SABAT UNTUK SEMUA

news-thumb1280

Markus 2:23-3:6

Di sebuah wihara yang terletak di tengah hutan, tinggallah seorang biksu ketua dan beberapa orang muridnya. Di tempat itu beberapa kucing liar sering masuk untuk mencari makan, bahkan sampai ke tempat para biksu berdoa. Awalnya biksu kepala tidak terganggu dengan kehadiran kucing liar itu. Lama-kelamaan, biksu kepala mulai terganggu dan memutuskan untuk mengikat kucing itu pada sebuah tiang sebelum mulai berdoa. Hal ini dilakukan setiap kali para biksu hendak berdoa. Sampai akhirnya biksu kepala meninggal dan digantikan oleh biksu senior. Biksu senior ini melakukan hal yang sama dengan mengikat kucing setiap kali mulai berdoa. Beberapa tahun kemudian kucing tersebut mati. Para biksu yang terbiasa melihat ada kucing yang diikat setiap kali hendak berdoa, memutuskan untuk mencari kucing yang baru untuk diikat. Para biksu dalam wihara ini melakukannya tanpa benar-benar memahami makna dan alasan dari tindakan yang dilakukannya. Mereka hanya sekedar mengikuti tradisi turun-temurun.

Situasi yang sama kita jumpai dalam bacaan di Injil Markus. Pada waktu itu, Tuhan Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum (ayat 6). Perbuatan para murid ini dianggap telah melanggar aturan sabat, sebab memetik bulir sama artinya dengan bekerja untuk menuai. Demikian juga ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah. Penyembuhan itu tidak dihayati sebagai mukjizat Allah, melainkan sebagai pelanggaran hari Sabat. Oleh sebab itu, orang-orang farisi mengkritik tindakan Tuhan Yesus dan para murid.

Sindiran dan kritik dari orang Farisi itu ditanggapi dengan 3 hal oleh Tuhan Yesus, yaitu:

  1. “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,”

Tuhan Yesus merespon kritik orang farisi itu dengan mengajak mereka memahami arti memegang hukum keagamaan melalui kisah pelanggaran Daud tentang hak keimaman. Pada waktu itu Daud sangat kelaparan dan memakan roti kudus yang bukan haknya. Dalam situasi itu, imam Ahimelekh mengijinkan tindakan tersebut karena prinsip kemanusiaan menjadi jiwa dari pemberlakuan hukum.

  1. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”

Peribahasa ini mengajak orang farisi untuk melihat makna sabat dalam kerangka kisah penciptaan. Jika dilihat dari urutan waktu, kita melihat bahwa manusa diciptakan lebih dulu baru menyusul sabat. Dari sini kita melihat bahwa sabat dijadikan untuk kebaikan manusia sebagai waktu yang disediakan Allah agar manusia beristirahat dan bersekutu dengan-Nya setelah 6 hari bekerja. Hakikat sabat inilah yang bergeser dan membuat muncul pemahaman bahwa manusia seolah-olah diciptakan untuk melayani hari sabat. Ketika manusia dikaitkan dengan pelayanan sabat, maka sebenarnya manusia sedang bekerja, yaitu untuk memperjuangkan pemberlakuan sabat agar umat tidak melakukan sesuatu di hari sabat. Hal ini termasuk dalam bekerja, yaitu bekerja melayani sabat.

  1. “Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

Melalui kisah sabat Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang berkuasa atas segala hukum yang ada, maka Ia adalah pemilik sabat. Dengan demikian sabat bukanlah waktu beristirahat yang pasif tetapi aktif yaitu dalam persekutuan yang memuliakan Allah. Manusia masuk dalam persekutuan yang akrab antara manusia dengan Allah dan sesamanya. Di titik inilah Yesus menunjukkan makna sabat yang kudus dan tidak membebani hidup manusia ketika dipahami dalam makna yang sesungguhnya. Makna hari sabat inilah yang hendak diingatkan kepada orang Farisi yang melakukannya hanya sebagai tradisi tanpa makna.

Pertanyaan bagi kita saat ini adalah tradisi dan rutinitas ritual apakah yang selama ini kita lakukan? Apakah ketika kita berdoa, melayani atau berbagi dengan orang lain, kita melakukannya dalam kesadaran kaitannya dengan terang Firman Allah? Apakah kita melakukannya dengan menyaadari makna dan alasan yang sebenarnya? Ataukah kita melakukannya hanya sebagai kewajiban dan tradisi yang harus dilakukan. Memahami makna dan alasan dari ekspresi penghayatan iman yang kita lakukan akan menolong kita untuk tidak melihatnya sebagai beban dan rutinitas ritual, melainkan sebagai anugerah kehidupan. Itu sebabnya penting bagi kita untuk berefleksi setiap kali melakukan berbagai bentuk ekspresi iman (berdoa, melayani, dsb), supaya kita tidak mudah lelah dan bosan ketika melakukannya.

                                                                             Pdt. DRS

Leave a comment