Penerima Damai Sejahtera

Processed with VSCO with a6 preset

Yoh 20:19-31

Pernahkah saudara merasa tidak aman atau mengalami ketakutan? Hal apa yang akan saudara lakukan ketika merasa tidak aman atau takut? Saya pernah mengalaminya. Hari itu saya mendapatkan sms yang berisi konfirmasi jika saya akan mengubah kata sandi akun transportasi online milik saya. Padahal saya tidak sedang mengotak-atik akun aplikasi tersebut. Kalau hanya sekali, dua kali, mendapatkan sms seperti itu, tentu tidak akan terlalu meresahkan. Masalahnya dalam sehari saya bisa mendapatkan sms seperti itu sampai 10 kali dan ini menandakan orang tersebut semangat sekali untuk meretas akun saya. Maka, saya mulai merasa tidak aman. Apa yang saudara lakukan ketika merasa tidak aman? Pasti kita berusaha mengamankan diri. Saya meningkatkan keamanan dengan mengubah kata sandinya. Lalu saya memutuskan untuk tidak menggunakan aplikasi tersebut selama beberapa waktu karena merasa tidak aman.

Saudara, inilah yang terjadi ketika kita merasakan tidak aman. Kita berusaha untuk mengamankan diri dengan berbagai cara yang dapat kita lakukan. Lalu rasa tidak aman itu mengikat kita sehingga membuat kita tidak nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya. Ada rasa curiga, ada rasa takut yang membelenggu untuk menjalani kehidupan. Rasa takut seperti ini juga dialami para murid Tuhan Yesus.

Yohanes 20:19 berbunyi, “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.” Rasa takut yang juga membelenggu para murid sehingga mereka memutuskan untuk berkumpul bersama-sama di satu rumah dengan pintu-pintu yang terkunci. Bisa dibayangkan keadaan para murid dengan keringat dingin yang mengucur, mungkin beberapa kali mencoba mengintip dari jendela, mengecek pintu untuk memastikan bahwa pintu itu terkunci dan berbisik-bisik waktu berbicara. Semua itu terjadi karena pemimpin yang mereka kagumi telah dieksekusi di atas kayu salib. Sebuah hukuman mati yang paling hina, ditolak langit dan bumi. Kalo pemimpinnya saja sudah dibunuh, apalagi para pengikutnya. Mereka takut dengan orang Romawi dan para pemimpin agama Yahudi yang mungkin datang, menyergap mereka sebagai buronan lalu membunuh mereka sama seperti apa yang mereka telah lakukan terhadap pemimpin mereka, Tuhan Yesus.

Dalam ruangan dengan pintu yang terkunci itulah, Tuhan Yesus hadir di tengah mereka. Ia mengatakan, “damai sejahtera bagi kamu”. Tuhan Yesus tidak hanya mengatakannya sekali sebagai sebuah sapaan di awal pertemuan. Tetapi ia mengulangi pesan tersebut dan ini menandakan bahwa “damai sejahtera bagi kamu” bukan hanya sekedar sapaan tetapi menjadi pesan penting yang harus selalu diingat dan dijadikan pegangan oleh murid-murid-Nya. Tidak hanya itu, Tuhan Yesus juga menunjukkan bekas lukanya. Luka yang didapat dari peristiwa yang membuat para murid ketakutan, justru membawa sukacita ketika para murid melihatnya (ayat 20). Mengapa? Karena bekas luka itu menyatakan kemahkuasaan Tuhan (Ia bangkit di antara orang mati). Luka itu menyatakan kasih dan kepedulian-Nya kepada para murid. Luka yang awalnya menjadi sumber ketakutan, berubah menjadi sumber kekuatan yang membebaskan para murid dari rasa takut. Tidak selesai sampai di situ, Tuhan Yesus juga mengatakan di ayat 22, “terimalah Roh Kudus” kepada para murid.

Bekas Luka, janji penyertaan Roh Kudus, dan pemberian damai sejahtera serta pengutusan, seluruh rangkaian ini hendak mengatakan bahwa para murid dan kita saat ini bahwa kita diutus di tengah dunia dengan damai sejahtera dan dalam penyertaan Roh Kudus. Damai sejahtera yang kita miliki tidak berarti bahwa selalu ada keadaan aman, kecukupan bebas dari kesulitan, kesusahan dan ancaman. Bukan itu. Melainkan damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah damai sejahtera yang tidak bergantung pada hal-hal eksternal yang dapat berubah, hancur dan diambil dari kita. Damai sejahtera yang Tuhan Yesus berikan adalah damai sejahtera di dalam penyertaan-Nya. Penyertaan Kristus yang bangkit dari kematian, Tuhan yang telah mengalahkan kuasa maut. Tuhan yang rela mati bagi saudara dan saya. Tuhan yang menyertai kita dari dulu, sekarang dan selamanya. Maka sebagai penerima damai sejahtera, bagian kita adalah untuk mengerjakan tugas kita sebagai saksi kebangkitan-Nya. Artinya, ada banyak hal yang bisa membuat kita merasa tidak aman dan dihimpit dengan kecemasan serta kekhawatiran. Tetapi iman pada Kristus yang bangkit, memampukan kita untuk terus berjalan, mengerjakan bagian yang dipercayakan oleh Tuhan dengan sebaik mungkin, selalu punya harapan dan memancarkan kasih-Nya di sepanjang hidup kita. Para murid yang menerima damai sejahtera Tuhan, mengalami perubahan dalam hidupnya. Mereka yang terkunci dalam ruangan, berubah menjadi para pekabar Injil yang berani ambil risiko kehilangan nyawanya. Demikianlah panggilan ini diberikan kepada setiap orang percaya yang telah menerima Damai Sejahtera dari Tuhan. Mari kerjakan panggilan-Nya, melakukan pekerjaan baik dan memuliakan Dia.

Leave a comment