Matius 10:16-33
“Mari bergabunglah dengan kelompok saya... Kalo kamu mau bergabung, nanti kamu akan terima uang yang banyak, jalan-jalan ke luar negeri, tempat tinggal disiapkan! Pokoknya kenyamanan dijamin deh! Yuk ikut saya aja.”. Kalimat ini yang biasa dipakai untuk ‘merayu’ seseorang agar bergabung dengan kelompoknya. Kalimat yang penuh dengan janji yang menyenangkan dan menggiurkan secara duniawi.
Lain halnya yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya. Sejak awal Dia katakan, “lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16). Penggambaran domba dan serigala dengan sengaja dipilih untuk menyatakan beratnya konsekuensi yang harus diterima ketika seseorang bersedia menjadi pengikut-Nya. Ia tidak menawarkan tanda jasa, kenikmatan, kenaikan pangkat dan berbagai hal lain yang sesuai ambisi dunia. Ia justru menyatakan kesukaran dan kematian yang akan dialami oleh para pengikut-Nya.
Ada 3 kesulitan yang akan dihadapi oleh para pengikut-Nya, yaitu:
Mereka akan diperhadapkan kepada para penguasa dan raja yang meminta kesaksian atas tuduhan yang diajukan kepadanya. Mereka dituduh tidak bermoral karena menyebut pesta mingguan yang diadakan sebagai pesta kasih (agape). Tindakan mereka yang memperlakukan budak sama seperti majikannya dianggap telah mengganggu dasar kebudayaan Romawi. Hilangnya beberapa kegiatan dan perdagangan (seperti penjualan patung dewa-dewa), sehingga ada pihak-pihak yang menentang kekristenan.
Pada saat yang sama mereka takut dan tidak mampu untuk berkata-kata atau bersaksi. Mereka khawatir jika usaha mereka untuk membela tidak semakin menguatkan tetapi melemahkan kesaksian mereka.
Keluarga yang menuntut dan menganggap mereka ‘gila’ dan mengusir mereka dari rumah. Hal ini membuat kekristenan dianggap telah memecah belah keluarga.
Di tengah segala kesulitan yang akan dialami oleh para pengikut-Nya, Ia memberikan janji penyertaan-Nya:
Selama satu bulan ini kita telah mendengar banyak hal terkait dengan pemuridan. Mendengar tentu jauh lebih mudah daripada melakukannya. Maka minggu terakhir ini menjadi ‘gong’ yang mengingatkan kita untuk berkomitmen menjadi murid-Nya yang sejati di tengah segala kesulitan yang akan dihadapi. Pada bagian atas telah dipaparkan bahwa kesulitan bisa datang dari berbagai pihak di luar kita. Namun, tantangan dari dalam diri juga tidak kalah beratnya. Oleh sebab itu, sebelum memuridkan dan menceritakan tentang Tuhan, bukankah kita harus bertanya terlebih dulu, “apakah kita sungguh telah mengenal dan berjumpa dengan-Nya?”. Tanpa mendengar, bergaul dan bergumul bersama dengan Tuhan lebih dulu, kita akan kesulitan dalam menceritakan dengan terus terang tentang Firman yang telah kita terima kepada orang lain. Alamilah dulu perjumpaan dengan Sang Guru dalam seluruh aspek hidup kita. Yakin dan percayalah bahwa Ia yang memanggil kita menjadi murid, Ia yang juga mengutus kita untuk memuridkan, Ia juga yang akan terus memperlengkapi dan menjaga kita dalam menjalani misi itu.
Tetaplah menjadi murid yang tidak pernah merasa cukup dalam mengenal dan mengalami perjumpaan dengan Sang Guru. Teruslah berproses dan menunjukkan progress menjadi murid sejati kepunyaan-Nya.
DRS
Ikuti warta & renungan terkini melalui Pernias App.