MERESPONS ANUGERAH DAN PANGGILAN ALLAH

Quote-20Jan2020

(Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:2-12, 1Korintus 1:1-9, Yohanes 1:29-42)

Setiap kita selalu ingin memilih orang-orang yang sempurna, kuat dan dapat diandalkan untuk menjadi bagian dalam hidup kita, baik sebagai  suami atau isteri, sebagai teman atau rekan kerja. Karena itu akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan orang-orang yang dapat kita terima sebagai bagian dalam hidup kita, apabila kita dapat mengetahui dengan jelas kekurangan, kelemahan dan kerapuhan yang ada dalam diri setiap orang di sekitar kita. Mungkin tidak akan ada satu orangpun yang akan dapat kita pilih karena fakta dalam hidup kita menunjukkan bahwa tidak satupun di antara kita, manusia, yang benar-benar bisa disebut sempurna, kuat dan dapat diandalkan dalam segala hal. Kita penuh kekurangan, kekuatan kita sangat terbatas dan kita tidak mahakuasa sehingga dapat selalu diandalkan. Itu sebabnya kita sering mendengar dengan penuh sesal orang berkata, “Kalau saja saya tahu dari awal, orang seperti apa dia…saya tidak akan memilih dia.”

Syukur kepada Allah, Pencipta kita, karena sekalipun Ia mengenal kita dengan sangat jelas siapa kita, Ia tahu kelemahan dan kerapuhan kita, tetapi Ia tetap bersedia memilih dan menerima kita sebagai ciptaan-Nya yang istimewa dan dipandang berharga oleh-Nya. Sedemikian berharganya kita di mata Allah, sehingga Ia tetap berkenan mengasihi dan mengasihani kita sekalipun kita begitu sering menyakiti hati-Nya dalam kelemahan dan kerapuhan kita. Ia memilih untuk memberi anugerah dan mengampuni kita. Dan tidak hanya itu, Ia juga bahkan memilih untuk menerima dan menjadikan setiap kita sebagai rekan-Nya dalam menyatakan anugerah dan keselamatan bagi dunia. Ia berkenan memilih dan menyatakan panggilan-Nya atas setiap kita.  Sekalipun Ia tahu siapa kita, mengenal dengan baik segala kelemahan dan kerapuhan kita, Ia tetap memilih untuk menerima kita sebagai anak-Nya dan sebagai rekan kerja-Nya untuk mewujudkan keselamatan dalam dunia. Itulah anugerah. Bukan karena kita kuat, sempurna dan dapat diandalkan, maka Tuhan memilih dan menerima kita, melainkan karena Ia mau menyatakan anugerah-Nya atas setiap kita, sekalipun Ia tahu siapa kita.

Tuhan mengetahui dan mengenal dengan baik siapa Simon, saudara Andreas, orang seperti apa Simon terbuka dengan jelas dihadapan Tuhan. Tapi Tuhan tetap memilih untuk menerima dia sebagai murid-Nya, dan menempatkan Simon sebagai salah satu dari tiga orang murid inti yang dekat dengan Dia. Mengapa? Apakah Tuhan sudah siap dikecewakan? Bukan, melainkan karena Tuhan tahu, Ia akan memberikan anugerah-Nya. Dalam anugerah itulah Simon akan menjadi Kefas atau Petrus, yang berarti batu karang. Simon pernah salah memahami anugerah Allah. Ia pikir karena ia kuat, tegas dan berani maka Tuhan memilih untuk memanggil dan menerima dia. Karena itu ia terus berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya memang lebih benar dan lebih baik daripada murid-murid Tuhan yang lainnya (Lihat Matius 26:31-33, Yohanes 13:36-38). Itu sebabnya betapa sedih hati Simon Petrus ketika kemudian ia melihat dirinya dalam kelemahan dan kerapuhan, menyangkal Tuhan. Tetapi perjalanannya bersama Tuhan kemudian mengajar dia bahwa hanya karena anugerah Tuhanlah maka ia dipilih dan dipanggil menjadi anak dan rekan kerja Tuhan.

Bapak, ibu serta saudara sekalian, Tuhan Allah mengetahui dan mengenal siapa dan seperti apa diri kita, bahkan jauh lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dan sekalipun Ia tahu kelemahan, kerapuhan dan ketidaksempurnaan kita, Ia berkenan menerima dan memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya, bahkan lebih dari itu, menjadi rekan kerja-Nya. Ia mau mempercayakan karya penyelamatan-Nya bagi dunia kepada kita. Sudahkah kita merespons anugerah dan panggilan Allah itu dengan benar? Kiranya Tuhan menolong kita.

LN

Leave a comment