Percayalah

IMG-20200808-WA0006

(Matius 14:22-33)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “percaya” artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar ada atau nyata, atau yakin benar akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dan sebagainya). Rasa percaya mendorong orang untuk yakin bahwa objek yang dipercaya benar-benar ada dan kemampuannya dapat diandalkan. Jika kita percaya pada Kristus, kita yakin Dia ada dan kuasa-Nya dapat diandalkan, sehingga kita selalu fokus kepada-Nya.

Hakikat iman percaya sangat penting di tengah dunia yang sulit percaya dan yang tidak bisa dipercaya ini. Pasalnya, kita hidup di antara banyak orang yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, tidak lagi berdoa atau beribadah kepada-Nya. Sebagian kecewa pada Tuhan, lalu meninggalkan Dia; sebagian lagi sudah atheis sejak lahir bersama orangtua mereka. Selain itu, realita hidup kita makin penuh dengan pergumulan, apalagi di zaman pandemi ini. Beban pikiran makin banyak. Tekanan batin makin berat. Kita bisa stress dan dilanda ketakutan. Semakin stress, fokus kita pada Tuhan makin kabur. Makin takut, diri kita makin ‘lumpuh’: lumpuh ingatan karena tidak tahu harus berbuat apa, atau lumpuh tenaga karena tidak berdaya berbuat apa-apa.

Injil di atas menceritakan para murid yang sedang berlayar di danau Galilea. Kala itu malam hari. Tiba-tiba perahu mereka diterpa angin sakal. Ini jenis angin yang berhembus tak beraturan. Itu sebabnya, perahu mereka sulit dikendalikan. Ini sangat berbahaya. Perahu bisa terbalik. Meski beberapa dari mereka adalah nelayan, mereka tetap kewalahan dan ketakutan. Semakin ketakutan, mereka makin tidak berdaya untuk mengatasi situasi.

Tiba-tiba, Tuhan Yesus menghampiri mereka. Ia berjalan di atas air danau itu, lalu berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay 27). Lewat kata-kata ini, Ia menegaskan bahwa Ia ada di sana untuk mereka. Dialah berkuasa atas alam. Kuasa-Nya layak diandalkan. Namun, sayangnya, para murid malah menduga Dia sebagai hantu. Mereka berteriak: “Itu hantu” (ay 26). Pikiran mereka sudah kepalang takut dan buntu, sehingga mereka sulit percaya kepada kemahakuasaan dan kemahahadiran Tuhan.

Petrus berusaha membangun kembali kepercayaannya. Ia meminta, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (ay 28). Tuhan pun mengijinkannya. Setelah langkah pertama, Petrus makin yakin bahwa itu adalah Tuhan Yesus. Ia coba lagi langkah kedua dan seterusnya. Ketika hembusan angin muncul lagi, Petrus hilang fokus. Ia lost contact dengan Tuhan dan jatuh tenggelam. Bersyukur, Tuhan Yesus meraih tangannya. Ia pun selamat.

Saudara, setiap kita tentu memiliki rasa takut tersendiri. Ada yang takut keluar rumah, ke pasar, ke mall atau takut keramaian. Ada yang takut di-PHK, usaha gagal atau usaha bangkrut. Ada yang takut terpapar Covid-19, takut mati dan lain sebagainya. Lalu, apa katakutan Saudara dan seberapa besar Saudara takut pada hal itu? Persoalannya, semakin besar ketakutan kita, semakin hebat siksaan hidup kita. Semakin kita takut ke pasar, semakin kita ogah belanja, semakin kita sulit masak dan semakin kita kelaparan. Semakin kita takut PHK, semakin kita panik, semakin kita tidak fokus bekerja, semakin kita curiga satu sama lain, semakin cepat kita di-PHK. Semakin kita takut sakit, semakin kita mengurung diri, semakin kita terisolasi. Jika berkelanjutan, kita benar-benar menjadi tidak berdaya dan tersiksa.

Melalui refleksi firman di atas, kita diajak untuk percaya kepada Tuhan Yesus, bukan dunia atau diri kita sendiri. Kita harus fokus kepada Tuhan, bukan kepada badai dan gelombang hidup ini. Kepada Dia saja kita bersandar dan berserah. Dan, kepercayaan kita itu harus ditunjukkan. Bagaimana caranya:

  1. Tunjukkan melalui pengakuan Saudara. Katakan dalam doa-doa Saudara bahwa Saudara percaya kepada-Nya. Undang Dia terlibat di dalam pergumulan Saudara. Juga, nyatakan pengakuan Saudara di hadapan orang lain. Jangan malu jadi pengikut Tuhan Yesus. Tegaskan pada semua bahwa kita tidak berjuang sendirian, sebab Tuhan beserta kita.
  2. Tunjukkan dengan keluar dari ketakutan-ketakutan Saudara. Takut berlebihan membuat orang tidak berhikmat. Orang berhikmat tahu kapan harus berdiam dan kapan harus bergerak, tetapi penakut hanya tahu bagaimana bersembunyi. Orang berhikmat tahu kapan harus bekerja dan kapan harus di rumah saja, tetapi pecundang hanya bisa melamun dan memikirkan ancaman-bahaya. Jadi keluarlah dari ketakutan Saudara. Tunjukkan bahwa Saudara berhikmat dan berani.
  3. Tunjukkan dengan perbuatan-pekerjaan yang baik. Teruslah lakukan tugas dan peran hidup Saudara dengan baik. Lakukan dengan tenang dan sabar. Jangan panik, apalagi Hindari membuat lelucon yang tak berarti untuk mendapatkan perhatian. Jika harus bekerja, bekerjalah. Jika harus membuka usaha, berusahalah dengan bijaksana. Selebihnya, biarkan Tuhan yang memberkati dan menjaga.

 

MM

Leave a comment