PERJUMPAAN YANG MEMULIHKAN

news-thumb1280

(Kisah Para Rasul 9:1-20, Mazmur 30, Wahyu 5:11-14, Yohanes 21:1-19)

Kesalahan-kesalahan di masa lalu yang kita lakukan membawa luka pada orang lain dan membawa rasa bersalah serta penyesalan dalam diri kita sendiri. Kesalahan-kesalahan tersebut mengurung dan menenggelamkan diri kita, membuat kita terpuruk karena kadang tidak ada jalan keluar dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu banyak orang lari dan mencoba untuk bersembunyi, menghindar dari kesalahannya di masa lalu dengan mencoba pergi ke tempat di mana orang tidak lagi mengenal dirinya dan masa lalunya, mencoba untuk memulai hidup yang baru. Tetapi apakah benar dengan pergi dan melarikan diri kita dapat menghapus masa lalu kita dan memulihkan diri kita? Tidak, dengan pergi dan melarikan diri, kita hanya mencoba untuk melupakan dan menyimpan dalam-dalam masa lalu kita, tetapi beban masa lalu itu sendiri tidak akan pernah benar-benar hilang dari diri kita. Rasa bersalah akan membuat kita melakukan banyak kesalahan lainnya dalam hidup kita. Pergi dan lari tidak akan memulihkan kita.

Jika demikian, bagaimana kita dapat dipulihkan dari kesalahan dan luka-luka masa lalu kita? Petrus dan Paulus adalah orang-orang yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan fatal yang sangat menyakitkan bagi banyak orang dan membawa rasa bersalah yang mendalam pada diri mereka secara pribadi. Tetapi mereka tidak terus hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan, cara mereka memandang diri dan tindakan mereka selanjutnya, menunjukkan bahwa hidup mereka telah dipulihkan. apa yang terjadi dengan mereka? Bagaimana mereka bisa mengalami pemulihan? Dalam bacaan kita Minggu ini, kita melihat hal yang sama terjadi pada Petrus dan Paulus, yaitu bahwa mereka sama-sama mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit dari antara orang mati. Bagaimana perjumpaan itu membawa pemulihan pada mereka?

Perjumpaan Petrus dengan Tuhan Yesus yang bangkit membawa dan memperhadapkan Perus pada rasa tidak layak, bagaimana mungkin, ia yang berjanji akan tetap ada bersama-sama dengan Tuhan Yesus, pun jika semua murid yang lain meninggalkan Dia, tetapi justru ia sendiri malah menyangkali bahwa ia mengenal Yesus. Rasa bersalah membawa rasa malu dan membuatnya merasa tidak layak untuk berhadapan dengan Tuhan Yesus. Tetapi Kristus yang bangkit itu justru mendekatkan diri-Nya pada Petrus, bahkan Ia mengambil waktu khusus untuk bercakap-cakap berdua dengan Petrus. Tuhan Yesus tidak mengejek Petrus atau merendahkan dia karena semua kesalahannya dan penyangkalannya. Tuhan justru mengajak Petrus untuk kembali melihat kedalaman diri dan hatinya, adakah ia mengasihi Tuhan? Tuhan memberi penegasan, bahwa setelah semua kesalahan yang Petrus lakukan, kasih-Nya kepada Petrus tidak berubah, Ia telah mengampuni semua kesalahannya. Petrus diberi kesempatan untuk menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan Tuhan bersedia menerimanya secara utuh, dengan semua yang telah dilakukannya. Perjumpaan Petrus dengan Yesus yang bangkit meremukkan hatinya, tetapi kemudian Ia memulihkan keadaannya. Demikian juga ketika Paulus berjumpa dengan Tuhan Yesus. Dalam perjumpaan Paulus dengan Tuhan Yesus, Tuhan memperhadapkannya pada kesalahan yang dilakukan, tetapi bukan untuk mempersalahkan dan menghukum dia, melainkan untuk menegaskan siapa diri- Nya dan betapa besar anugerah-Nya kepada Paulus. Dia yang melakukan kesalahan dengan menganiaya Tuhan, justru dipanggil untuk memberitakan Tuhan lewat hidupnya.

Jangan biarkan kesalahan-kesalahan masa lalu kita membuat kita takut, lalu lari dan sembunyi dari Tuhan. Pengampunan dan anugerah disediakan Tuhan bagi setiap kita yang bersedia menerima anugerah-Nya. Jangan sembunyikan diri karena kesalahan yang kita lakukan. Sadarilah kesalahan itu, akuilah, terimalah anugerah dari Tuhan. Tuhan Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, menyediakan pengampunan dengan limpahnya. Ia berkenan memulihkan dan memperbarui setiap orang yang mau mengasihi Dia. Pertanyaannya: Apakah kita mengasihi Dia?

LN

Leave a comment