PENGINJILAN KONTEKSTUAL

news-thumb1280

Salah satu tugas penting yang Tuhan kehendaki agar kita, murid-murid-Nya, lakukan di dunia ini adalah memberitakan Injil, kabar baik tentang pertobatan dan pengampunan yang kita terima di dalam nama-Nya (Mat 28:19-20, Markus 16:15, Lukas 24:46-49). Bukan hanya kepada satu bangsa dan satu kota tertentu saja, tetapi kepada segala bangsa di berbagai kota dan desa, bahkan sampai ke ujung bumi. Berita Injil adalah berita untuk semua bangsa di segala tempat dan di sepanjang masa. Tugas untuk memberitakan Injil, sampai hari ini diterima oleh Gereja Tuhan sebagai misi yang Tuhan percayakan kepada gereja. Perjumpaan Injil dengan berbagai latar belakang budaya para penerima berita Injil, tidak selalu berlangsung dengan baik. Tidak selalu kebenaran Injil dapat dimengerti dan diterima oleh orang-orang yang mendengar berita Injil, karena latar belakang budaya, sosial dan ekonomi yang berbeda sama sekali dengan budaya di mana Injil dinyatakan oleh Tuhan. Itu sebabnya, gereja tidak boleh hanya giat memberitakan Injil, tetapi gereja harus melakukan penginjilan yang kontekstual.

Kata “kontekstualisasi” ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Menurut Pdt. Rahmiati Tanudjaja, seorang dosen Misiologi di STT SAAT Malang, para misiolog menyadari bahwa ide tentang kontekstualisasi itu sendiri sebenarnya sudah ada dalam Alkitab, jauh sebelum TEF memperkenalkan istilah tersebut. Contohnya adalah inkarnasi Yesus Kristus dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengomunikasikan Injil kepada orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 17:16- 34; 1Korintus 9:19-23). Kontekstualisasi adalah proses yang dilakukan secara terus menerus untuk membuat berita Injil dapat diterima dan dimengerti oleh si penerima dalam budaya mereka yang dinamis, baik secara politik, sosial, dan ekonomi. Proses ini bertujuan untuk mengupayakan agar kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab dapat menjawab pertanyaan mengenai kebenaran dalam budaya tertentu sesuai dengan Kitab Suci tanpa mencemari atau mengurangi keabsahan kebenaran itu sendiri, sehingga kebenaran itu dapat dimengerti dan pada akhirnya juga dapat diterima dalam konteks budaya tersebut.

Inilah yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orangorang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat…” Paulus mengatakan perkataan ini bukan karena ia plin-plan dan tidak memiliki pendirian atau identitas diri yang jelas. Bukan juga karena ia mau jadi seperti bunglon, hewan yang pandai mengubah warna tubuhnya untuk mengelabui musuhnya, berubah atau menyamar menjadi orang-orang yang berbeda demi untuk keselamatan dan keuntungan dirinya. Melalui perkataan itu Paulus ingin menyatakan bahwa pemberitaan Injil harus dilakukan sesuai dengan konteks orang-orang yang menerima berita Injil.

Dalam upaya memberitakan Injil, Paulus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami keadaan sosial, budaya dan ekonomi para penerima Injil yang diberitakannya. Ia berusaha mengenali nilai-nilai yang mereka pegang dan berusaha berpikir serta menanggapi segala sesuatu dengan sudut pandang atau cara berpikir orang-orang yang menerima berita Injilnya. Sehingga pemberitaan yang dilakukannya dapat dimengerti dengan baik oleh mereka yang mendengarkan dia, dan pada saatnya dapat diterima oleh mereka. Dengan demikian pesan yang mau disampaikan jelas, bahwa setiap orang yang mau memberitakan Injil, tidak cukup hanya memiliki dan mengerti Injil yang akan diberitakannya. Agar pemberitaan Injil dapat dimengerti dan diterima oleh para pendengarnya, maka sebagai pemberita kita perlu menyadari bahwa kita tidak boleh hanya mengenal kebenaran Injil yang mau kita beritakan. Selain memahami Injil yang mau kita beritakan, kita juga mesti mengenal dengan baik keberadaan orang-orang yang akan mendengar pemberitaan kita, memahami cara berpikir mereka dan berbicara dengan bahasa mereka, yang dalam bahasa Paulus disebutkan “…bagi orang…aku menjadi seperti orang…” Dengan cara itu, Paulus berupaya untuk mengurangi berbagai penolakan karena kesalahpahaman atau ketidakmengertian berkaitan dengan kebenaran Injil yang diberitakannya.

Kesediaan Paulus untuk menjadi sama seperti orang-orang yang menerima pemberitaannya menjadi strategi pemberitaan Injil yang Paulus lakukan agar dapat memenangkan sebanyak mungkin orang yang dijumpai dalam pelayanan pemberitaannya. Strategi atau metoda yang Paulus lakukan bukan metoda baru, Tuhan Yesus telah lebih dulu melakukan hal itu. Ketika Ia menyatakan Injil-Nya kepada manusia. Ia masuk ke dalam dunia dan menjadi sama seperti manusia, merasakan apa yang dirasakan manusia, berhadapan dengan banyak pergumulan yang dihadapi manusia dan berkata-kata dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Tuhan Yesus memberitakan Injil-Nya secara konteksual, sehingga kita, manusia dapat mengerti, menerima dan percaya kepada-Nya.

Hari ini gereja dipanggil untuk melakukan hal yang sama, agar pemberitaan Injil yang dilakukannya dapat menyentuh hati para penerima berita, gereja perlu mengenali konteks pemberitaannya dengan baik. Dunia, tempat di mana gereja dipanggil dan diutus Tuhan untuk memberitakan Injil terus berubah, sejalan dengan perubahan sosial, budaya, ekonomi dan teknologi yang ada di dalamnya. Maka gereja pun harus mengubah caranya mengekspresikan diri, persekutuan dan misi sesuai dengan konteks di mana gereja diutus Tuhan, agar pemberitaannya dapat dimengerti dan relevan dengan kehidupan para penerima berita Injil saat ini. Selamat berjuang melakukan tugas pemberitaan Injil, Tuhan menyertai dan memperlengkapi.

LN

Leave a comment