Penginjilan Adalah Transformasi

IMG-20201114-WA0002

Kisah Para Rasul 2:37-47

Pada hari Pentakosta, setelah turunnya Roh Kudus dan memenuhi orang percaya di Yerusalem, Petrus berkhotbah menyampaikan berita Injil kepada orang banyak (Kis. 2:14-36). Kemudian di ayat 37 dikatakan bahwa “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” Kemudian Petrus menjawab mereka di ayat 38-39: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Jadi ada tantangan transformasi dalam hidup orang yang telah menerima anugerah Injil. Orang-orang banyak itu telah terharu mendengar berita Injil, dan ini adalah karya Roh Kudus. Namun setelah “terharu” atau menerima berita Injil, orang-orang percaya ditantang untuk hidup dalam transformasi, yakni bertobat dan memberi diri dibaptis.

Sebuah transformasi hidup orang percaya ditandai dengan tindakan pertobatan mereka dari kehidupan lama (berdosa) menuju hidup baru yang memuliakan Tuhan. Pertobatan bukanlah sekedar menyesali perbuatan dosa yang kita lakukan. Pertobatan sejati adalah hidup berbalik meninggalkan dosa, mengubah pikiran dan hati kita yang awalnya mengikuti keinginan diri sendiri sekarang mau mengikuti kehendak Tuhan dan firmanNya (Alkitab). Hidup dalam pertobatan sejati dalam Injil membawa kita pada transformasi hidup sehingga kita hidup selaras dengan kehendak Tuhan.

Kehidupan dalam pertobatan sejati inilah yang dilakukan oleh jemaat mula-mula (Kis. 2:41-47). Mereka memberi diri dibaptis (ay. 41); bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, memecah roti dan berdoa (ay. 42); saling berbagi dan hidup dalam kepentingan bersama (ay. 44-45); hidup beribadah dan memuji Tuhan (ay. 46); dan hidup menjadi berkat bagi orang sekitar (ay. 47). Kehidupan yang dinyatakan dalam kehidupan jemaat mula-mula ini merupakan contoh kehidupan orang percaya yang mengalami pertobatan sejati yang menghasilkan transformasi hidup. Akan tetapi, apa yang sebenarnya membuat mereka ini bersatu dan bertobat? Kekuatan apa atau kekuatan siapa yang membuat orang-orang percaya itu bebas dari harta benda mereka, dan ingin memenuhi kebutuhan, dan penuh kegembiraan dan kemurahan hati dan pujian dan doa ketika mereka makan bersama hari demi hari?

Jawaban dari pertanyaan tersebut ditemukan di ayat 43 dalam frase, “ketakutanlah mereka semua.” Kata “ketakukan” di sini merupakan sebuah perasaan kagum yang menggembirakan sekaligus menggetarkan, sehingga mereka tidak meremehkan Allah dari para rasul. Akan tetapi pengalaman tersebut bukanlah pengalaman kita. Saat ini, bagi kebanyakan orang yang mengaku Kristen, Tuhan adalah ide untuk dibicarakan, ataupun kesimpulan dari argumen, atau tradisi keluarga yang harus dipertahankan. Tetapi bagi sedikit orang, Tuhan adalah Pribadi yang juga hadir di masa kini yang tegas, menakutkan, menakjubkan, mengagumkan, dan mengejutkan. Di manakah gereja-gereja yang bisa dikatakan Lukas hari ini yang masih merasakan “Ketakutan — kagum, heran, gemetar — mereka semua” akan Tuhan? Apakah kita memiliki rasa takut, kagum, heran, gemetar, takjub kepada Tuhan saat ini? Ataukah kita malah tidak lagi merasakannya, sehingga kita beribadah dan hidup sebagai orang Kristen dengan hati yang “hambar” kepada Tuhan?

Tidak adanya perasaan takut akan Tuhan memiliki efek langsung pada hidup yang harusnya ditransformasi oleh firman. Tanpa perasaan tersebut hidup kita dalam mengumpulkan harta benda hanya untuk diri kita sendiri, mengabaikan orang-orang yang membutuhkan, kita meremehkan persekutuan, dan fokus akan apa kita doakan adalah untuk pribadi kita sendiri, bukan untuk kehendak dan kemuliaan Tuhan. Maka dari itu, agar kita terhindar pada sikap dan tindakan demikian, kita perlu minta pertolongan Tuhan sehingga kita punya perasaan kagum, hormat, takut kepada Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan kita hidup dalam Injil yang mengubah/mentransformasi kita menjadi ciptaan baru, yang hidup hanya ingin menyenangkan dan memuliakan Tuhan.

 

                                                                                                     WA

Leave a comment