Raja yang Menggembalakan

IMG-20201121-WA0003

Matius 25:31-46

Dalam Yohanes 10:11, 14, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Gembala yang baik yang memberikan nyawa bagi domba-domba dan mengenal domba-domba-Nya. Kemudian dalam Matius 25:31-32 dikatakan bahwa “apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya” yang berarti “hari penghakiman Tuhan” kepada semua bangsa, dan pada saat itu akan dipisahkan “seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing.” Pada hari penghakiman terakhir itu Yesus menyatakan diri sebagai Raja di atas segala raja yang menggembalakan dan pada saat itu juga setiap orang akan menerima upah sesuai dengan perbuatannya. Berkat bagi orang benar dan penghukuman bagi orang fasik.  Upah kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya (domba), yang diberkati, adalah Kerajaan yang telah disediakan…(ay. 34)  Kerajaan yang dimaksud oleh Matius dimengerti benar oleh orang-orang Yahudi, yaitu Kerajaan Sorga.  Pemerintahan Allah sebagai raja yang hendak dilaksanakan di sorga dan di bumi dimana orang percaya akan turut memerintah bersama-sama dengan Dia, hidup dalam kekekalan (ay. 46).  Upah kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya (kambing) adalah tempat siksaan yang kekal, tempat yang telah disediakan bagi iblis dan malaikat-malaikatnya (ay. 41).

Namun pertanyaannya yang perlu ditanyakan adalah “tindakan apa yang membedakan antara domba dan kambing ini sehingga domba mendapat berkat, sedangkan kambing mendapat penghukuman?” Tindakan yang berbeda tersebut adalah, domba menyatakan kasih kepada Tuhan lewat mengasihi sesama dengan nyata. Hal tersebut dinyatakan Yesus kepada para domba dalam ay. 34-36:

“Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

Mungkinkan Tuhan yang maha kuasa itu akan mengalami lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit, dan bahkan terpenjara?  Tetapi selanjutnya jawab Raja itu sungguh mengejutkan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah dari seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay.40).

Kepada kelompok kiri (kambing), Raja yang menggembalakan itu berkata dalam ayat 41-43:

“Enyahlah dari hadapan-Ku,  hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api  yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya . Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.”

Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? (ay. 44). Pertanyaan ini pun wajar ditanyakan oleh mereka.  Tetapi kita lihat apa yang dikatakan ayat 45: “Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”.  Jawaban yang sama diberikan oleh Raja itu.  Ukurannya tetap mengacu kepada Tuhan.  Secara sedikit berbeda Tuhan mengemukakan hal yang sama, yaitu kebajikan kepada semua orang, dan terutama kepada saudara-saudara kita seiman (Gal 6:10).  Mengapa ada pengulangan?  Pengulangan dengan cara yang sedikit berbeda ini menunjukkan adanya penekanan, adanya perhatian yang khusus, adanya keseriusan, adanya hal yang penting untuk diperhatikan.  Menaruh belas kasihan terhadap sesama, sama nilainya dengan menaruh belas kasihan terhadap Tuhan.  Mengasihi sesama, adalah wujud kasih kita kepada Tuhan. Jadi Yesus, sang Raja yang menggembalakan itu menghendaki kita sebagai domba-domba yang dikasihi-Nya untuk hidup mengasihi Dia dengan mengasihi sesama.

                                                                                                            WA

Leave a comment