PENGUASAAN DIRI DI TENGAH PUJIAN DAN PENOLAKAN

IMG-20210330-WA0007

(Yesaya 50:4-9, Mazmur 31:10-17, Filipi 2:5-11, Markus 14:1-20)

Dalam Minggu Prapaskah keenam, kita diajak untuk mengingat dua peristiwa yang dialami Kristus Yesus, yang menunjukkan kepada kita sebuah realita kehidupan yang bersifat paradoks. Minggu Prapaskah keenam ini disebut dengan dua nama, yang pertama adalah Minggu Palem, dalam Minggu Palem, umat diajak untuk mengingat peristiwa ketika Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem, bagaimana Ia disambut dengan gegap gempita, dengan seruan pujian, lambaian daun-daun palem dan hamparan jubah di jalan yang dilalui-Nya. Nama kedua dari Minggu Prapaskah keenam adalah Minggu Sengsara, karena dalam Minggu ini umat akan diajak untuk mengingat bagaimana Tuhan Yesus meniti jalan penderitaan, bagaimana Ia dihianati oleh murid-Nya, disangkali dan ditinggalkan, ditangkap, diadili dengan tidak adil, disiksa dan mati disalibkan. Kristus yang ketika memasuki kota Yerusalem disambut dan dielu-elukan sebagai Raja yang dipuji dan dimuliakan, kemudian menjadi sosok yang dipandang dihina dan direndahkan sedemikian rupa, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ketika melangkah memasuki kota Yerusalem, Tuhan Yesus tahu apa yang akan dihadapi-Nya di sana, dan Tuhan Yesus tahu memang untuk itulah Ia datang ke dalam dunia. Karena itu sekalipun apa yang akan dihadapi-Nya sangat menggentarkan, Ia tetap dapat menguasai diri-Nya dan pandangan-Nya fokus pada tujuan kedatangan-Nya. Gegap gempita pujian penyambutan, tidak mengaburkan pandangan-Nya dan mengubah tujuan kedatangan-Nya. Ia tahu apa yang Bapa mau Ia lakukan. Jalan penuh penderitaan dan hinaan keji tidak membuat-Nya mundur dan berkata, Ya Bapa, lepaskanlah Aku dari saat ini. Ia tetap melangkah maju, Ia tetap melangkah dalam ketaatan, untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Dalam nubuatnya, Yesaya berkata tentang Dia: “Ia memberi punggung-Nya kepada orang-orang yang memukul-Nya, memberi pipi-Nya kepada orang-orang yang mencabut janggut-Nya. Ia tidak menyembunyikan mukanya ketika dinadai dan diludahi.” Kristus Yesus  menerima dan menjalani semua dalam ketaatan-Nya kepada Bapa.

Ketika ada banyak orang bisa jadi lupa diri dan buta karena berbagai sanjungan, pujian dan kemuliaan, sehingga mereka kemudian menyimpang dari arah dan tujuan yang Tuhan tetapkan, Tuhan Yesus tidak. Ketika ada banyak orang lebih memilih lari dari tanggung jawab dan berusaha menghindar ketika harus menghadapi berbagai kesusahan dan penderitaan, Tuhan Yesus tidak. Apa yang membuat-Nya dapat tetap bertahan memikul tugas dan tanggung jawab, berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang Bapa mau Ia lakukan? Fokus. Ya, Tuhan Yesus tetap fokus pada satu tujuan, melakukan kehendak Bapa dengan penuh ketaatan. Karena itulah Ia dapat tetap menguasai diri dalam segala keadaan.

Saudara, kadang kita tahu dan mengerti dengan jelas apa yang Tuhan mau kita lakukan dalam hidup kita. Meskipun demikian, kita dapati diri kita tidak hidup, seperti yang Tuhan mau. Sanjungan dan kemuliaan dunia kadang terasa lebih menarik bagi kita, membuat kabur pandangan kita dan membawa kita jauh dari melakukan kehendak Tuhan. Atau kadang kita dapati bahwa ketakutan dan kekhawatiran, membuat kita lebih memilih untuk lari dan bersembunyi. Saudara, mari kita belajar seperti Kristus, fokus pada tujuan hidup bagi Allah. Kita hidup karena Allah dan untuk Allah. Oleh sebab itu, apa lagi yang jauh lebih penting daripada menyenangkan Dia dan melakukan kehendak-Nya?  Kiranya Tuhan menolong kita. Amin!

LN

Leave a comment