TAAT DALAM PENCOBAAN

news-thumb1280

Lukas 4 : 1-13

Seorang pemuda berbicara dengan orang di sebelahnya sambil menunggu antrian pembuatan SIM, “Pak, kalo di kantor polisi mah pasti aman ya. Khan disini markasnya polisi, siapa yang berani macem-macem.”, kata pemuda itu. “Jangan salah de, sebenernya di tempat dimana kita merasa aman, sebenarnya menjadi tempat yang paling ndak aman. Sebab ketika kita merasa aman, kita jadi lengah dan mudah dikelabui. Teman saya saja pernah kehilangan dompet lho waktu ngantri bikin SIM kayak kita gini.”, jawab orang tersebut. Penggalan percakapan ini menunjukkan bahwa ada tempat atau situasi tertentu yang kita pandang aman-aman saja dalam hidup, dan justru pada saat itu kita mudah menjadi lengah dan terperdaya. Sama halnya dengan pencobaan. Pencobaan kerapkali dipahami hanya ketika manusia sedang berada di dalam kesulitan, kesedihan dan kekurangan. Padahal pencobaan juga bisa hadir dalam bentuk hal-hal yang dipandang menyenangkan dalam hidup, seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus.

Setelah Tuhan Yesus dibaptis, Ia dibawa oleh Roh Kudus ke Padang Gurun. Di tempat itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, tidak makan apa-apa dan pada saat itulah Iblis berpikir untuk mencobai Yesus. Ada 3 pencobaan yang dialami oleh Tuhan di sana, yaitu:

1. Mengubah Batu Menjadi Roti
Dalam keadaan lapar, Iblis berkata kepada-Nya, “jika Engkau Anak Allah suruhlah batu ini menjadi roti.” Iblis menyebut Yesus Anak Allah dalam rangka menantangnya untuk membuktikan kuasa-Nya sebagai Anak Allah, terlebih pada saat itu Yesus sedang dalam keadaan lapar. Namun, Yesus menjawab dengan mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” Jawaban Yesus hendak menegaskan ketaatan-Nya kepada Firman Allah. Firman Allah menjadi dasar tindakan Yesus dan Ia tidak menggunakan wewenang-Nya sebagai Anak Allah demi memenuhi kebutuhan-Nya.

2. Tawaran Kuasa dan Kemuliaan Dunia
Dalam pencobaan kedua, Iblis membawa Tuhan Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Lalu Iblis menawarkan semua kekuasaan dan kemuliaan yang ada dalam kerajaan dunia akan diberikan kepada-Nya asal Yesus berseda menyembah Iblis. Disinilah masalahnya muncul. Memiliki kuasa dan kemuliaan dari dunia itu tidak salah, banyak orang yang memakainya untuk memuliakan nama Tuhan. Namun, ketika syarat untuk mendapatkannya adalah dengan menyembah Iblis, hal ini yang harus dikritisi dengan hikmat. Yesus menjawab tawaran itu dengan mengatakan, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Jawaban Yesus ini menekankan bahwa menyembah Tuhan dan berbakti kepada-Nya merupakan hal yang utama jauh melebihi segala kuasa dan kemuliaan yang bisa didapatkan di dunia ini. Dengan kata lain, kuasa dan kemuliaan menjadi tidak penting ketika hidup tidak menyembah dan berbakti kepada Tuhan Allah saja.

3. Menjatuhkan Diri dari Bubungan Bait Allah
Setelah dua kali gagal, pada pencobaan ketiga Iblis mengutip Firman Allah pada Mzm 91:11-12 (lihat bagian bawah Alkitab cetak). Iblis membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan-Nya di bubungan Bait Allah. Lalu Iblis meminta- Nya menjatuhkan diri untuk membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah. Iblis memakai Firman Allah berdasarkan kemauannya sendiri dan menjadi dasar pembenaran bagi tindakannya. Yesus menjawab juga dengan Firman Allah, “Ada Firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Ul 6:16). Ia menyingkapkan jati diri-Nya sebagai Anak Allah sendiri dan menolak ajakan Iblis untuk mencobai kuasa Tuhan demi memenuhi keinginan dan kepentingan sendiri. Ia tidak tergoda bujuk rayu Iblis oleh karena dapat membedakan manakah yang menjadi kehendak Allah dan yang bukan. Ia mampu menghadapi pencobaan Iblis dengan baik oleh karena relasi-Nya dengan Allah dan ketaatan-Nya pada Firman Allah. Setelah gagal mencobai Yesus, Injil Lukas mencatat bahwa Iblis mundur. Tetapi bukan berhenti dan menyerah melainkan untuk mencari waktu yang baik. Ia terus berusaha untuk mencari waktu yang baik dan mencobai manusia. Itu sebabnya kita perlu untuk selalu waspada dan berjaga-jaga dalam segala keadaan. Sebab segala sesuatu dapat dipakai oleh Iblis untuk mencobai kita. Pencobaan tidak hadir hanya dalam rupa kesulitan, persoalan dan pergumulan, tetapi juga dapat datang dalam rupa wewenang, kemuliaan, kekuasaan dan hal spektakuler lainnya. Oleh sebab itu hiduplah dalam taat. Tekunlah mendalami Firman Allah dan hidup dekat denganNya, akui kelemahanmu dan mintalah pertolonganNya, Allah yang akan memampukanmu, teruslah latih sekalipun tidak mudah, sebab Ia ada bersamamu. Hidup dalam ketaatan harus terus diperjuangkan sampai akhir, sebab tidak semua pencobaan berujung pada dosa, siapa yang bertahan akan memperoleh mahkota kehidupan (Yak1:12)

DRS

Leave a comment