PENERIMAAN DIRI MENGUATKAN IKATAN PERNIKAHAN

news-thumb1280

(Kejadian 2:18-24, Mazmur 8, Ibrani 1:1-4, 2:5-12, Markus 10:2-16)

Keluarga adalah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan, karena adanya ikatan perkawinan, ikatan darah atau ikatan perjanjian lainnya. Dalam masyarakat, keluarga disebut sebagai unit kesatuan terkecil, dapat terdiri dari sekurang-kurangnya seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dipersatukan melalui pernikahan menjadi suami dan isteri. Jumlah anggota keluarga akan berkembang menjadi lebih besar seiring dengan adanya penambahan anggota keluarga baik melalui proses kelahiran ataupun adopsi.

Sejak awal ketika menciptakan manusia, Tuhan memang menghendaki agar manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya itu, yaitu laki-laki dan perempuan, dapat menjadi satu kesatuan dalam keluarga (Kej 2:18-24, 1:26-27). Dalam Markus 10:7-9 ditegaskan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya. Mereka akan membentuk unit  kesatuan terkecil dalam masyarakat yang disebut keluarga, bukan semata-mata karena kehendak dan keinginannya sendiri, tetapi oleh karena Allah sendirilah yang menghendakinya dan berkenan mempersatukan mereka melalui ikatan perkawinan. Dan ikatan perkawinan yang dikehendaki Allah adalah ikatan yang akan tetap terus mengikat seumur hidup manusia dan tidak boleh dipisahkan atau diceraikan oleh manusia.

Begitu mudah bagi kita untuk memahami dan mengaminkan kehendak Tuhan mengenai keluarga dan ikatan perkawinan pada saat kita sedang mempersiapkan dan akan segera melangsungkan pernikahan. Ketika semua begitu baik dan menyenangkan maka dengan tegas kita bisa berkata, “Saya berjanji….sampai kematian memisahkan…” Kita percaya bahwa inilah yang dikehendaki Allah dan kita menerimanya dengan sukacita dan berjanji akan setia sampai mati.  Tetapi ternyata situasi bisa berubah, hidup bersama sebagai suami dan istri kadang tidak mudah, sehingga tidak selalu kita bisa tertawa, kadang kita harus menangis dan berduka. Tidak semua yang kita harapkan dapat terwujud, kadang kita harus berhadapan dengan rasa kecewa dan terluka.

Ketika situasi yang kita hadapi berubah, bagaimana kita bisa tetap bertahan? Bagaimana kita bisa tetap mengaminkan apa yang dikehendaki Tuhan? Bukannya memeriksa dan membenahi diri untuk memperbaiki situasi, kadang banyak orang lebih suka melarikan diri. Tidak siap untuk mengakui dan menerima kebenaran tentang dirinya atau pasangannya, bahwa masing-masing mereka bisa salah dan punya kelemahan, sehingga bukan langkah-langkah perbaikan yang ditempuh dan diupayakan, melainkan pemisahan.

Dunia di mana kita tinggal saat ini memandang perpisahan atau perceraian sebagai hal yang wajar terjadi dan dapat terjadi dalam semua pernikahan. Beberapa orang bahkan dengan begitu mudah melakukan perkawinan dan dengan mudah pula melakukan perceraian. Tetapi sebagai orang Kristen, ketika kita membentuk sebuah keluarga Kristen, maka panggilan kita bukanlah menjadi serupa dengan dunia di mana kita tinggal. Sebagai keluarga Kristen, kita dipanggil untuk mewujudkan keluarga yang dikehendaki Allah. Dan langkah itu dapat kita mulai dengan mengakui bahwa kita memang adalah manusia yang fana, yang kecil dan terbatas, yang bisa salah, bisa punya kelemahan, tetapi kita dicintai Tuhan dan dipandang mulia (Mazmur 8). Begitu juga dengan orang (pasangan) yang menikah dengan kita, mereka sama seperti kita, bukan orang yang sempurna seperti yang kita pikirkan, mereka juga rapuh seperti debu. Kesediaan untuk menyadari dan menerima keadaan diri sendiri akan mendorong kita untuk menyadari dan menerima pasangan kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya juga. Penerimaan diri seperti inilah yang akan menolong dan menguatkan ikatan pernikahan kita, seperti yang dikehendaki Allah.

 

                                                                                                            LN

Leave a comment