Penginjilan adalah Rekonsiliasi

IMG-20201107-WA0000

Matius 11:25-30

Sesungguhnya semua manusia telah berbuat dosa (Rm. 3:23), sehingga ada jurang pemisah antara relasi manusia dengan Allah karena dosa tersebut (Yes. 59:2). Akan tetapi Yesus telah menjadi jalan pendamaian (rekonsiliasi) (Rm. 3:25) sehingga kita sebagai orang percaya dibenarkan dan dapat hidup berelasi kembali bersama Tuhan. Jadi Yesus datang ke dunia ingin menyampaikan berita pendamaian bagi manusia yang berdosa dan berbeban berat karena mereka harus memikul setiap aturan hukum Taurat. Memang keadaan masyarakat Yahudi pada saat itu dipenuhi dengan banyak beban hukum-hukum agama yang harus mereka taati. Dapat kita bayangkan bagaimana orang-orang Yahudi pada waktu itu harus menaati lebih kurang 613 peraturan yang dibuat oleh ahli-ahli Taurat.  Hal ini pasti menjadi satu tekanan yang begitu berat buat mereka, sebab tidak mungkin mereka melakukan semua peraturan tersebut dengan sempurna,dan itu berarti mereka tidak akan selamat.

Tuhan Yesus mengetahui keadaan mereka.  Dengan penuh kelembutan Ia menawarkan untuk memberikan kelegaan kepada mereka.  Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan kelegaan di sini?  Kata kelegaan ini adalah rest (istirahat) atau refreshment (penyegaran).  Kata istirahat ini mengingatkan bangsa Israel akan hukum Sabat yang Tuhan berikan kepada mereka, di mana pada hari itu mereka berhenti dari segala kegiatan yang mereka lakukan.  Untuk mendapatkan penyegaran kembali sehingga mereka bisa mendapatkan kekuatan untuk melakukan kegiatan pada esok harinya.  Begitu pula kata perhentian juga mengingatkan orang Israel akan tanah perjanjian yang Tuhan berikan kepada mereka di mana di sanalah mereka bisa mendapatkan istirahat, terlepas dari segala beban-beban perbudakan yang selama ini mereka rasakan di Mesir.

Jadi ketika Tuhan Yesus memberikan jaminan kelegaan, orang-orang Yahudi pada saat itu benar-benar mengerti tawaran kelegaan yang seperti apa Tuhan Yesus maksudkan.  Suatu peristirahatan yang nyaman, suatu penyegaran kembali hubungan (rekonsiliasi) mereka dengan Allah, mendapatkan jaminan hidup yang kekal, bebas dari ketakutan dan keputusasaan karena tidak dapat memenuhi hukum Taurat.  Tawaran dan undangan ini diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita.  Respon kita terhadap undangan Tuhan Yesus adalah: Datang kepada Tuhan Yesus, sebagaimana yang Ia katakan pada ayatnya yang ke 28  “Marilah kepada-Ku…semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu. Kata marilah kepada-Ku merupakan sebuah ajakan yang sangat ramah dan khas dari Tuhan Yesus.  Undangan yang Yesus berikan bukan ditujukan kepada murid-murid-Nya saat itu melainkan kepada mereka yang belum menjadi murid Yesus.  Dengan kata lain Yesus mengajak setiap orang yang masih terikat dengan beban berat untuk menerima undangan-Nya.

Setelah kita mendapatkan undangan kelegaan itu, bukan berarti kita tidak melakukan hukum-hukum Tuhan, kita tetap harus melakukan hukum-hukum yang Tuhan kehendaki,  bukan sebagai suatu tuntutan tetapi sebagai suatu ungkapan syukur kita atas anugrah yang Tuhan berikan.  Tidak mengherankan jika Tuhan Yesus melanjutkan dengan perkataan ayatnya yang ke 29-30 “ pikullah kuk…, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Kuk adalah tiang kayu yang diikatkan dengan tali pada leher binatang-binatang tersebut, lalu bajak dihubungkan dengan kuk itu.  Kata “kuk” dipakai oleh Yesus menjadi satu kiasan dalam perkataan-Nya.  Kuk yang dimaksudkan pada ayat ini bukanlah suatu tiang kayu yang diikatkan pada bahu kita melainkan kuk yang dimaksud disini adalah “hukum Allah“.  Yesus mengetahui bahwa orang Yahudi seringkali menyebut ketaatan terhadap Tuhan sebagai “menerima kuk Tuhan” tetapi memikul kuk yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah taat terhadap hukum-hukum Yesus.  Di dalam ayat-ayat ini dapat kita lihat bahwa Tuhan Yesus tidak membuang hukum-hukum dari PL, tetapi Ia menerangkan bahwa inti hukum-hukum Tuhan adalah kasih terhadap Allah secara tulus, dan kasih terhadap sesama manusia secara tulus juga. Saudara, kita tidak sendiri saat kita harus memikul kuk itu ada Tuhan Yesus yang akan senantiasa menolong kita.

Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa Injil adalah berita rekonsiliasi antara Allah dan manusia yang dikerjakan oleh Yesus Kristus sebagai jalan pendamaian. Harusnya kita yang hidup dalam ajakan Juruselamat itu memberikan kita kelegaan dan kekuatan untuk kita hidup menjalankan firman-Nya dan menghadirkan damai Kristus di mana kita berada. Penginjilan jangan kita lakukan untuk mengalahkan orang untuk mereka percaya Tuhan dan menjadi Kristen. Harusnya penginjilan merupakan sebuah upaya kita untuk menghadirkan kedamaian dan kita menyatakan berita rekonsiliasi dari Yesus sehingga orang-orang yang mendengar Injil tersebut hidup dalam damai kasih Kristus.

                                                                                                        WA

Leave a comment