STATUS PALSU

news-thumb1280

(Yesaya 5:1-7, Mazmur 80: 7-15, Filipi 3:4-14, Matius 21:33-46)

Orang-orang yang bergaya hidup brand minded, suka memakai barang-barang bermerek terkenal dan eksklusif. Barang-barang bermerek yang mereka miliki dan gunakan menunjukkan kepada dunia siapa diri mereka dan bagaimana status mereka. Karena itu di tengah-tengah masyarakat yang brand minded, penampilan menjadi hal yang diutamakan. Semakin “wah” penampilan mereka, semakin tinggi status mereka di tengah-tengah masyarakat. Tidak heran jika kemudian banyak orang berusaha sedemikian rupa mendandani penampilannya demi untuk menaikan statusnya. Bahkan kadang mereka tidak peduli jika harus menampilkan gambar-gambar palsu (editan) di jejaring media sosial mereka demi untuk memberikan gambaran yang berkesan “wah” pada diri mereka dan menaikan status mereka. Status yang mereka coba tampilkan ini adalah status palsu, yang sama sekali tidak menggambarkan keadaan mereka yang sesungguhnya. Ironisnya mereka merasa puas dan bangga sekalipun hanya memiliki status palsu, padahal dalam kepalsuan sama sekali tidak ada apa-apa yang dapat dibanggakan.

Kebenaran itulah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi. Praktek hidup beriman sebagai umat Allah yang sejati, tidak dapat dibandingkan kemuliaannya dengan praktek hidup keagamaan yang palsu yang dulu pernah dihidupi oleh Paulus dan yang sekarang masih dihidupi oleh beberapa orang di antara mereka. Mereka yang merasa bangga dengan keadaan lahiriah mereka dan segala kesalehan keagamaan yang dapat mereka tampilkan. Mereka begitu giat mendandani penampilan lahiriah mereka dengan berbagai macam disiplin keagamaan untuk menunjukkan status “mulia” mereka. Padahal manusia batiniah mereka dibiarkan terus dikuasai oleh kebebalan, kebencian dan pemberontakan terhadap Allah. Kesalehan lahiriah yang mereka tampilkan hanyalah seperti status palsu, jika tidak disertai dengan pembaruan manusia batiniah mereka. Jika cara hidup yang menampilkan status palsu itu dipandang mulia dan dapat dibanggakan, maka Paulus menegaskan bahwa ia memiliki banyak alasan untuk bermegah dan berbangga diri lebih dari pada orang-orang lainnya. Tetapi perjumpaannya dengan Kristus membuka matanya, membuat ia melihat dengan jelas bahwa bukan itu yang dikehendaki Allah.

Praktek hidup beriman umat Allah yang sejati, sangat berbeda dengan praktek hidup keagamaan yang palsu yang pernah ditekuni Paulus selama ini yang hanya mementingkan hal-hal yang lahiriah sifatnya. Status umat Allah yang sejati tidak ditentukan oleh keadaan lahiriah mereka, dari suku atau bangsa apapun mereka, bersunat atau tidak bersunat, mereka semua dipandang berharga dan mulia di hadapan Allah. Status mulia dan berharga itu didapat umat Allah bukan karena keberhasilan mereka menampilkan kesalehan hidup keagamaan mereka, melainkan karena kasih dan kemurahan Allah yang dianugerahkan kepada mereka. Karena itu bukan kesalehan lahiriah yang harus dikejar oleh umat Allah, karena semua kesalehan lahiriah hanya menghasilkan apa yang Paulus sebut sebagai “sampah” (Filipi 3:8). Kemuliaan status umat Allah yang sejati dihasilkan dari pengenalan mereka akan Kristus dan kesediaan mereka untuk terus mendandani manusia batiniah mereka dengan kebenaran, cinta kasih dan ketaatan kepada Allah.

Berhentilah membangun status hidup berdasarkan penampilan atau kesalehan yang hanya bersifat lahiriah, itu hanya akan membawa kita pada status dan kebanggaan palsu. Mari kita dandani manusia batiniah kita dengan pengenalan akan Kristus dan kebenaran-Nya, di mana kita dapat mengejar hidup yang semakin serupa dengan Kristus (Filipi 3:10-11). Kiranya Tuhan menolong kita.

LN

Leave a comment