SUARAKAN DAMAI

news-thumb1280

(Lukas 19:2-40)

Akhir-akhir ini, khususnya menjelang pemilihan presiden dan anggota legislatif, media sosial makin dipenuhi berita-berita hoaks. Berita bohong itu direkayasa dan disebar secara sengaja untuk menyerang pihak yang dianggap lawan; merusak integritas, menjatuhkan popularitas, menggerogoti kepercayaan orang terhadap lawan. Begitulah, kemenangan kerap dicapai dengan menghalalkan segala cara, termasuk menebar ketakutan dan memecah-belah kesatuan.

Bacaan Minggu ini mengisahkan Tuhan Yesus memasuki Yerusalem dengan cara yang sangat berbeda. Ia meminta murid-Nya mendahului ke sebuah kampung untuk mengambil seekor keledai muda yang sedang ditambat pemiliknya. Ia tahu di mana  keledai itu dan bagaimana respon pemiliknya ketika keledai itu diambil. Berarti, Tuhan Yesus juga tahu jelas apa yang akan dialami-Nya di Yerusalem dalam beberapa hari ke depan. Meski begitu, Ia tetap pergi ke Yerusalem.

Nampaknya, keberadaan dan penggunaan keledai ini memiliki arti tersendiri bagi Tuhan Yesus. Pada umumnya, keledai adalah hewan beban. Barang dagangan atau hasil panen biasa dibebankan di punggung keledai atau ditarik di atas sebuah gerobak. Meski jinak, keledai terbilang bodoh dan susah diajar. Konon, untuk bisa menggerakkan seekor keledai, pengguna biasanya meletakkan wortel atau buah lain di depan mukanya. Begitulah keledai diperdaya agar bisa bergerak dan membawa beban pemiliknya. Seorang raja tentu menolak menunggangi keledai. Raja harus menaiki kereta yang ditarik beberapa kuda. Kuda yang digunakan juga tidak sembarangan. Kudanya harus besar, tangkas dan telah dilatih khusus. Tidak seperti keledai, kuda sangat mahal karena tenaganya sangat kuat, larinya cepat, postur tubuhnya menawan dan tingkahnya yang pandai. Semua kehebatan itu membuat kuda sangat cocok untuk dibawa ke medan perang.

Herannya, Tuhan Yesus justru memilih keledai ketika memasuki Yerusalem. Ia memang selalu tampil sederhana. Ia hendak menyampaikan pesan bahwa kehadiran- Nya ke Yerusalem adalah untuk maksud damai. Ia tidak ingin berperang. Ia hadir untuk melayani dan mengasihi. Bukankah seluruh pelayanan dan pengajaran-Nya memang semata-mata untuk mengasihi semua orang? Dengan keledai-Nya, kita membayangkan bagaimana Yesus dengan tenang dan sabar mengikuti irama langkah keledai yang lambat; seperti Ia juga sabar terhadap semua orang yang selama ini tidak mempercayai-Nya, mencurigai-Nya dan bahkan yang menginginkan kematian-Nya.

Meskipun demikian, orang banyak tetap salah sangka terhadap Yesus. Rakyat berseru: “”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (ayat 38). Mereka menduga bahwa Yesus datang “sebagai raja dalam nama Tuhan” untuk memulai perang terbuka melawan kekuasaan Herodes dan penjajahan Romawi yang lalim. Yesus akan menggunakan kuasa ilahi-Nya untuk mengalahkan semua musuh-musuh- Nya. Itulah sebabnya, rakyat tidak segan-segan menghamparkan daun-daun palem, bahkan pakaian mereka sendiri, di depan kaki Yesus sebagai pengganti karpet merah. Keriuhan ini bahkan telah sangat mengusik orang-orang Farisi. Mereka tidak senang jika rakyat percaya dan menaruh harapan pada Yesus. Lebih lagi, mereka tidak senang jika Yesus benar-benar menjadi raja. Itu sebabnya, mereka berani menegur Yesus agar, “…tegorlah murid-murid-Mu itu.”

Tuhan Yesus menolak permintaan orang Farisi itu. Ia memang hadir agar semua orang percaya kepada-Nya dan kepada Bapa yang mengutus-Nya. Ia memang hadir sebagai raja. Ia memang hadir di dalam nama Tuhan. Ia memang hadir untuk menegakkan damai sejahtera di bumi seperti di Sorga. Akan tetapi, cara kerja Kristus berbeda dengan cara kerja manusia. Cara Kristus menyuarakan kedamaian tidak melalui konfrontasi fisik; baik perkelahian, pemberontakan ataupun peperangan. Yesus menegakkan kedamaian melalui pelayanan kasih, mengusir roh jahat, memulihkan orang yang menderita, menyatakan pengampunan dan belas kasihan. Puncaknya, Ia menanggung hukuman salib menggantikan manusia yang seharusnya menanggungnya.

Sebagai murid Kristus, diri kita juga dipanggil untuk terus menyuarakan kedamaian. Itu artinya, setiap kehadiran kita harus mampu menciptakan kedamaian. Kita tidak boleh menjadi sumber konflik. Kita tidak boleh memulai perseteruan. Sebaliknya, kita harus berusaha mendamaikan yang bermusuhan, merenggangkan ketegangan, menenangkan keributan dan menyatukan kembali pihak-pihak yang tercerai-berani akibat konflik yang terjadi.

Saat ini, menyuarakan kedamaian juga dapat kita lakukan melalui media sosial. Di media sosial, setiap hari terjadi konflik yang dipicu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Media sosial tidak boleh dikuasai kaum preman, radikalisme dan terorisme. Konten radikalisme dan terorisme akan mengacaukan hidup berbangsa, bermasyarakat dan beragama kita. Untuk itu, hentikan hoaks. Sampaikanlah berita-berita positif dengan nilai-nilai kebenaran. Tegakkan demokrasi dan asas kesetaraan. Perjuangkan kesatuan masyarakat demi kemajuan hidup yang lebih baik bagi keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa. Tuhan kiranya memberkati kita. Amin.

MM

Leave a comment