Sesungguhnya Aku Ini Hamba Tuhan

WhatsApp Image 2020-12-19 at 18.30.08

Lukas 1:26-38

Dalam salah satu postingannya, Hotman Paris pernah mengingatkan untuk memperlakukan asisten rumah tangga/ pembantu dengan baik. Hal ini ia sampaikan setelah melihat perlakuan dua orang perempuan yang sedang makan terhadap asisten rumah tangganya. Keduanya sudah hampir sejam makan dengan lahap, sedangkan asisten rumah tangga itu hanya menunggu tanpa diberikan makanan. Bagi Hotman tindakan kedua perempuan kepada asistennya tidak manusiawi.

Perlakuan seorang tuan kepada hambanya memang seringkali menjadi sorotan di tengah masyarakat. Ada tuan yang memperlakukan pembantunya/hambanya dengan kejam, tetapi ada juga yang memperlakukannya dengan sangat baik layaknya anggota keluarga. Sebaik-baiknya seorang tuan memperlakukan hambanya, tetap saja tidak ada orang yang bercita-cita menjadi seorang hamba/pembantu. Menjadi seorang hamba bukanlah peran yang mudah untuk dilakukan. Seorang hamba harus mengutamakan kepentingan tuannya. Ia harus memiliki kerelaan untuk mengorbankan dirinya demi memenuhi kebutuhan atau kepentingan sang tuan. Ia harus memiliki kerendahan hati dan pengendalian diri yang sangat baik untuk menjadi seorang hamba.

Tema kebaktian kita minggu ini adalah sesungguhnya aku ini hamba Tuhan. Tema ini diambil dari perkataan Maria ketika malaikat Gabriel datang menemuinya. Malaikat Gabriel menemui Maria untuk menjelaskan rencana dan kehendak Allah terkait dengan kehadiran Sang Mesias di tengah dunia. Gabriel menjelaskan bahwa maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Yesus. Anak ini akan menjadi besar dan disebut Anak Yang Mahatinggi. Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Berita yang disampaikan oleh Gabriel membuat Maria bertanya, “bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”. Gabriel menjawab bahwa Roh Kudus akan bekerja dalam rahim Maria. Ia akan mengandung anak yang bukan hasil hubungan seksual manusia, melainkan karunia Allah. Anak itu akan disebut kudus, Anak Allah. Pada waktu itu Maria sudah bertunangan dengan Yusuf. Pertunangan pada masa itu menjadi sebuah persetujuan formal untuk menjadi suami istri yang diadakan di depan para saksi dan ada mas kawin yang harus diberikan. Masyarakat melihat pasangan yang sudah bertunangan sebagai sepasang suami istri hanya mereka belum tinggal bersama. Mereka harus menunggu sampai waktu perkawinan itu tiba. Sebagai seseorang yang sudah bertunangan, tentu Maria memiliki impian untuk membangun rumah tangga yang indah bersama dengan Yusuf. Membangun keluarga kecil yang bahagia. Maka pesan malaikat ini bak petir di siang bolong. Jika apa yang disampaikan oleh malaikat itu terjadi dalam dirinya, maka ia mungkin harus berhadapan dengan tuduhan asusila, tuntutan moral dan hukuman rajam yang dilakukan oleh masyarakat di mana ia hidup. Ia harus berhadapan dengan masyarakat yang dapat menghakiminya karena ia dipandang hamil di luar nikah. Lalu bagaimana dengan mimpinya untuk membangun sebuah keluarga bahagia dengan Yusuf. Apa yang akan terjadi dengan masa depannya? Ada banyak hal yang bisa membuat Mara menolak rencana yang disampaikan oleh Gabriel. Namun, Maria tidak membuat semua mimpinya menjadi penghalang untuk mewujudkan visi Allah. Ia katakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”. Ia merespon positif panggilan Allah baginya. Ia rela menanggalkan kepentingannya sendiri demi visi dan misi yang lebih besar, yaitu visi dan misi Allah bagi dunia. Ada ketaatan, pengendalian diri dan kerendahan hati di dalam keputusan yang Maria katakan. Ia menyerahkan dirinya kepada Allah dan menjadi hamba-Nya.

Roma 6:22 berbunyi, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Kita semua disebut sebagai hamba Allah. Berkaca dari Maria sebagai hamba Allah, apakah kita juga sudah hidup sebagai hamba Allah sepertinya? Apakah kita sudah menempatkan impian, harapan, kepentingan kita di bawah visi Allah? Sejauhmana kita memberi diri untuk mendukung perwujudan visi Allah di tengah dunia? Pakailah waktu ini untuk memeriksa diri, “sudahkah aku hidup sebagai seorang hamba Tuhan?”. Mintalah kepada-Nya agar memberikan kita kepekaan dalam melihat visi-Nya, memiliki kerendah hati untuk tunduk dan taat kepada-Nya. Ketika Allah rindu agar semua orang selamat dan ada damai sejahtera di dunia, apa yang sudah kita lakukan untuk mewujudkan visi Tuhan? Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup sebagai seorang hamba-Nya yang setia. Amin.

                                                                                                            DRS

Leave a comment