Pemuridan dalam Keluarga

news-thumb1280

Ulangan 6:1-25

Suatu hari seorang anak bertanya kepada ibunya, “Mi, aku ini lahir sebagai orang Kristen ya?”. Ibunya kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba ini. Lalu ia menjawab, “Bukan nak, kamu bukan lahir sebagai orang Kristen, tetapi kamu lahir sebagai anak dari orangtua yang beragama Kristen. Itu sebabnya mami dan papi mengajar dan mendidik kamu secara Kristen. Memperkenalkan Tuhan Yesus sama kamu. Nanti kalo kamu sudah dewasa, sudah umur 17 tahun, kamu sudah bisa memilih sendiri agama kamu.”, jelas ibu kepada anaknya. Ibu itu menunggu respon dari si anak dengan perasaan deg-degan dan penasaran. Anak itu menjawab, “Oh gitu ya mami. Kalo udah besar aku udah bisa pilih agama sendiri ya. Tapi aku ndak mau ganti agama. Aku mau tetap ikut Tuhan Yesus aja!”. Maka legalah perasaan si ibu.

Mengapa ibu tersebut merasa lega? Sebab paling tidak hingga saat si anak itu bertanya, ia telah menjalankan perannya untuk memperkenalkan dan mendidik mereka dalam Tuhan. Anak adalah milik pusaka dari Tuhan yang dititipkan kepada orangtua. Mereka dapat menjadi anak panah di tangan pahlawan ketika dibentuk dengan baik. Sebab anak panah tidak lahir dari alam, ia harus dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi anak panah yang baik. (Mzm 127:3-5) Orangtualah yang berperan dan bertanggungjawab untuk ‘memuridkan’, membawa anak dalam relasi dengan Tuhan. Oleh sebab itu, penting untuk diingat bahwa pendidikan iman anak tidak dapat diserahkan kepada guru sekolah minggu yang hanya bertemu 1-1,5 jam setiap minggunya. Guru sekolah minggu adalah mitra dalam mendidik iman anak, tetapi tanggungjawab penuh berada di tangan orangtua.

Bangsa Israel paham betul peran orangtua dalam pendidikan iman anak sebab terkait dengan pengakuan iman mereka. Ulangan 6:1-25 merupakan doa dan dasar pengakuan percaya orang Yahudi, secara khusus di ayat 4. Sebutan yang biasa digunakan adalah Shema Israel. Shema merupakan perintah bagi umat untuk men-“dengar” dan mematuhi bahwa Tuhan Allah itu esa. Kepada Tuhan yang Esa itulah bangsa Israel diajar untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Sebagai ungkapan kasih kepada Allah, mereka juga diperintahkan untuk mengajarkan iman dengan tekun kepada anak-anak mereka. Membawa mereka dalam relasi yang setia dengan Allah, dengan kata lain memuridkan mereka. Maka memuridkan anak merupakan wujud mengasihi Allah yang dinyatakan di tengah keluarga.

Bagaimana cara melakukannya? Dalam Ulangan 6:7-9 dicatat, “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Dari sini kita melihat bahwa tidak cukup melakukan pendidikan iman dengan cara menyediakan waktu 1-1,5 jam untuk persekutuan keluarga/ family altar setiap malam. Sebab yang diperintahkan adalah untuk mengajarkannya dan membicarakannya berulang-ulang. Bukan saja waktu persekutuan keluarga, tetapi ketika sedang duduk, sedang dalam perjalanan, berbaring dan bangun. Dengan kata lain, bahwa di dalam setiap hal yang kita lakukan merupakan kesempatan untuk mengajarkan iman kepada anak-anak.

Disinilah orangtua ditantang untuk investasi waktu dalam memuridkan anak yang Tuhan titipkan kepadanya. Mengapa hal ini disebut tantangan? Sebab kita menyadari betapa padat dan sibuknya kita dengan seluruh urusan setiap hari. Kita harus berhadapan dengan kemacetan lalu lintas, persaingan di dunia kerja, keeksisan di media sosial, dsb. Maka tantangan bagi kita adalah mampukah kita mengivenstasikan waktu, tenaga dan dana di tengah segala kesibukan itu untuk membawa anak dalam relasi yang mendalam dengan Tuhan. Berbagi pengalaman bersama dengan Tuhan yang pernah kita alami, berbicara tentang janji Tuhan, mendengarkan pergumulan mereka sambil sarapan pagi, memasukkan pengajaran iman dalam hal sekecil apapun. Atau menyediakan waktu untuk pergi bersama di satu mobil, sehingga ‘diperangkap’ untuk berbagi pengalaman bersama.

Jika untuk pendidikan formal kita mengatur strategi dengan baik. Kita mengikutsertakan anak dalam les, sekolah di tempat terbaik, berani untuk investasi waktu dan dana, maka tidakkah kita juga dapat menginvestasikan waktu dan dana untuk pendidikan iman anak dengan harapan kita dapat berkata seperti Josua, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”.

                                                                                                            DRS

 

Leave a comment