Pembaharuan Hidup

news-thumb1280

(Markus 1:9-15)

Pada Minggu ini, kita sudah memasuki Minggu Prapaskah yang pertama. Minggu-minggu Prapaskah kita hayati sebagai  pengantar dan persiapan merayakan peristiwa Paskah. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan peristiwa sejarah paling besar, yang menebus dan menyelamatkan manusia. Peristiwa itu harus dipahami secara utuh dan mendalam, sehingga menghadirkan pembaruan bagi kehidupan kita. Masa Prapaskah adalah momen penting untuk itu.

Teks Injil Minggu ini diambil dari Markus 1:9-15. Teks tersebut memuat 3 perikop singkat, yakni tentang Yesus dibaptis Yohanes, pencobaan di padang gurun, dan Yesus tampil di Galilea. Injil Matius dan Lukas masih menceritakan cukup panjang dan detil ketiga kisah ini. Meski demikian, Matius, Lukas dan Markus sepakat menempatkan ketiga kisah ini dalam suatu urutan atau rangkaian. Ada kesan kuat bahwa ketiga peristiwa itu terjadi dalam kurun waktu yang sangat berdekatan. Maksudnya agar kita dapat melihat bagaimana Yesus menjalani hidup-Nya sebagai Anak Allah.

Melalui baptisan, kita melihat sosok Yesus sebagai Mesias yang rendah hati. Meski tidak berdosa, Kristus menempatkan diri layaknya manusia berdosa. Ia tidak hanya Allah yang mengambil rupa manusia, namun juga mengambil peran-peran manusiawi. Ia menanggung beban-beban manusia. Melalui baptisan itu, Ia menyatakan keberpihakan kepada orang-orang berdosa dan lemah.

Namun tidak hanya itu, baptisan itu juga sekaligus menegaskan keilahian Yesus Kristus. Setelah dibaptis, Allah menyatakan kemuliaan-Nya atas Kristus. Kemuliaan itu nampak dalam beberapa hal: (1) langit terkoyak secara ajaib, (2) Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas-Nya, dan (3) suara Bapa dari sorga: Engkaualah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (ayat 10-11). Semua tanda ini menguatkan keyakinan kita bahwa Yesus Kristus bukan manusia biasa. Ia adalah Anak Allah, Juruselamat yang menebus manusia bagi Allah.

Lalu, bagaimanakah Anak Allah ini menjalani kehidupan-Nya? Pada rangkaian berikutnya, setelah dibaptis, Yesus menuju padang gurun. Di sana Ia berpuasa dan berdoa, lalu dicobai oleh Iblis. Berpuasa dan berdoa merupakan disiplin rohani yang pantas dijalani oleh anak-anak Allah, dalam rangka mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Berpuasa menolong kita mengendalikan nafsu kedagingan, agar tidak semata bergantung kepada materi duniawi. Berpuasa juga mengajar kita bergantung penuh kepada Allah dan pemeliharaan-Nya. Sementara itu, berdoa menolong kita membangun komunikasi dan relasi yang akrab dengan Allah, sehari-hari.

Kedua hal ini, puasa dan doa, menjadi bentuk disiplin diri yang baik untuk memperkuat keimanan kita, khususnya di tengah dunia yang penuh godaan dan cobaan ini. Ketika dicobai oleh Iblis, Yesus Kristus menunjukkan sikap dan respon yang tegas. Kita bisa mengatakan, itulah buah dari puasa dan doa yang ditekuni -Nya. Ia tidak tergoda sedikit pun, sekalipun tawaran Iblis begitu menggiurkan. Yesus melekat pada Bapa dan firman-Nya. Bagitulah Ia melawan godaan Iblis. Sebagai anak-anak Allah, kita harus berani melawan godaan dan cobaan Iblis.Bagaimana caranya? Salah satunya dengan mendisiplinkan diri melalui doa dan puasa.

Tidak hanya mampu menangkal godaan Iblis, Kristus juga giat melayani dan bersaksi. Tuhan Yesus memulai penginjilan-Nya di Galilea, dengan pesan utama: “…Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (ayat 15). Bagi Yesus, Kerajaan Allah harus hadir di bumi seperti di sorga. Jika tidak demikian, manusia akan sengsara dan binasa selamanya. Itulah sebabnya, Ia tidak tergiur kekuasaan dunia. Ia fokus mengabarkan Kerajaan Allah, agar manusia dan dunia mengalami pemulihan dan pembaruan hidup.

Sebagai murid Yesus Kristus, sudahkah kita mengalami pembaruan hidup yang semakin menyerupai Yesus Kristus? Bagaimana kedalaman iman kita kepada-Nya? Lalu, bagaimana kita membangun disiplin diri kita sehari-hari? Kristus sudah menunjukkan bagaimana seharusnya anak-anak Allah hidup dan menjalani hari-harinya. Ia mengajak kita untuk giat berdoa dan berpuasa, yang intinya membangun relasi yang dekat dengan Allah. Ia memberi teladan bagaimana melawan godaan Iblis dengan tegas. Akhirnya, Ia mendorong kita untuk tekun melayani dan bersaksi. Inilah tanda-tanda pembaruan hidup yang harus kita perlihatkan dalam keseharian kita. Amin.

                                                                                                                                                                                                MM

Leave a comment