TETAP TEGUH di Tengah Hidup yang Runtuh

Quote-18Nop2019

Lukas 21:5-19

Menurut Kalender Gerejawi, Minggu ini adalah Minggu Biasa yang terakhir. Minggu depan kita sudah memasuki Minggu Kristus Raja. Selanjutnya, kita memasuki Minggu-minggu Adven. Penetapan kalender gerejawi seperti ini hendak menegaskan bahwa kedatangan Yesus Kristus ke dunia adalah sebagai Raja atas umat manusia. Puncak ziarah iman kita kepada Kristus adalah ketika kita benar- benar menjadikan Dia sebagai Raja atas seluruh kehidupan kita.

Menerima Yesus Kristus sebagai Raja memang bukanlah keputusan gampangan. Pasalnya, keputusan itu kerap diwarnai tantangan dan tentangan dari banyak orang. Pencobaan dan penderitaan bisa muncul di mana saja dan kapan saja pada murid-murid Kristus. Pada titik inilah kesetiaan dan ketahanan iman kita diuji. Mampukah kita bertahan, tetap teguh berdiri dan setia mengerjakan tanggung jawab kita di tengah-tengah segala kesulitan dan ancaman?

Bacaan Injil di atas berkisah tentang Tuhan Yesus sedang berada di Bait Allah bersama orang banyak. Beberapa orang memuji kemegahan Bait Allah itu, yang memang dirancang begitu kuat, besar dan artistik. Bangsa-bangsa lain pun mengagumi keindahannya. Hanya saja, Tuhan Yesus menyatakan suatu nubuat tentang Bait Allah itu. Ia berkata bangunan itu kelak akan diruntuhkan. Ungkapan “tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” menggambarkan betapa hebatnya kehancuran itu. Nubuat ini memang benar- benar terjadi pada tahun 70 Masehi, ketika pasukan Romawi menyerbu Yerusalem. Mereka menghancurkan kota Yerusalem, khususnya Bait Allah. Bait Allah benar-benar hancur. Pasukan Romawi hanya menyisakan sedikit tumpukan tembok saja (panjangnya sekitar 50 meter) yang kini disebut sebagai Tembok Ratapan.

Ternyata, nubuatan Tuhan Yesus tidak hanya mengenai Bait Allah, melainkan juga nasib para pengikut-Nya. Kelak akan muncul mesias-mesias palsu. Mereka akan menyesatkan orang dengan ramalan-ramalan akhir zaman. Sepanjang sejarah kekristenan memang sudah banyak nabi palsu meramalkan hari kiamat. Semuanya sesat. Selain itu, peperangan dan bencana alam akan meliputi dunia. Kelaparan dan wabah penyakit akan merajalela. Persekusi dan penganiayaan akan terjadi berulangkali. Pengkhianatan orang-orang terdekat akan mengacaukan komunitas. Juga, kebencian dunia akan bertambah hebat, sehingga beberapa pengikut Kristus akan meninggal karena dibunuh.

Di tengah situasi ini, para murid diminta tetap meneguhkan hati. Mereka harus percaya bahwa Tuhan tidak sekali-kali meninggalkan mereka. Mereka harus berpikir dan bersikap positif. Situasi itu harus dilihat sebagai kesempatan untuk bersaksi. Ketika dunia menjadi kacau, para murid harus memanfaatkannya untuk menawarkan keselamatan kekal yang dari pada Tuhan. Untuk itu, Tuhan Yesus meminta para murid agar tidak semata-mata memikirkan keamanan dan keselamatan diri mereka sendiri. Jika mereka mementingkan keamanan diri sendiri, mereka akan gagal menjadi murid sejati. Jika para murid menghadapi gugatan orang luar, mereka diminta “supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu” (ay 14). Artinya, mereka tidak perlu panik membela diri. Mereka harus sabar dan tenang. “Tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang” menegaskan bahwa Tuhan pasti memelihara mereka. Jika para murid bertahan, mereka akan memperoleh keselamatan yang kekal di dalam Kerajaan Sorga.

Saudara, menjadi pengikut Kristus bukanlah tentang menghindari penderitaan. Jika seseorang mengikut Kristus hanya untuk menghindari kesusahan, ia pasti akan kecewa. Jika seseorang menjadi Kristen karena ingin lari dari penderitaan, ia pasti akan kecewa. Nubuat Tuhan Yesus dan faktanya menegaskan bahwa kesusahan dan penganiayaan memang mewarnai kekristenan dari zaman ke zaman. Seperti Kristus ditolak dan dianiaya, demikian juga terjadi kelak pada pengikut-Nya.

Oleh karena itu, Saudara-saudara, kita harus memperkuat iman kepada Kristus. Teruslah melatih ketabahan di tengah kesulitan. Meski tatanan sosial runtuh akibat kejahatan dan ketidakadilan, janganlah berhenti menegakkan kasih dan kebenaran. Meski politik dan alam bergelora, janganlah berhenti berharap pada Tuhan. Ketahanan iman harus menjadi tanda kemuridan kita yang sejati. Dengan begitu, kita tetap mampu mengerjakan panggilan pelayanan kita dengan segenap hati. Selamat berjuang. Selamat berkarya. Tuhan memberkati. Amin!

MM

Leave a comment