Penginjilan Adalah Keselamatan

IMG-20201031-WA0000

Efesus 3:1-13

Surat Efesus merupakan surat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat Efesus yang pernah didirikan Paulus pada tahun 53 M. Surat ini ditulis Paulus ketika berada dalam penjara di kota Roma (Ef. 3:1; 4:1; 6:20). Tema besar dari surat Efesus ini adalah penegasan akan kesatuan dan otoritas Yesus di dunia ini yang mengatur, menopang, dan menyelamatkan. Pada perikop Efesus 3:1-13 Paulus ingin menyingkapkan akan rahasia Kristus yaitu Injil yang dipercayakan kepadanya untuk disampaikan kepada jemaat Efesus (ay. 2-4). Berikut ada dua poin penjabaran yang menjelaskan akan Injil yang ingin dinyatakan Paulus tersebut:

1.Injil adalah berita keselamatan yang meneguhkan dan menguatkan pelayanan Paulus beserta orang percaya di tengah penderitaan dan kesusahan yang mereka alami.

Paulus di ayat 1 mencatat bahwa dirinya dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah. Memang secara fisik Paulus di penjara, akan tetapi maksud dari “dipenjarakan karena Kristus Yesus” ini untuk menyatakan bahwa Paulus tunduk dalam otoritas Kristus yang memanggil dia untuk memberitakan Injil. Makanya Paulus menuliskan di ayat 7 bahwa “dari Injil itu  aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Jadi Paulus tunduk hanya kepada anugerah Yesus dan dia tidak tunduk dengan penderitaan dan kesesakan yang dia alami, bahkan Paulus melihat kesesakan itu sebagai kemuliaan (ay. 13). Paulus hanya berfokus kepada anugerah Injil yang menyelamatkan dan memanggil dia untuk melayani Tuhan sehingga dia dikuatkan dan diteguhkan di tengah kesulitan yang dia alami.

Begitu pula dengan kehidupan kita sebagai orang percaya, Injil yang adalah berita keselamatan dalam Yesus itu memberikan kita kekuatan dan keteguhan untuk kita terus menjadi saksi Kristus di dunia ini walaupun kita pada saat ini mengalami kesulitan dan himpitan. Jangan sampai kita tunduk dalam kesesakan yang kita alami sehingga kita enggan menjadi saksi Kristus di dunia ini.

2. Injil adalah berita keselamatan yang tidak terbatas kepada orang Yahudi, melainkan kepada orang non-Yahudi termasuk kita.

Paulus menuliskan “bahwa orang-orang bukan Yahudi. Karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (ay. 6). Orang bukan Yahudi tadinya ada di luar kovenan perjanjian (covenants of promise). Kovenan dalam Perjanjian Lama adalah kesepakatan nasional, teokratis antara Allah dan Israel. Perjanjian itu merupakan kesepakatan legal yang melaluinya Allah menjalankan kerajaan-Nya di bumi. Begitu orang bukan Yahudi dicangkokkan ke dalam kerajaan Allah oleh Kristus, mereka ada di bawah otoritas kovenan nasional ini. Dan akibatnya, mereka diberi hak untuk menerima berkat perjanjian. Pada ayat 8, Paulus kembali menegaskan akan panggilannya untuk memberitakan Injil kepada orang yang bukan Yahudi. Jadi keselamatan yang dinyatakan dalam Injil tidak dibatasi kepada suatu agama atau kepercayaan Yahudi, melainkan kepada siapa pun yang dianugerahkan Tuhan untuk percaya kepada Yesus Kristus.

Dari penjelasan di atas, kita sebagai orang yang bukan Yahudi patut bersyukur bahwa kita diberikan keselamatan dalam Kristus Yesus. Tidak hanya bersyukur saja, kita juga patutnya dengan setia memberitakan Injil kepada sesama kita, bukan demi agama Kristen semakin banyak jumlahnya tetapi untuk membawa kasih Kristus hadir dalam kehidupan mereka yang belum mengenal Tuhan. Eka Darmaputera juga pernah mengatakan hal demikian bahwa penginjilan harusnya bukan mengkristenkan orang lain, tetapi membawa “Kristus” ke dalam orang lain.

                                                                                                     WA

Leave a comment