Takjub Pada Kuasa Allah

WhatsApp Image 2021-01-30 at 21.27.34

Markus 1:21-28

Injil Markus 1:21-28 menceritakan tentang kuasa Allah yang dinyatakan di ruang publik, yakni dalam rumah ibadah di Kapernaum. Di rumah ibadah pada waktu itu ada suatu tradisi yang dikembangkan, yaitu siapa saja yang hadir dalam ibadah saat itu, boleh berkhotbah. Kesempatan ini dimanfaatkan Yesus untuk mengajar. Markus tidak memberitahu isi pengajaran Yesus dalam bagian ini, tetapi dia mencatat detail tentang pengaruh khotbah-Nya terhadap para pendengar-Nya.

Markus mencatat dua pengaruh yang dirasakan langsung dari khotbah Yesus.

  1. Orang banyak takjub mendengar khotbah-Nya (Mark.1:22). Takjub karena — secara mencolok — ajaran Yesus berbeda dengan apa yang selama ini mereka dengar. Khotbah Yesus berbeda dengan khotbah para pemimpin agama Yahudi yang selama ini mereka dengar. Meski fakta ini nyata, namun tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa orang banyak yang takjub itu menjadi percaya pada Yesus. Mereka hanya sekadar takjub, tidak lebih. Disebutkan bahwa mereka takjub akan pengajaran Yesus, karena Ia mengajar sebagai orang yang memiliki otoritas (Mark.1:21-22). Apakah itu berarti bahwa ahli-ahli Taurat tidak berotoritas? Mereka punya otoritas, tetapi otoritas karena posisi mereka sebagai pemimpin agama. Orang-orang segan kepada mereka karena posisi yang mereka duduki. Berbeda dengan Kristus. Otoritas Kristus melahirkan rasa hormat dan takjub pada diri pendengar-Nya.
  2. Roh jahat yang biasanya dengan tenang turut beribadah di sinagoge, menjadi terganggu dan terancam (Mark.1:24). Menarik untuk diperhatikan bahwa roh jahat juga beribadah dengan tenang di rumah ibadat. Mungkin kita bertanya, “Roh jahat kok bisa merasuk seseorang di rumah ibadat. Apakah dia tidak kepanasan mendengar pemberitaan firman Tuhan di rumah ibadat itu?” Roh jahat bisa ada dimana saja. Tempat peribadatanpun bisa menjadi tempat bagi Roh jahat untuk melakukan tindakan-tindakan jahatnya, mengganggu kehidupan manusia untuk terus menjauhi dan memberontak kepada Allah. Bisa jadi orang-orang yang mengaku dan mempertontonkan kesalehannyapun dapat dirasuk oleh sijahat itu.

Dalam perjumpaan di rumah ibadat, Roh jahat meneriakkan beberapa hal kepada Yesus.

  • “Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret?” Kalimat ini menunjukkan bahwa Roh jahat merasa terganggu dengan hadirnya Yesus. Ia punya urusan sendiri, dan meminta Yesus tidak mengganggu urusannya. Penyebutan “Hai Yesus orang Nazaret.”, Roh jahat mengakui/memberi kesaksian tentang kemanusian Yesus, namun juga hendak merendahkan Yesus yang adalah orang desa, yang sekalipun kata-katanya berkuasa dan menakjubkan, namun Ia bukan golongan terpelajar seperti ahli-ahli taurat maka orang banyak tidak perlu mendengarkan Yesus.
  • “Engkau datang untuk membinasakan kami?” Roh jahat mulai melakukan tawar menawar dengan Yesus. Ia berharap tidak dibinasakan oleh Yesus.
  • “Aku tahu siapa Engkau, Yang Kudus dari Allah.” Dengan mengatakan ini Roh jahat mengakui/memberi kesaksian tentang keilahian Yesus, juga seolah-olah hendak meninggikan Yesus. Namun sebenarnya ia sedang memanipulasi Yesus dengan harapan Yesus tidak menghardiknya, mengusirnya.

Melalui pernyataan-pernyataan Roh jahat itu, terlihat bahwa kehadirannya bukan saja terungkap oleh kehadiran Yesus, namun juga terlihat dengan jelas bahwa ia tidak dapat bertahan di depan mata Yesus karena tidak tahan melihat kesucian Yesus. Roh jahat mengakui kemanusiaan dan keilahian Yesus, juga memahami sumber otoritas yang Yesus miliki, hanya mengakui dan tidak lebih dari itu. Yesus yang datang memberitakan Kerajaan Allah, tidak mau kompromi dengan kuasa jahat, maka Ia menghardik Roh jahat yang merasuk orang itu dengan kuasaNya. Terusirnya roh jahat dari diri orang yang dirasukinya memperlihatkan bahwa otoritas Yesus atas roh jahat. Nyata bahwa Yesus lebih berkuasa daripada roh jahat. Roh jahat harus bertekuk lutut di hadapan Yesus, sehingga orang yang kerasukan roh jahat itu dipulihkan dan hidup normal dalam kodratnya sebagai manusia.

Allah melalui Yesus Kristus menyatakan kuasaNya dengan cara tak terbatas. Hingga saat ini Ia tetap bekerja dan menyatakan kuasaNya dalam kehidupan sehari-hari umat percaya. Mari kita yang diberi kesempatan mengalaminya, tidak sekedar takjub melainkan sujud menyembah dan mempercayakan diri hanya kepada Yesus. Amin.

 

                                                                                                            YKD

Leave a comment