Nilai Diri dan Nilai Kerajaan Allah

WhatsApp Image 2021-01-23 at 09.53.33

Markus 1:14-20

Markus menandai bahwa pelayanan Yesus dimulai sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap (Markus 1:14). Apa yang dialami Yohanes Pembaptis merupakan gambaran dari apa yang Yesus akan alami kelak untuk menggenapi panggilan-Nya. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan memberitakan Injil kepada banyak orang (Markus 1:15) dan memanggil murid-murid. Isi pemberitaanNya diringkas oleh Markus dengan frasa ‘Injil Allah’ (Markus 1:14). Dikatakan bahwa Allah akan memerintah umat-Nya. Ini adalah kabar baik. Namun, sebelum ini terlaksana, persyaratan penting yang harus terlebih dahulu terjadi di tengah-tengah umat Allah – – sebagai syarat menjadi umat-Nya — yaitu, bertobat dan percaya kepada Yesus (Markus 1:15).

Yesus memanggil empat orang murid dengan cara yang hampir sama. Simon dan Andreas dipanggil ketika mereka sedang bekerja. Tampaknya, mereka segera memberi respons dengan meninggalkan pekerjaan untuk mengikut Yesus (Markus 1:18). Inisiatif tidak datang dari mereka, melainkan dari Yesus. Hal ini kontras dengan tradisi Yahudi di mana murid-muridlah yang memilih seorang rabi menjadi gurunya. Begitu pula dengan Yakobus dan Yohanes. Mereka pun dipanggil dengan cara yang sama. Keempatnya dipanggil Yesus ketika sedang bekerja (Markus 1:19).

Markus tidak memberikan sebuah keterangan yang pasti tentang hal apa yang membuat Yakobus, Yohanes, Andreas dan Simon begitu terpesona dengan kehadiran Yesus sehingga mereka rela meninggalkan miliknya yang paling berharga – pekerjaan dan keluarga. Namun, pengalaman perjumpaan dengan Yesus, yang tak terucapkan dengan kata-kata manusia itu telah memampukan mereka untuk melepaskan sumber penghidupannya sehari-hari, melepaskan zona nyaman dan aman mereka di dalam rumah orang tua, dsb.  Pekerjaan dan keluarga adalah dua hal terpenting yang dapat dimiliki oleh setiap orang di dunia ini. Namun, pengalaman keempat murid Yesus ini menunjukkan bahwa hal mengikut Yesus justru membuat mereka rela melepaskan pekerjaan utama dan zona nyaman mereka ditengah keluarga. Kerelaan melepas itu lahir dari batin yang dimurnikan dari motif-motif duniawi. Kejernihan batin melahirkan kerelaan hati untuk melepaskan apa yang tak dapat lagi digenggam. Hanya dengan kerelaan untuk melepaskan “yang lama” itulah, seseorang baru siap untuk menyongsong sesuatu “yang baru”.

Kerelaan melepaskan itu membuat mereka tidak kehilangan hal-hal yang paling berharga. Yesus justru memberikan kepada mereka sebuah “nilai baru” yang lebih bermakna dari sekedar pemenuhan kebutuhan hidup pribadi dan rasa aman di tengah “keluarga kecil” mereka. Nilai baru itu adalah “menjadi penjala manusia’ (Markus 1:17). Inilah pekerjaan baru keempat murid Yesus ini. Sejak itulah nilai diri mereka diubah dan terus menerus diselaraskan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang diberitakan oleh Yesus.

Ditengah dunia yang kian berorientasi pada materialisme dan pragmatisme, umat Allah diminta untuk berorientasi pada Kristus dan pekerjaan-pekerjaanNya. Ada hal yang perlu dan harus dilepaskan agar hidup umat Allah makin selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Amin.

                                                                                                            YKD

Leave a comment