Tidak Aji Mumpung

news-thumb1280

(Matius 23:1-12)

Sampai saat ini, korupsi masih menjadi persoalan pelik bangsa Indonesia. Praktik korupsi dan suap-menyuap merajalela di berbagai bidang; baik lembaga milik pemerintah maupun swasta. Bahkan, yang lebih memprihatinkan, tindakan korupsi dan suap-menyuap juga merambah ke lembaga keagamaan; dilakukan para anggota dan pemimpin umat. Tidak terkecuali, lembaga gereja dan pemimpin Kristen tidak sedikit juga yang tergoda melakukan kejahatan ini.

Memang, menghentikan praktik korupsi dan suap- menyuap tidaklah mudah. Penegakan hukum bagi pelaku korupsi banyak yang kandas di tengah jalan. Hal ini terjadi karena praktik korupsi masih melibatkan orang-orang yang memegang kekuasaan. Korupsi sangat dekat hubungannya dengan kekuasaan. Praktik korupsi dan suap-menyuap dilakukan karena memiliki kekuasaan; atau sebaliknya untuk memperoleh kekuasaan. Dalam hal ini, korupsi bisa menjadi tujuan kekuasaan dan kekuasaan bisa menjadi tujuan korupsi. Mumpung ada kekuasaan dan kesempatan, korupsi pun dilakukan untuk memperkaya diri sendiri dan melanggengkan kekuasaan.

Matius 23:1-12 merekam pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid- Nya dan orang banyak. Ia secara terbuka mengkritik para pemimpin agama, khususnya kelompok orang Farisi dan ahli Taurat. Pada kenyataannya, orang Farisi dan ahli Taurat telah “menduduki kursi Musa” (ayat 2). Artinya, mereka secara sah memiliki otoritas untuk mengajarkan firman Tuhan. Akan tetapi, Tuhan Yesus melihat sikap hidup mereka sehari-hari kontras dengan pengajaran mereka. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memperingatkan orang banyak agar menuruti apa yang mereka ajarkan, tetapi jangan meneladani perbuatan-perbuatan mereka.

Orang Farisi dan ahli Taurat menuntut orang banyak melakukan aturan-aturan hukum Taurat, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya (ayat 4). Bahkan, semua wujud kesalehan mereka ternyata didorong oleh motif yang salah, yakni untuk mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang banyak (ayat 5-7). Sebagai pemimpin umat, mereka gagal menjalankan fungsi mereka oleh karena kemunafikan yang merusak hidup mereka. Mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk mendapatkan kehormatan bagi diri mereka sendiri. Mereka menggunakan otoritas untuk mempengaruhi orang banyak demi pujian, kesenangan dan kenyamanan diri mereka sendiri.

Sebagai solusi, Tuhan Yesus mengajarkan agar umat jangan mengejar predikat untuk disebut sebagai rabi, bapa atau pemimpin. Hanya Allah di dalam Mesias saja yang layak disebut rabi, bapa dan pemimpin. Artinya, umat harus memiliki sikap rendah hati. Umat jangan dikuasai ambisi kekuasaan. Sebaliknya, Tuhan Yesus mengajarkan, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Orang yang berkuasa hendaklah memiliki jiwa dan semangat melayani. Dengan begitu, kekuasaannya berguna untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Umat Tuhan, janganlah kita haus kekuasaan. Janganlah menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Jangan tergoda menjadi pribadi yang oportunis atau aji mumpung. Jalanilah kehidupan yang jujur, benar dan adil di dalam Tuhan. Gunakanlah setiap peran, otoritas dan kekuasaan yang Tuhan berikan untuk mengasihi dan melayani. Jadikanlah itu sebagai modal untuk melakukan pekerjaan baik dan mulia, sehingga mempermuliakan nama Tuhan di muka bumi. Tuhan Yesus kiranya menolongdan memberkati kita. Amin.

MM

Leave a comment