PENGHARAPAN YANG TERPENUHI

news-thumb1280

(Ratapan 3:22-33, Mazmur 30, 2Korintus 8:7-15, Markus 5:21-43)

Pengharapan atau harapan adalah keyakinan atau kepercayaan bahwa suatu keadaan atau suatu keinginan yang baik masih akan dapat terwujud dan menjadi kenyataan di masa yang akan datang, sekalipun saat ini situasi yang dihadapi masih jauh dari yang diharapkan. Orang yang memiliki pengharapan akan mampu terus berjuang menghadapi berbagai kesusahan dan kesulitan, karena ia yakin dan percaya bahwa setelah semuanya itu akan ada sesuatu yang baik yang akan terjadi. Mereka akan terus bertahan hidup dan tetap berjuang menghadapi berbagai keadaan sulit dengan tekun karena pengharapan yang mereka miliki. Tidak demikian dengan orang-orang yang tidak memiliki pengharapan, ketika menghadapi kesusahan hidup dengan mudah mereka menyerah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki pengharapan dalam hidup karena pengharapan dapat menjaga vitalitas atau daya hidup kita.

Penulis kitab Ibrani menggambarkan pengharapan itu seperti sauh atau jangkar pada sebuah perahu. Sauh atau jangkar itu dapat memberikan kekuatan dan rasa aman bagi sebuah perahu, apabila ditambatkan pada tambatan yang tepat (Lihat Ibrani 6:19). Sauh atau jangkar tidak akan berfungsi menahan perahu tetap di posisi dan tidak terseret arus apabila tidak ditambatkan pada tambatan yang tepat atau kuat. Sama seperti sauh, harapan yang kita milikipun harus kita tambatkan pada tambatan yang tepat, yang benar-benar dapat disandari, yang tidak akan pernah mengecewakan kita.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, ada banyak situasi sulit yang dialami dan digambarkan. Ada yang harus melihat dan menyaksikan bangsanya diangkut sebagai tawanan perang oleh bangsa lain (Ratapan 3:22-33), ada yang mengalami sakit penyakit (Mazmur 30, Markus 5), ada yang harus menderita karena kemiskinan dan penganiayaan (2 Korintus 8), tetapi tidak satupun dari mereka yang mengalami situasi sulit itu kehilangan pengharapan. Mereka bertahan dalam kesusahan mereka dan tetap berjuang untuk melakukan pekerjaan baik yang dikehendaki oleh Allah. Mengapa demikian?  Karena mereka mempercayakan pengharapan mereka kepada pribadi yang mereka percaya dapat mereka andalkan, yakni Tuhan semesta alam. Pengharapan yang mereka tambatkan pada Tuhan, sungguh telah menjadi sauh yang kuat bagi jiwa mereka.

Pengharapan itu tidak mengecewakan, karena Tuhan, sebagai Penolong dalam kesesakan sangat terbukti (lihat Mazmur 46:2). Tuhan yang berjalan beserta mereka, telah menyatakan diri kepada mereka bahwa Ia adalah Tuhan yang baik kepada setiap orang yang berharap kepada-Nya dan bagi setiap jiwa yang mau mencari Dia. Ia penyayang dan penuh belas kasihan, Ia dapat mengubah ratapan menjadi tari-tarian, perkabungan menjadi sukacita. Setiap orang yang mempercayakan pengharapannya kepada Tuhan, tidak akan takut menghadapi kesusahan dalam kehidupan, setiap kesukaran yang mereka hadapi malah akan semakin meneguhkan mereka bahwa Tuhan itu baik dan dapat diandalkan.

Kesukaran seperti apa yang saat ini kita hadapi? Apakah kita jadi kehilangan pengharapan karenanya? Putus asa? Tidak tahu apa yang harus kita lakukan dan siapa yang dapat kita andalkan? Firman Tuhan berkata, “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas…” Tetapi hendaklah masing-masing kita dapat berkata, “Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Amin!

                                                                                    Pdt. LN

Leave a comment