Pewarta yang Memulihkan

news-thumb1280

Yes 61: 1-4, 8-11; Mzm 126; 1 Tes 5: 16-24; Yoh 1: 6-8, 19-28

Jemaat yang terkasih, Minggu Adven III kita akan menggunakan warna liturgi yang berbeda dari Minggu Adven lainnya. Jika biasanya di Minggu Adven kita memakai warna ungu, khusus minggu ini kita akan memakai warna merah jambu. Warna merah jambu melambangkan sukacita (Gaudete) yang dirasakan umat karena sebentar lagi, Sang Raja Damai itu berinkarnasi menjadi seorang manusia. Bukan hanya sukacita, di Minggu Adven III ini kita akan menghayati harapan bagi umat manusia setelah sekian lama berada dalam kungkungan dosa. Maka, hendaknya kita pun sebagai umat Tuhan pada minggu ini merenungkan cara untuk menjadi pewarta kabar baik yang akan kita terima kepada sesama kita. Juruselamat dunia akan segera datang!

Pewarta adalah figur yang sangat penting ketika suatu peristiwa besar akan datang. Seorang pewarta akan menyiarkan berita penting mengenai peristiwa yang akan datang itu. Dalam teks minggu ini, kita akan memusatkan penghayatan pada Yohanes Pembaptis sebagai pewarta yang memulihkan sebelum Yesus lahir di dunia.

Yohanes Pembaptis adalah anak dari Elisabet dan Zakharia, yang berasal dari keturunan Harun. Ia merupakan anak yang dijanjikan oleh Allah melalui malaikat Gabriel yang mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis akan berjalan mendahului Allah dalam roh dan kuasa Elia untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan (Luk 1: 17). Akan tetapi, sewaktu ia ditanya oleh para imam dan orang-orang Lewi mengenai siapakah dirinya, Yohanes menjawab, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” Ia mengakui dengan jujur bahwa dirinya bukanlah Sang Mesias itu, ataupun nabi yang akan datang (Yoh 1: 20-21). Bahkan, ia tidak mengutamakan dirinya, yang adalah seseorang dengan kuasa roh Elia, ketika orang-orang bertanya kepadanya apakah ia Elia atau bukan. Ia tidak menjelaskan dirinya lebih lanjut dengan maksud agar orang-orang tidak berfokus kepada dirinya, karena ia hanyalah saksi Allah.

Demikian pula dengan perkataan Yesaya dalam Yesaya 61: 1-4, bahwa ia pun menegaskan bahwa dirinya adalah utusan Allah, bukan Allah sendiri, yang ditugaskan untuk menyampaikan kabar baik pada orang-orang sengsara, merawat orang-orang yang remuk hati, dan memberitakan pembebasan kepada orang-orang yang tertawan. Inilah sikap yang benar dari seorang saksi Allah, yakni ketika hatinya difokuskan kepada Allah, dan bukan dirinya. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesaya, keduanya memiliki sikap hati yang benar, dan oleh karena itu pantas menjadi pewarta Allah.

Jemaat yang terkasih, mari kita belajar untuk memiliki sikap hati sebagai seorang pewarta yang benar, yang murni dan hanya memberitakan karya Allah bagi kehidupan manusia. Hal ini perlu disadari, sebab banyak orang yang terjebak dalam egonya masing-masing ketika bersaksi tentang Allah. Penolakan, ketidakpercayaan, dan ketidakpedulian orang- orang yang mendengar kesaksian kita seringkali justru membuat fokus kita beralih dari mewartakan kabar baik dari Allah kepada usaha untuk membuktikan bahwa diri kita yang benar. Sedangkan mereka yang tidak percaya adalah orang yang pantas untuk dimusuhi. Inilah kenyataan dunia sekarang ini, dimana orang-orang yang salah fokus ini menjadi kelompok-kelompok radikal yang tidak dapat melihat keberagaman serta perbedaan yang dimiliki orang lain. Kita pun sangat mungkin menjadi orang menyebarkan sakit hati dan kebencian ketika kita memusatkan perhatian pada ego kita dan bukan kabar tentang Allah.

Seperti yang dikatakan dalam 1 Tesalonika 5: 16-24, bahwa hendaknya orang-orang yang bersedia menjadi pewarta kabar dari Tuhan selalu bersukacita, tekun berdoa, dan senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. Karena, itulah yang membuat kita menjadi para pewarta yang memulihkan. Pemulihan dapat terjadi kepada orang-orang di sekitar kita dan dalam berbagai hal, misalnya pemulihan dalam relasi, pola pikir, iman, pikiran, dan perbuatan mereka.

Kabar Baik itu sudah datang dan akan kita peringati kedatangan-Nya di minggu yang akan datang. Namun, pertanyaannya, kapankah kita akan memberikan diri kita untuk menjadi pewarta yang memulihkan? Kiranya Tuhan senantiasa menuntun kita, Tuhan memberkati.

DRS

Leave a comment