Pertobatan yang Proaktif

news-thumb1280

2 Petrus 3:8-15 & Markus 1:1-8

Seorang perempuan tanpa sadar memacu mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam, di daerah yang memiliki batas kecepatan berkendara 60 km/jam. Hal ini membuat polisi yang berjaga segera mengejar, menyuruhnya menepi dan mewajibkan perempuan itu untuk mengikuti persidangan. Di ruang sidang, hakim menyatakan bahwa ia bersalah dan wajib membayar denda Rp 500.000 atau dipenjara selama beberapa waktu. Ketika mendengar keputusan tersebut, perempuan itu berkata, “Saya mengaku dan menyadari kesalahan saya. Tetapi, saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Saya tidak bisa membayarnya.”. Hakim itu menjawab, “Jika kamu tidak membayar, maka kamu harus masuk penjara.”. Perempuan itu memohon, “tolong ampuni saya, saya benar-benar tidak punya uang.”. Hakim dengan tegas berkata, “saya tidak bisa mengubah hukum. Hukum itu berkata kamu harus membayar Rp 500.000 atau kamu harus masuk penjara. Saya tidak bisa mengubah aturan itu!”. “Tolong pak, saya tidak mau dipenjara. Tolong saya pak…”, perempuan itu mulai menangis. Hakim itu menatapnya, mendorong kursinya, membuka jubahnya dan meletakannya. Dia keluar ke samping ruangan, mengambil jaketnya, dan berjalan menuju ke tempat perempuan itu duduk. Ia mengeluarkan uang Rp 500.000 dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja pengadilan. Lalu ia melepaskan jaket, mengenakan kembali jubahnya dan duduk di meja hakim. Kemudian ia berkata, “Kamu telah bersalah karena melanggar batas kecepatan dan kamu harus membayar dendanya. Wah, saya lihat seseorang telah membayar dendamu! Kamu boleh pulang sekarang.”.

Membaca kisah ini tentu akan membuat kita kagum terhadap sikap hakim yang penuh dengan belas kasih. Akan tetapi, apa yang akan kita rasakan seandainya perempuan yang sudah diampuni itu justru mengulang pelanggaran yang sama atau bahkan melakukan kesalahan yang lebih berat di lain kesempatan? Bisa saja kita merasa kesal, sebal dan marah karena seolah-olah perempuan itu tidak menghargai pengampunan yang telah diberikan oleh hakim dan belajar dari kesalahannya. Atau bisa juga kita mulai menyalahkan tindakan hakim yang telah memberikan pengampunan kepadanya. Demikian juga ketika kita telah menerima anugerah keselamatan dari Allah, apakah kita telah hidup sebagai orang yang telah diselamatkan atau justru menganggap remeh keselamatan itu? Minggu lalu baru saja dilayankan baptisan anak dan dewasa di tengah-tengah jemaat kita.

Hal ini sejalan dengan seruan Yohanes Pembaptis yang berkata, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah
akan mengampuni dosamu.”. Ketika dibaptis kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus serta memperoleh keselamatan sebagai anugerah dari Allah. Akan tetapi, perjalanan seorang Kristen tidak berhenti sampai di situ. Rasul Paulus melalui suratnya kepada jemaat Filipi mengingatkan untuk tetap aktif mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Flp 2:12).

Mengapa tetap harus mengerjakan keselamatan tersebut? Supaya anugerah keselamatan yang telah kita terima tidak menjadi anugerah yang murah – cheap grace. Seorang teolog Jerman bernama Dietrich Bonhoeffer melihat kehidupan orang Kristen yang memperlakukan keselamatan Allah dengan tidak bertanggungjawab. Dalam bukunya yang berjudul, The Cost of Discipleship, ia menuliskan: dalam anugerah yang murah, berita pengampunan dosa tidak diikuti dengan pertobatan, kesediaan diri untuk dibaptis tanpa menghayati disiplin rohani, hidup bersekutu tanpa pengakuan percaya. Anugerah murah pada prinsipnya mengabaikan tugas pemuridan, meniadakan panggilan dan kesediaan memikul salib, penyangkalan diri, bersukacita dengan anugerah Allah tetapi tanpa relasi dengan Kristus.

Oleh sebab itu, pada minggu Adven ke-2, kita diingatkan sebagai orang yang telah mengaku percaya untuk menghayati pembaruan hidup berupa pertobatan yang proaktif dalam menyambut anugerah keselamatan dalam karya penebusan Kristus. Anugerah keselamatan yang diberikan Allah bagi kita, adalah anugerah terbesar yang tidak dapat dipandang rendah dan dianggap murahan. 2 Petrus 3:9-11 berkata, ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.”. Hiduplah sebagai orang yang telah memperoleh anugerah keselamatan selama Tuhan masih memberi kita kesempatan. Jangan hidup lagi sama seperti orang yang belum mengenal Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

DRS

Leave a comment