Pertobatan & Pengampunan: Bukan Cuma Wacana

WhatsApp Image 2021-04-17 at 15.13.10 (1)

Lukas 24:36-48

“Udah lama nih saya nggak ke gereja. Sepanjang tahun 2021 baru sekarang nih saya datang ke gereja lagi. Sekarang semuanya serba virtual. Kasih pelatihan aja pake zoom terus, capek matanya. Memang paling enak mah ketemu secara fisik. Mau gimanapun keliatan mukanya segala macem, tetap lebih enakan ketemu langsung.”, demikian ungkapan seorang anggota jemaat beberapa waktu yang lalu. Ungkapan ini menandakan kerinduan kita semua. Pandemi telah membuat sebagian besar perjumpaan kita menjadi perjumpaan di dunia maya. Dengan kecanggihan teknologi, kita memang tetap dapat mendengar suara dan melihat gambar yang bergerak. Tetapi, tetap ada yang terasa kosong di dalam hati. Perjumpaan secara fisik, ketika kita dapat menyentuh, menatap dan menyapa dengan suara langsung tidak dapat tergantikan oleh apapun. Kita rindu dan membutuhkan perjumpaan dan interaksi yang nyata.

Tuhan Yesus menyadari bahwa para murid juga membutuhkan untuk mengetahui kehadiran-Nya secara fisik. Ia menunjukkan luka bekas penyaliban-Nya di kaki dan tangan-Nya. Ia juga berkata, “rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya”. Tetapi, para murid masih belum percaya dan terheran-heran. Lalu apa yang Yesus lakukan? Ia tidak menggunakan cara yang rumit dan berbelit-belit bahwa Ia bangkit dengan tubuh yang nyata dan sekarang ada di hadapan para murid. Dengan cara sederhana Ia menunjukkannya. Ia meminta sepotong ikan goreng dan memakannya di hadapan mereka.

Para murid kemudian menyadari bahwa sosok di hadapan mereka adalah Yesus yang telah bangkit dan secara nyata ada dihadapannya. Tuhan Yesus kemudian menyampaikan tugas perutusan para murid untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan. Mereka tidak hanya menerima berita Paskah, tetapi mereka juga harus membawa berita pertobatan dan pengampunan itu sebagai saksi Paskah. Dengan demikian, bukan hanya para murid yang memiliki tugas. Kita semua juga memiliki tugas yang sama. Kita telah menerima berita Paskah, maka kita diajak untuk mengalami pertobatan dan pengampunan yang sungguh nyata. Seperti apa pertobatan dan pengampunan yang nyata itu? Kata kuncinya adalah perubahan. Perubahan dalam cara berpikir, sikap dan perilaku kita. Salah satu contoh pertobatan dan pengampunan dosa yang nyata dapat kita lihat dalam sosok Petrus. Ia yang telah menyangkal Yesus sampai 3 (tiga) kali, berubah menjadi seorang yang berani berkotbah di Serambi Salomo. Dia memberitakan tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Perubahan yang nyata seperti ini diharapkan terjadi dalam hidup kita.

Mulailah dengan melakukan introspeksi diri. Melihat dan mengakui dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Bukan secara umum ya, tetapi secara rinci akui, sesali setiap dosa dan kesalahan itu dihadapan-Nya. Datanglah dengan hati yang hancur, bertobatlah, kembali pada jalan Tuhan dan menerima pengampunan dari-Nya. Ia selalu menantikan kedatangan kita. Ia tidak membuang orang yang berdosa, melainkan Ia merangkul kita untuk bertobat dan menerima pengampunan-Nya. Inilah berita yang gereja terus beritakan, pertobatan dan pengampunan Allah. Gereja bukan tempat orang suci, melainkan orang berdosa yang sadar akan dosanya, datang kepada Tuhan, bertobat dan menerima pengampunan dari Tuhan serta mengalami perubahan hidup.

Kebangkitan Yesus menegaskan kekuasaan Allah atas hidup dan mati, Allah pun sanggup menolong kita untuk bangkit dari kelemahan-kelemahan kita. Memulai hidup yang baru dalam kasih karunia Allah. Datanglah kepada-Nya, serahkanlah dirimu, keluarlah dari zona nyaman kebiasaan yang selama ini kita lakukan. Pikullah salib dan mengikuti Dia. Pada saat itulah pertobatan dan pengampunan bukan cuma sekedar wacana, tetapi hadir secara nyata.

Leave a comment