PENGADILAN : KEADILAN ATAU KEPENTINGAN?

news-thumb1280

Markus 15 : 6 – 15

Pengadilan adalah badan atau instansi resmi yang melaksanakan sistem peradilan berupa memeriksa, mengadili dan menuntut perkara. Sedangkan peradilan adalah proses yang dijalankan di pengadilan yang berhubungan dengan tugas memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara. Keadilan menjadi hal yang sangat diharapkan oleh setiap orang yang berperkara. Tetapi, apakah peradilan dan pengadilan itu berpihak kepada keadilan, sehingga memberi keadilan kepada mereka yang mencari keadilan? Ataukah sebaliknya, menjadi sarana individu atau kelompok untuk mendapatkan keuntungan yang mengakibatkan perpecahan dan penderitaan di dalam relasi dan kehidupan bersama?

Fungsi pengadilan adalah memberikan keadilan bagi yang berhak, membenarkan orang yang benar dan memutus bersalah orang yang melakukan suatu kesalahan. Sayangnya sejak zaman Tuhan Yesus sampai sekarang fungsi itu sering disalahgunakan. Orang yang benar menjadi salah dan orang yang salah dibenarkan oleh “Hakim” atau lebih tepatnya penguasa dalam masyarakat. Contoh berita-berita di media elektronik memperlihatkan ketidakadilan dalam dunia yang seolah-olah menjadi “Panggung sandiwara” keadilan.

Demikian juga yang terjadi dalam proses pengadilan Yesus. Keputusan diambil bukan berdasarkan fakta yang ada, melainkan oleh tekanan atau tuntutan orang banyak. Pada awalnya Yesus diadili oleh Dewan Sanhendrin (mahkamah agama tertinggi Yahudi), kemudian Ia dibawa ke hadapan Herodes (penguasa Roma) dan terakhir Pilatus, sebagai Gubernur Romawi menjadi ‘penentu’ proses pengadilan itu. Seharusnya Yesus mendapatkan pengadilan yang adil, namun  pada kenyataanya Ia dijatuhi hukuman mati karena tuntutan massa, mari kita pelajari 2 hal yang menarik seputar pengadilan Yesus ini:

1.YESUS TAHU MAKA DIA DIAM

Yesus tahu sekali bahwa: semua saksi dan bukti yang disiapkan adalah palsu, saksi yang diajukan adalah ‘pilihan’ para imam yang sudah merencanakan penangkapan-Nya sejak awal, bahkan penjahat yang disalib di sebelah-Nya pun mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah

Yesus tahu sekali bahwa : Dia harus taat kepada kehendak Bapa, yaitu Ia harus mati untuk menyelamatkan orang berdosa. Sekalipun beban yang ditanggung-Nya begitu berat, Ia bahkan berdoa tiga kali agar di luputkan dari ‘cawan penderitaan’, tetapi Ia taat dan bersedia menerima siksaan salib demi menyelamatkan kita semua.

2.YESUS TAHU BAHWA MANUSIA MENOLAK YANG BENAR

Kebiasaan orang Yahudi adalah membebaskan seorang penjahat pada hari Paskah. Pilatus yang ‘mengetahui’ bahwa Yesus tidak bersalah memberi pilihan kepada warga Yerusalem untuk membebaskan Barabas atau Yesus pada hari itu. Sungguh ironis, pada hari itu dan juga sampai saat ini, manusia memilih yang jahat ketimbang kebenaran. Warga Yerusalem memilih untuk membebaskan Barabas ketimbang Yesus. Dalam situasi itu, Pilatus yang sudah diingatkan oleh istrinya untuk tidak menghukum Yesus, tidak memiliki pilihan lain kecuali menuruti tekanan massa. Sebab jika dia menolak keinginan massa, maka dia takut akan kehilangan jabatannya saat ini.

Yesus sangat tahu dengan apa yang terjadi dan Dia bersedia melewati semuanya:

  • Ketidakadilan akan hukum dunia ini yang membawa Dia mati di atas kayu salib.
  • Ketidakadilan dari hukum dunia yang cacat akan kepentingan seseorang (Pilatus yang takut akan kehilangan kekuasaan/jabatannya) rela mengorbankan Yesus yang tidak bersalah.

Kristus berani menyatakan kebenaran dalam tindakan nyata-Nya, dan Kristus mengajarkan kepada kita untuk tetap berdiri dalam kebenaran agar keadilan dapat ditegakkan dan dinyatakan oleh kita semua yang percaya kepada-Nya, karena Kristus telah menang atas ketidakadilan dunia ini.

Kita juga harus menyadari bahwa semua ini dilakukan Kristus Yesus hanya semata-mata karena kasih-Nya yang sangat amat teramat besar kepada orang-orang yang berdosa, dan bagi kita umat percaya, kematian Kristus di kayu salib adalah sebuah karya terbesar Allah bagi orang berdosa.

BMW

Leave a comment