslah berfokus pada apa yang dilakukan Yesus: mulai dari cara berpikir, perasaan, hingga perilaku-Nya. Seperti yang diperintahkan oleh Yesus dalam salah satu syarat untuk menjadi murid-Nya, yaitu mengikuti Dia. Sangat jelas bahwa untuk mengikuti Yesus, kita harus memiliki fokus. Kita bergumul melawan dan menjauhi dosa ( Ibrani 12: 4), agar kita dapat mengikuti Yesus dan berjalan dalam kebenaran-Nya.

Dengan berfokus kepada Yesus melalui firman-Nya, kita akan mendapatkan hikmat yang luar biasa. Ketika seseorang sangat berfokus pada Yesus, akan banyak terjadi pembaharuan padanya dari dalam ke luar. Ketika kita berkomitmen melakukan kehendak Yesus dalam hidup ini, perubahan pun terjadi secara perlahan namun pasti. DENGAN FOKUS KEPADA YESUS KITA PERLAHAN NAMUN PASTI MENJADI SEMAKIN SERUPA DENGAN-NYA.

TH

Leave a comment