Persekutuan Kasih Bersama Allah

news-thumb1280

(Lukas 3:15-17,21-22)

Banyak orang menjadi Kristen karena faktor alamiah, artinya mengikuti agama dan kebiasaan orangtua sejak dari kecil. Mereka menjadi Kristen karena pilihan orangtua. Mereka berdoa dan bergaya mengikuti kebiasaan keluarga. Repotnya, pilihan orangtua ini tidak berkembang menjadi pilihan diri sendiri. Kebiasaan alamiah ini tidak bertumbuh ke arah rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Alhasil, relasi dengan Tuhan terjalin secara dangkal dan pengenalan akan Tuhan tidak berdasar kuat.

Salah satu indikasi kenyataan di atas adalah maraknya sikap dan relasi ekonomis terhadap Tuhan. Ekonomis dalam arti suka hitung untung-rugi. Mereka terus bertanya: “Apa yang saya dapatkan dengan mengikut Yesus dan menjadi Kristen?” Mereka hanya ingin diberkati. Mereka berharap persembahan mereka akan kembali ratusan kali lipat. Mereka senang didoakan pendeta, karena dirasa lebih manjur daripada doa orang lain. Pendeta dianggap memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan melebihi hubungan dirinya dengan Tuhan. Kesadaran seperti ini tidak ada ubahnya dengan relasi bisnis yang semata mengejar kepentingan manusia.

Bacaan firman di atas mengajak kita melihat suatu hubungan dengan landasan yang mulia, yang tidak didasarkan pada hitungan untung-rugi. Ayat 15- 17 menceritakan sosok Yohanes Pembaptis. Pengajaran, gaya hidup dan keberaniannya sangat memukau banyak orang. Gayanya sederhana. Ajarannya tajam sekaligus menyegarkan. Hal itu mendorong orang banyak untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Orang banyak bahkan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan untuk memulai hidup yang baru sebagai tanda pertobatan?” Mereka sadar bahwa Tuhan berkenan kepada pertobatan hati melebihi persembahan rutin sehari-hari.

Rasa kagum telah membuat orang banyak “bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias”. Akan tetapi, pengakuan dan pertanyaan itu segera ditepis oleh Yohanes: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripadaku akan datang”. Yohanes mengaku bahwa dirinya bukan Mesias. Mesias lebih berkuasa dari dirinya. Membuka tali kasut-Nya pun Yohanes merasa tidak layak. Jika Yohanes membaptis dengan air, Mesias akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api.

Yohanes memperlihatkan kepada kita suatu sikap yang mulia. Di atas ketenarannya, ia tidak lupa diri. Ia tahu dirinya hanya pembuka jalan bagi kedatangan Mesias. Ia menjalankan peran itu dengan segenap hati, penuh kasih dan setia. Ia tidak terpikat pujian dan kemuliaan. Ia tidak mengejar harta kekayaan. Ia tidak minta jabatan dan kekuasaan. Ia hanya ingin tetap di jalan Tuhan. Ia bahagia dengan persekutuan dan pelayanannya dalam Tuhan. Sikap inilah yang barangkali membuat Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11).

Bagian kedua bacaan kita lebih lanjut memperlihatkan indahnya persekutuan kasih antara Tuhan Yesus dan Yohanes. Saat bertemu di sungai Yordan, mereka saling merendahkan diri. Yesus, Sang Mesias, merendahkan diri untuk dibaptis oleh Yohanes. Sementara, Yohanes merasa dirinyalah yang seharusnya dibaptis Yesus. Ikatan kasih keduanya menggerakkan mereka untuk saling menghargai dan mengasihi. Mereka sama sekali tidak berniat untuk bersaing dan bertanding. Mereka hidup dalam persekutuan kasih di dalam Allah. Allah berkenan atas persekutuan kasih mereka, yang ditandai dengan penyataan diri-Nya atas mereka. Bapa mengakui kemesiasan Yesus. Pada waktu yang sama, pelayanan Yohanes dinyatakan telah genap, sebab Mesias yang sejati telah tampil. Baptisan yang terima Yesus dari Yohanes menjadi penanda dimulainya karya penyelamatan Yesus Kristus atas dunia.

Sharing Baca Gali Alkitab (BGA)

1. Jika memperhatikan ayat 15-16, Yohanes nampaknya sama sekali tidak tertarik dengan pujian, kekuasaan dan kemuliaan. Apa yang membuatnya bersikap demikian?

2. Pekerjaan apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Mesias, yang tidak dapat dilakukan oleh Yohanes Pembaptis? (perhatikan ayat 17)

3. Mengapa Tuhan Yesus yang mahakudus mau datang dan meminta dibaptis oleh Yohanes? (perhatikan ayat 21)

4. Mengapa pengakuan Allah Bapa atas kemesiasan Tuhan Yesus dilakukan pada awal pelayanan Tuhan Yesus, bukan di akhir pelayanan-Nya?

5. Belajar dari sikap Tuhan Yesus dan Yohanes, sikap seperti apa yang perlu kita miliki dalam rangka membangun persekutuan kasih di keluarga dan gereja kita?

MM

Leave a comment