Radikalisme

news-thumb1280

Filipi 3:1-12

Bahaya Radikalisme Agama! Merupakan kata-kata yang sering kita dengar dan baca dalam berbagai media sosial beberapa waktu belakangan. Hal ini disebabkan munculnya serangkaian peristiwa yang disinyalir merupakan dampak dari menyebarnya paham radikal dalam hidup beragama di tengah masyarakat. Radikalisme agama ini kemudian dinilai berbahaya karena berpotensi memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

Radikalisme berasal dari bahasa Latin, “radix, radicis”, yang berarti akar. Oleh karena itu, istilah radikal berbicara tentang sesuatu yang mendasar ‘mengakar’ dan bersifat prinsip. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai secara menyeluruh, habis-habisan, amat keras menuntut perubahan, dan maju dalam berpikir atau bertindak. Jika dilihat dari arti katanya, radikal tidak identik dengan kekerasan atau kelompok agama tertentu dan tidak selalu berarti negatif.

Radikal menjadi negatif ketika bersanding dengan kekerasan (menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan tertentu, misalnya: negara agama) yang gejala atau bentuknya terlihat dalam realitas sosial. Misalnya peristiwa yang terjadi di Ambon beberapa tahun yang lalu. Pdt. Joas Adiprasetya dalam tulisannya mengenai Martir, menuturkan hasil penelitian Sukidi Mulyadi, seorang intelektual Muslim Indonesia. Ia meneliti lagu “Laskar Kristen Maju” dalam studi perbandingan yang dilakukan antara Laskar Jihad dan Laskar Kristus di Ambon. Ternyata lagu tersebut disalahgunakan oleh prajurit-prajurit Laskar Kristus dan orang-orang Kristen secara umum untuk mendukung tindakan- tindakan kekerasan melawan Muslim di Ambon. Dalam perang salib yang berlangsung selama 2 abad antara Islam dan Kristen, juga terdapat radikalisme keagamaan yang bersanding dengan kekerasan. Sikap radikal menjadi berbahaya dan bersifat negatif ketika berujung pada terorisme, kekerasan dan intoleran terhadap mereka yang dipandang berbeda.

Apakah tidak ada sikap radikal yang positif? Ada! Hal ini yang diangkat oleh R. T. France dalam bukunya Yesus Sang Radikal. Letak ke-radikal- an Yesus terletak pada kecintaan-Nya kepada Allah yang diungkapkan melalui pemaknaan baru terhadap Taurat, kesetiaan-Nya, pengajaran-Nya mengenai cinta kasih dan upaya- Nya menghadirkan kerajaan Allah. Catatannya adalah itu semua dilakukan tanpa kekerasan melainkan dalam kasih yang berujung pada penderitaan bahkan kematian.

Jadi apakah kita boleh memiliki sikap radikal? Tergantung radikal seperti apa yang kita pahami. Ketika radikal dalam arti upaya mengikut Tuhan, kesediaan menahan nafsu/ keinginan diri sendiri (menyangkal diri), memikul salib dan mengikut Dia (menyelami pemikiran Allah), bukankah ini yang memang dituntut dari seorang pengikut Kristus? Seorang pengikut dipanggil untuk melakukan kehendak Allah dan menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah dunia dalam keutuhan hidup (bukan hanya di gereja). Ini sikap radikal yang bersifat positif karena menuntut ke dalam diri sebagai seorang pengikut Kristus. Lain halnya dengan radikal yang sifatnya memerangi, memusuhi, melukai dan melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka yang berbeda. Ini sangat bertolak belakang dengan panggilan Allah bagi kita.

Gregorius dari Nazianzus mendefinisikan martir sebagai sebutan bagi seseorang yang diperhadapkan antara kematian atau iman pada Kristus. Seorang martir adalah orang yang penuh ketaatan meniru Kristus dengan cinta kasih-Nya yang berujung pada penderitaan bahkan kematian. Maka martir bukan sebutan yang diberikan bagi seseorang yang mati karena melakukan kekerasan, perang dan bermusuhan dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Itu sebabnya dalam diri kita seharusnya selalu ada kerinduan untuk semakin mengenal dan meneladani Kristus dalam seluruh hidup kita. Seperti yang dirindukan oleh Rasul Paulus dan dituliskan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” (Flp 3:10). Jadilah Kristen yang radikal dengan meneladani Yesus Sang Radikal, tanpa kekerasan.

DRS

 

Leave a comment