PENGINJILAN KONTEKSTUAL KEPADA ORANG TIONGHOA

news-thumb1280

Kisah Para Rasul 16 : 4 – 12

Renungan kita kali ini, bukan membicarakan tentang tradisi tetapi dari suatu perintah (Amanat Agung) yang diberitakan oleh Tuhan Yesus sendiri dan dicatat oleh murid-muridNya sendiri yang pernah hidup bersama Kristus selama 3,5 tahun  untuk menginjili. Dalam Kis 16:4-12 yang berkaitan dengan Kis 10:34-35, Tuhan menuntun Paulus masuk ke Asia untuk memberitakan Injil karena Injil tidak memandang dari suku mana termasuk suku/orang Tionghoa, dan Injil adalah milik seluruh bangsa di dunia. Pertanyaan kita saat ini, sebagai gereja GKI Perniagaan yang  mayoritas keturunan Tionghoa, sudah seberapa jauh kita punya hati (terbeban) untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Tionghoa?. Untuk memahami Penginjilan Kontekstual kepada orang Tionghoa, kita harus tahu terlebih dahulu latar belakang suku Tionghoa di Indonesia.

Orang Tionghoa yang berada di Indonesia bukan berasal dari satu kelompok yang berasal dari negeri China, tetapi berasal dari berbagai suku, yang berasal dari propinsi Fukien dan Kwangtung, yang mana setiap imigran membawa budaya dan bahasanya sendiri. Di-Indonesia ada 4 suku bangsa dan bahasa yang ada, yaitu : Hokkien, Teo-Chiu, Hakka, Kanton.

Suku bangsa Hokkien yang datang ke Indonesia pada pertengahan abad ke 19, berasal dari propinsi “Fukien Selatan”, mereka ada yang berasimilasi, keseluruhan ada di-Indonesia Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur dan pantai barat Sumatera.

Suku bangsa Teo-Chiu dan Hakka, berasal dari pedalaman Swatow, Kwantung Timur, orang Teo-Chiu dan Hakka (Khek) ini banyak terdapat di Sumatera Timur, Bangka dan Belitung.

Suku bangsa Kanton (Kwong Fu), mereka sama dengan orang Hakka yang tertarik pada pertambangan, tapi mereka datang dengan membawa modal.

Walaupun  memiliki 4 suku bangsa, tapi masayarakat Indonesia menggolongkan mereka menjadi 2 golongan, yaitu:

  1. Peranakan, orang Tionghoa yang lahir di-Indonesia, dan atau hasil perkawinan campur dengan orang Indonesia “asli”.
  1. Orang Totok, orang Tionghoa yang lahir di negeri China, yang menjaga alkulturasi dan derajatnya dengan kebudayaan Indonesia dan kepada intensitas perkawinan campur, sehingga budaya dari negeri asalnya masih dipakai di negeri perantauan.

Orang Tionghoa umumnya tinggal di kota, yang berupa deretan rumah-rumah petak yang saling berhadapan disepanjang jalan pusat pertokoan. Usaha yang dilakukan umumnya pedagang. Disetiap perkampungan terdapat 1 atau 2  kuil berupa kuil Budha, kuil ini bukan untuk tempat ibadah, tapi untuk meminta berkah, dan mengucap syukur dengan memasang dupa atau hio.

Orang Tionghoa di-Indonesia menganut agama: Budha, Kong Fu-Tse, Tao, Kristen, Katolik, Islam. Kung Fu-Tse sebenarnya bukanlah agama, melainkan tokoh yang mengajarkan filsafat untuk hidup baik dengan sesama, tentang keluarga dan ketatanegaraan. Tokoh Kong Fu-Tse ini dianggap sebagai guru filsafat. Ajaran yang mendasar pada ajaran Kung Fu-Tse adalah anak yang berbakti kepada orang tua saat hidup, maupun saat mereka sudah meninggal, dengan mendirikan meja abu dan menaruh foto dari orang tua atau abu jenasah, jika dikremasi, yang digunakan untuk pemujaan bagi para leluhur dan memberi penghormatan dengan membakar dupa atau hio. Biasanya yang melakukan ini anak laki-laki yang meneruskan marga atau keluarga. Orang Tionghoa tidak mengenal pemuka agama, sehingga mereka melakukan acara keagamaannya sendiri, kecuali untuk agama Budha.

Dari bacaan kita diatas setelah mengetahui sejarah perkembangan Tionghoa di Indonesia, maka kita mendapatkan 3 hal yang mendasari Penginjilan Kontekstual kepada Orang Tionghoa, yaitu :

  1. Dalam Kisah Para Rasul 10:34, Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Disini Rasul-rasul mengenal “Hati Allah” yang menginginkan jiwa-jiwa diselamatkan . Dalam hal ini apakah kita peka dalam kontekstual penginjilan kepada orang-orang Tionghoa di sekitar kita ?.
  2. Belajar untuk TAAT kepada Tugas/Amanat yang ditugaskan kepada Rasul/Murid Kristus untuk menginjili kepada seluruh bangsa, seperti dalam Kis 10:42, “Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati”. Allah mengajarkan kepada Rasul-rasulnya untuk belajar taat di dalam masa pengabdiannya kepada Allah dalam memberitakan Injil, seperti yang telah dilakukan oleh Hudson Taylor (Penginjil yang di utus ke China), Nommensen (Penginjil yang di utus ke tanah Batak). Bagaimana dengan kita, apakah kita sudah belajar untuk Taat kepada Allah di dalam amanat Agung ini ?.
  3. Hati yang mempunyai belas kasihan. Hati yang mau menceritakan karya keselamatan kepada manusia berdosa (orang-orang Tionghoa yang belum mengenal Allah). Pada saat hati kita menangkap hati Allah, maka kita tidak akan diam untuk cerita karya keselamatan kepada setiap orang.

Kiranya kita menjadi jemaat yang bukan untuk diri sendiri atau menjadi ego-sentris. Karena Allah dalam diri AnakNya sudah membuktikan kasihNya yang luar biasa untuk mengasihi jiwa-jiwa. Jangan sampai ada yang berkata (seperti di kitab Yehezkiel), “Aku bertemu di jalanan (di suatu tempat) tapi ia tidak menceritakan tentang Injil saat bertemu.”.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk terus menjadi Pemberita Injil di lingkungan kita yang mempunyai Hati Allah, terus Taat dalam karya keselamatan untuk mencari jiwa-jiwa yang terhilang… AMIN

BW

Leave a comment