Suarakan Kabar Baik dalam Sukacita

21 may

Lukas 24:44-53; Kisah Para Rasul 1:8

Menjadi saksi Kristus dan menyuarakan Kabar Baik merupakan amanat bagi kita sebagai orang percaya. Yesus sebelum naik ke surga, Dia sempat berpesan kepada murid dan Lukas menjadi saksi yang mencatat kisah tersebut dalam tulisannya di Injil Lukas dan kitab Kisah Para Rasul. Dalam Lukas 24:48 Yesus menyatakan kepada murid bahwa mereka adalah “saksi” akan penggenapan nubuatan PL dalam Yesus, penderitaan-Nya, kebangkitan-Nya, serta berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa (Luk. 24:44-47). Kemudian Yesus akan mengirimkan apa yang dijanjikan oleh Bapa kepada murid, yakni “kuasa” jika Roh Kudus turun ke atas murid (Kis. 1:8). Jadi jelas tugas orang percaya adalah menjadi saksi untuk menyuarakan Kabar Baik dengan sukacita.

Akan tetapi kenyataannya banyak orang Kristen tidak sadar atau pura-pura tidak tahu, bahkan tidak mau menjadi saksi Kristus di dunia ini. Meskipun demikian orang Kristen tetap adalah “saksi Kristus” dan kita dipanggil menjadi saksi Kristus. Berikut adalah hal-hal yang akan menguatkan kita untuk dapat menjadi saksi Kristus dengan sukacita:

1. Kita dapat menjadi saksi dengan bersukacita jika kita mengalami hidup bersama dengan Tuhan.

Kita tidak bisa menjadi saksi bagi berita yang kita sendiri tidak merasakan dan mengalaminya. Para murid Yesus dengan militan dan sukacita menjadi saksi karena mereka telah bersama dengan Yesus (ay. 44), menyaksikan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus (ay. 46). Yohanes juga menyaksikan “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan anakNya, Yesus Kristus” (1 Yoh. 1:3). Pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan secara pribadi akan menguatkan kita untuk menyuarakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum kenal Yesus

2. Menjadi saksi adalah tugas kita, namun yang mempertobatkan dan membuat orang percaya akan Kabar Baik itu adalah pekerjaan Roh Kudus.

Para murid diberi kuasa, kalau Roh Kudus turun atas mereka. Mereka dimampukan Tuhan untuk mengerjakan tugas mereka menjadi saksi. Hal ini dipahami oleh Paulus dengan mengatakan “Aku (Paulus) menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberikan pertumbuhan” (1 Kor. 3:6-9). Jadi sebenarnya dalam bersaksi kita tidak boleh menyombongkan diri ataupun frustrasi ketika ditolak karena Tuhanlah yang mengerjakan pertumbuhan dan mempertobatkan orang. Begitu pula kita tidak perlu takut dan ragu menjadi saksi Kristus karena Roh Kudus memberikan kita kuasa dan kekuatan serta sukacita untuk mengabarkan Kabar Baik.

Menjadi saksi dan menyuarakan Kabar Baik tidak melulu dimulai dari perkataan kita, tetapi juga lewat perbuatan kasih kita, teladan hidup kita, dan melayani sesama. Kita adalah “surat Kristus” yang ditulis dengan Roh Allah yang hidup (2 Kor.2-3). Kita adalah kitab yang terbuka, jadi hidup kita menjadi kesaksian Kabar Baik kepada dunia ini. Mari kita meneladani Kristus hidup dengan mengasihi sesama, memperhatikan orang yang membutuhkan pertolongan dan pada akhirnya kita menyuarakan Kabar Baik kepada orang-orang tersebut dengan sukacita. Kiranya melalui kesaksian hidup kita akan kebesaran Kristus yang menyelamatkan dan mengubah hidup kita, banyak orang akan datang kepada Kristus, dan Allah dimuliakan.

William Andreas Sitinjak

Leave a comment