PENTAKOSTA: ROH KUDUS MENYAPA BANGSA-BANGSA

news-thumb1280

Kisah Para Rasul 2:1-21

Pada Minggu ini, gereja di seluruh dunia memperingati dan merayakan peristiwa Pentakosta. Pentakosta dirayakan sebagai peristiwa turunnya Roh Kudus atas diri para murid, tepat lima puluh hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Hari turunnya Roh Kudus ini juga sekaligus dirayakan sebagai hari lahirnya gereja, sebab sejak saat itu para murid terus-menerus berkumpul danbersatu menjadi satu kesatuan tubuh Kristus di dunia.

Minggu lalu kita merenungkan doa Tuhan Yesus bagi para murid-Nya. Tuhan Yesus berdoa agar para murid dipelihara oleh Bapa selama berada di dunia ini. Ia juga berdoa agar murid-muri-Nya  dilindungi dari yang jahat, sebab tantangan hidup yang mereka hadapi kelak akan sangat hebat. Pada Minggu ini, kita melihat bagaimana doa itu menjadi kenyataan. Pemeliharaan dan perlindungan Allah terjadi bagi para murid: Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya atas mereka. Ketika mereka sedang berkumpul di suatu rumah, “tiba-tiba turunlah dari langit tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah itu” (ayat 2). Roh Kudus hadir dalam rupa “lidah-lidah seperti  nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (ayat 3). Setiap murid dihinggapi dan penuh Roh Kudus. Hati mereka meluap dengan sukacita dan iman mereka makin teguh kepada Tuhan Yesus Kristus.

Hebatnya bunyi guruh itu sengaja dibuat Roh Kudus, sehingga mengundang perhatian banyak orang. Orang-orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa datang berkerumun. Jumlah mereka sangat banyak. Mereka semua penasaran  atas apa yang terjadi. Mereka melihat para rasul dengan tingkah yang tidak biasa. Banyak orang tercengang keheranan. Sebagian lain termangu-mangu merasa takjub. Tetapi, ada juga yang menuduh mereka sedang mabuk oleh anggur manis.

Hal mencolok pada para rasul ialah bahasa yang mereka pakai. Para murid, walaupun semuanya orang Galilea, setidaknya telah memakai bahasa dari 15 negeri asing. Orang banyak mengakuinya, sebab mereka masing-masing memahami bahasa murid-murid tersebut. Mereka bukan hanya memahami bahasa baru itu, tetapi juga memahami pesan yang diucapkan para rasul. Dalam keheranan mereka berkata, “…kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (ayat 11).

Fenomena para murid berbahasa asing ini ternyata bertujuan agar semua orang mendengar dan menyadari perbuatan-perbuatan Allah yang besar. Secara terbuka, Allah ingin menyapa bangsa-bangsa lain melalui para murid. Allah hendak menegaskan betapa Ia memikirkan semua bangsa. Ia ingin semua bangsa menyadari perbuatan-Nya yang besar, yakni untuk menebus, memulihkan dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah kita bukan sosok yang eksklusif. Ia terbuka kepada siapapun, sehingga kelak juga mengalami kepenuhan di dalam kasih dan kuasa Roh Kudus.

Melalui peristiwa Pentakosta, Allah bekerja ganda. Dari dalam, Allah mendorong para murid untuk menemui bangsa-bangsa lain dan berbicara kepada mereka. Sejak awal, Allah sudah memilih dan meneguhkan kita sebagai saksi-Nya bagi bangsa-bangsa. Ia tidak ingin kita terus bersembunyi. Ia tidak ingin kita berdiam diri. Ia ingin kita keluar, menghadapi orang asing dan menyatakan kasih dan firman Allah kepada mereka. Sementara itu, dari luar, Allah memanggil dan mengundang orang banyak untuk berkumpul bersama para murid dan mendengarkan kesaksian mereka. Dengan cara ini, karya keselamatan dalam Allah semakin nyata bagi banyak orang.

Melihat situasi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, dengan banyaknya aksi kejahatan oleh para pelaku teror, amat penting bagi kita menyadari peran dan tugas kita sebagai murid-murid Yesus Kristus. Di dalam pimpinan Roh Kudus, kita tidak usah takut. Kita hanya perlu waspada, bukan panik atau gentar. Lebih dari itu, mari semakin berani menyuarakan keadilan dan kebenaran. Tegaskan bahwa Tuhan menghormati dan menghargai nilai kemanusiaan, apapun suku, bangsa dan budayanya. Tuhan tidak menghendaki adanya peperangan dan pembunuhan, apalagi sebab alasan perbedaan suku, bangsa dan agama. Agama dan keyakinan dalam Tuhan seharusnya membawa manusia kepada kepenuhan Allah, yakni hidup dalam kasih dan sukacita Roh Kudus. Kita rindu agar Firman Allah melalui Petrus menjadi kenyataan, yakni “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (ayat 21). Tuhan kiranya selalu memberkati kesaksian kita. Amin.

                                                                             Pdt. MM

Leave a comment