Terus Menerus Dibarui

WhatsApp Image 2021-01-09 at 18.45.02

Markus 1:4-11

Kemunculan Yohanes Pembaptis di padang gurun diwarnai dengan situasi masyarakat yang kehilangan esensi utama dari kehidupan beragama. Umat Allah terjebak dalam rutinisme dan ritualisme keagamaan yang kosong.  Kemunculan Yohanes Pembaptis telah dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama oleh nabi Maleakhi dan nabi Yesaya (Markus 1: 2-3, bnd. Mal. 3:1Yes. 40:3). Setelah sekian lama Tuhan tidak berbicara kepada umat-Nya, kehadiran Yohanes Pembaptis, sebagai utusan yang memberitakan kedatangan Tuhan, adalah penting. Ini menegaskan kembali realisasi janji Allah mengenai kedatangan Mesias, yang akan menyelamatkan umat-Nya.

Untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, Yohanes Pembaptis memberitakan tentang

  1. Pertobatan dan pengampunan dosa. Ia mendorong orang untuk menyadari dosa-dosa mereka dan meminta pengampunan Allah (ayat 4). Baptisan menjadi tanda pertobatan sejati.
  2. Keutamaan Kristus. Dia menempatkan Yesus Kristus yang akan datang sebagai yang utama dan menempatkan dirinya serendah mungkin di hadapan Kristus, sehingga untuk membuka tali kasut-Nya pun dia merasa tidak layak (ayat 7). Yohanes Pembaptis tidak menempatkan dirinya sebagai murid, yang bersedia melakukan apa saja bagi gurunya, tetapi membuka kasut sang guru tidaklah termasuk bagian tugasnya. Yohanes Pembaptis pun masih tidak berani menempatkan dirinya sebagai hamba, yang akan melakukan apa saja bagi tuannya, termasuk melepas tali kasut sang tuan. Ia menempatkan dirinya jauh lebih rendah dari itu, sampai-sampai ia merasa bahwa membuka tali kasut-Nya pun tidak layak.
  3. Kuasa Kristus. Dalam pemahaman bahwa Yesus Kristus sebagai yang utama, Yohanes menyiapkan hati orang-orang datang kepada Yesus yang berkuasa untuk mengubah hati mereka. Oleh karena itu, Yohanes Pembaptis sadar benar bahwa dirinya bukanlah aktor utama. Ia hanya berperan menghubungkan manusia dengan Kristus.

Kemudian Markus menampilkan Yesus sebagai sosok yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus datang dalam kerendahan hati yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu Yesus memberi diri dibaptis oleh Yohanes.  Namun pembaptisan Yesus bukan merupakan tanda pertobatan. Yesus tidak berdosa karena itu sebenarnya Ia tidak perlu dibaptis. Baptisan Yesus merupakan identifikasiNya dengan manusia berdosa yang membutuhkan pertobatan. Yesus menegaskan bahwa pola beriman yang berorientasi pada pertobatan dan hidup seturut kehendak Allah sangat dikehendakiNya. Pembaptisan Yesus merupakan tanda persetujuan gerakan kembali kepada Allah yang dikampanyekan oleh Yohanes. Persetujuan yang ditampilkan oleh Yesus itu juga mendapat legitimasi dari langit (simbol penyataan Allah). Maka, Markus menggambarkan Yesus melihat langit terkoyak dan Roh seperti burung merpati turun keatasNya. Lalu terdengar suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, Engkau menyenangkan hatiKu.” (Mrk 1:11).

Bertolak dari konteks yang demikianlah Markus menampilkan Tuhan Yesus di panggung khalayak ramai untuk memulai karyaNya. Kemunculan Yesus dan kesediaanNya dibaptis oleh Yohanes menegaskan bahwa umat Alah harus memiliki pola beriman yang berorientasi pada pertobatan dan hidup seturut kehendak Allah. Inilah yang sangat dikehendaki oleh Yesus, umat Allah terus menerus dibarui seturut kehendak Allah. Amin

 

YKD

Leave a comment