(Yohanes 15:9-17)
Dunia yang kita huni ini sedang sekarat cinta kasih. Manusia semakin egois. Hidupnya mementingkan diri sendiri. Kita melihatnya setiap hari. Kompetisi terjadi di mana-mana; di jalan, di kantor, di mall, di pasar, di partai, bahkan juga di dalam kelurga dan gereja. Orang ingin menang dan berhasil sendiri; tidak peduli siapa yang kalah dan mati. Kasih yang tulus menjadi sangat langka. Orang bekerja hanya jika mendapat upah. Orang membantu hanya jika dilihat dan dipuji orang. Orang melayani hanya jika sesuai kesenangan. Demikianlah seterusnya...
Buruknya lagi, egoisme itu ditimpali pula dengan individualisme yang akut. Manusia semakin tertutup dan terkotak-kotak. Radikalisme mencuat atas nama agama. Para penganut agama saling menyerang, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Masyarakat juga semakin terpecah-belah, khususnya menjelang pilkada, pilpres dan pileg yang sudah menjelang. Golongan demi golongan saling menebar isu. Kebohongan (hoax) diumbar ke publik. Kebencian dikobarkan tanpa peduli efek panjangnya. Semua itu dilakukan untuk menjatuhkan dan merebut kekuasaan. Akibatnya, dunia kita makin tidak ramah dan manusia mudah berprasangka buruk terhadap orang-orang asing.
Pengajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:9-17 di atas memberikan kita paradigma yang sama sekali berbeda. Dalam ayat 9, Tuhan Yesus mengaku, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu...” Jika sikap manusia sangat egois dan individualistis, sikap Kristus justru terbuka dan penuh kemurahan hati. Apa yang diterima Kristus dari Bapa-Nya, tidak ditahan untuk diri-Nya sendiri, melainkan diteruskan-Nya kepada kita. Pengalaman-Nya yang indah bersama Bapa diungkapkan-Nya terus terang kepada manusia. Muatan, motivasi, dan cara Allah mengasihi dinyatakan-Nya agar kita pun mengalaminya secara penuh.
Salah satu buah nyata kasih Kristus kepada kita adalah pendamaian dan persahabatan kita dengan Allah. Di dalam Kristus, kita bukan lagi orang asing atau musuh, melainkan sahabat dan kekasih Allah. Kasih memang penuh kuasa. Kasih mampu memulihkan kehidupan manusia. Yang jauh menjadi dekat. Yang tercerai-berai berkumpul kembali. Bahkan, yang bermusuhan mampu berdamai dan bersahabat di dalam gerakan kasih Allah. Itulah yang terjadi pada kita. Kita yang dahulu jauh dan terpisah dari Allah, kini mendengar pengakuan Tuhan Yesus bahwa, “Kamu adalah sahabat-Ku” (ayat 14). Pengakuan sebagai Sahabat ini disertai dengan tanda-tanda yang patut kita syukuri dan teladani kepada semua orang:
Melalui bacaan ini, Tuhan Yesus secara terang-terangan mengundang semua orang untuk sungguh tinggal di dalam kasih-Nya. Ia rindu manusia mengalami persekutuan yang sempurna bersama Allah di dalam setiap doa, pujian, ibadah, pelayanan manusia kepada Allah. Tuhan Yesus juga rindu kasih-Nya mewarnai seluruh relasi kita dengan sesama, yakni bagaimana kita bergaul dan membangun komunitas kita masing-masing.
MM
Ikuti warta & renungan terkini melalui Pernias App.