PENGETAHUAN YANG MENUNTUN KEPADA KRISTUS

news-thumb1280

(Matius 2:1-12)

Pengetahuan itu sangat penting. Pengetahuan membuat manusia terbebas dari kebodohan dan terus mengalami perkembangan. Misalnya, perkembangan pengetahuan di dunia transportasi telah menghasilkan teknologi luar biasa yang memudahkan manusia berpindah satu tempat ke tempat lain dengan begitu mudah. Majunya teknologi transportasi membuat hampir seluruh muka bumi ini dapat dijelajahi. Selain itu, perkembangan ilmu telekomunikasi juga membuat manusia terkoneksi secara live, tanpa batas waktu dan tempat. Dunia usaha juga tidak kalah hebat, ada begitu banyak produk baru dihasilkan dan dapat dinikmati oleh manusia dari hari ke hari dan tahun ke tahun. Begitulah, sejatinya pengetahuan memang harus berdampak baik bagi manusia.

Akan tetapi, ada kesadaran besar yang harus kita miliki di balik kemajuan pengetahuan dan teknologi ini. Pengetahuan tidak cukup menghantar kita mengenal dunia ini saja. Pengetahuan tidak boleh hanya berhenti untuk memahami ciptaan. Pengetahuan harus juga mengarahkan kita untuk mengenal Tuhan. Ilmu pengetahuan harus juga menolong kita untuk melihat tanda kehadiran, pekerjaan dan pemeliharan Tuhan atas seluruh ciptaan.

Banyak orang menempatkan pengetahuan dan Tuhan secara kontradiktif. Teknologi seolah berjalan tanpa Tuhan. Teknologi dianggap membuat manusia makin jauh dari Tuhan. Teknologi dinilai membuat manusia lupa diri dan tenggelam di dalam kesombongan. Itu sebabnya, banyak orang beragama melihat teknologi dari sisi negatif dan merusak saja. Bahkan, Tuhan digambarkan bertanding dengan teknologi (sebagai berhala), karena telah menyita perhatian dan kebergantungan manusia kepada Tuhan. Akibatnya, ilmu dan Tuhan semakin berseberangan.

Pengalaman orang Majus dalam bacaan di atas memperlihatkan bahwa pengetahuan manusia dapat menuntun pada perjumpaan dengan Tuhan. Juga, Tuhan berkenan memakai pengetahuan manusiawi untuk menyatakan kehadiran dan kemuliaan-Nya. Para Majus adalah orang-orang pandai dan berpengetahuan dari negeri Babilonia. Mereka adalah imam-imam agama Zoroaster yang melakukan penyembahan terhadap dewa Ormuz. Pengetahuan mereka didasarkan pada ilmu astrologi yang sangat mereka kuasai. Mereka pandai melihat pergerakan bintang dan memaknainya secara rohani untuk melihat tanda-tanda kehadiran dan pekerjaan dewa Ormuz di dunia.

Kuasa Tuhan dalam memunculkan bintang di Timur telah menggetarkan hati dan pengetahuan orang orang Majus ini. Para ilmuwan ini melihat betapa istimewanya bintang itu. Mereka mencurahkan waktu, kemampuan dan tenaga mereka untuk terus memantau dan mengikuti pergerakannya. Penemuan ini menghasilkan kesimpulan bahwa bintang itu adalah bintang seorang raja yang lahir dan membawa kebaikan bagi umat manusia.

Penemuan itu membangkitkan antusiasme untuk mencari raja yang lahir tersebut. Mereka meninggalkan negeri mereka dan berjalan ratusan hingga ribuan kilometer. Akhirnya, bintang itu berhenti di rumah di mana Yesus Kristus berada. Mereka pun bersikap “makin berisi, makin merunduk”. Dengan rendah hati mereka menyembah Yesus muda. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan mur sebagai wujud pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah raja dunia yang akan membawa kesemalatan bagi dunia.

Sepenggal kisah orang Majus ini memberikan kita beberapa pengertian yang sangat baik:

1. Orang Majus menemukan tanda kehadiran Juruselamat melalui pengetahuan mereka. Pengetahuan itu tidak sekadar ilmu alam, tetapi juga ilmu hati untuk memahami keberadaan Tuhan. Pengetahuan yang kita miliki seyogianya menuntun kita pada pengenalan akan Allah dan kepekaan untuk menyadari
kehendak-Nya. Seperti orang Majus, kita hendaknya tidak hanya menjadi orang pintar, tetapi juga orang bijak dan berhikmat di dalam Tuhan.

2. Orang Majus merasa tidak cukup hanya memahami saja, tetapi mereka juga antusias mengalami kebenaran dan perjumpaan dengan sang Juruselamat. Banyak orang merasa puas ketika sudah mendengar atau membaca kebenaran. Mereka gembira ketika mendapat informasi dan ilmu-limu baru, namun pengetahuan itu berhenti di kepala mereka saja. Mereka tidak mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Sebagai orang beriman, mari kita bangun keyakinan kita atas dasar pengetahuan sekaligus pengalaman langsung atas kuasa, kasih dan keajaiban-keajaiban yang diperbuat Tuhan.

3. Orang Majus datang menyembah Yesus Kristus. Wujudnya, mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan mur bagi-Nya. Jika ada yang lebih berharga dari itu, tentu orang Majus ini akan mempersembahkannya juga. Mereka memelihara keyakinan kepada Yesus dan tidak mau siapapun membunuh Yesus. Itu sebabnya, mereka memilih pulang dari jalan lain dan tidak memberitahukan keberadaan Yesus kepada Herodes (yang berusaha membunuh Yesus). Di kejauhan, orang Majus pasti terus menanti dengan penuh harapan akan karya Yesus bagi dunia. Sebagai pengikut Yesus, marilah kita pun terus memelihara keyakinan kita kepada Dia. Jangan biarkan berita keselamatan di dalam nama-Nya diberangus oleh siapapun. Gunakan seluruh pengetahuan kita untuk menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Raja dan Juruselamat, sehingga semakin banyak orang mengenal dan percaya kepada Dia. Amin.

MM

Leave a comment