PENGINJILAN SEBAGAI GAYA HIDUP

news-thumb1280

(1Korintus 9:16-19)

Tugas panggilan untuk memberitakan Injil, kabar baik dalam Kristus tentang pertobatan dan pengampunan dosa dipercayakan oleh Tuhan kepada setiap kita, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya dan mengikut Dia. Tugas panggilan itu melekat pada diri kita, pertama-tama karena kita sendiri sudah mengalami bagaimana kabar baik itu mengubah hidup kita, membebaskan dan melepaskan kita dari belenggu dosa, membawa kita pada kehidupan baru bersama Kristus dan di dalam Kristus. Kita dipanggil dan ditetapkan Kristus menjadi saksi-Nya (Lukas 24:48) dan Ia telah memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya (Kisah Para Rasul 1:8), sehingga tugas panggilan itu adalah tugas yang memungkinkan (possible) untuk kita lakukan.

Bahkan dalam tema kita hari ini, kita diingatkan bahwa memberitakan Injil bukan hanya tugas panggilan yang bisa kita lakukan, melainkan juga harus menjadi gaya hidup kita, cara hidup yang melekat pada diri kita, dan yang tidak bisa tidak harus kita lakukan. Mengapa? Karena kita sudah mengalami sendiri bagaimana  Injil Kristus itu  mengubah diri kita dan membawa hidup kita pada hidup yang berpengharapan di dalam Kristus. Injil yang sudah kita terima itu ada dalam hidup kita dan menjadi bagian diri kita, sehingga sudah sepatutnya perkataan, sikap dan tindakan kita mencerminkan atau mengekspresikan berita Injil. Kehadiran diri kita dimanapun, kapanpun dan bersama siapapun harus dapat menghadirkan pesan Injil, kabar baik, kekuatan Allah yang menyelamatkan kita.

Rasul Paulus melihat tugas dan panggilan untuk memberitakan Injil itu bukan tugas pilihan yang bisa kita terima atau tolak, mau atau tidak mau melakukannya. Sebagai orang yang sudah mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mengalami sendiri bagaimana Injil, kabar baik itu, mengubah dirinya dan memberinya kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru, Paulus melihat pemberitaan Injil sebagai suatu keharusan. Perintah itu diberikan Tuhan sebagai sebuah ketetapan, celakalah kita jika kita tidak melakukannya, karena itu berarti kita tidak taat pada Tuhan dan kita akan berhutang pada orang-orang yang seharusnya dapat diselamatkan hidupnya melalui berita Injil yang kita sampaikan, tetapi menjadi binasa karena kita tidak melakukan apa yang menjadi tugas panggilan kita.

Pemberitaan itu adalah sebuah keharusan, yang jika kita melakukannya, kita juga tidak perlu melihat betapa baik dan berjasanya kita bagi Tuhan dan sesama, lalu kita jadi berpikir bahwa kita patut mendapat upah atau penghargaan. Jika kita telah menyelesaikan semua tugas panggilan itu, biarlah masing-masing kita berkata kepada Tuhan, “Kami ini hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya kami lakukan.” Kita boleh bersukacita bahwa dalam hidup kita yang sementara, kita boleh dipakai Tuhan menjadi rekan kerja-Nya, menyampaikan berita keselamatan kepada semua orang yang kita jumpai dalam hidup kita. Karena itu biarlah seperti Paulus, kitapun mau berjuang dan berusaha dalam hidup kita untuk mendapatkan hati sebanyak mungkin orang untuk dibawa dan diarahkan kepada Tuhan melalui Injil yang kita beritakan dan sampaikan. Amin.

LN

Leave a comment