MENYUARAKAN KEBENARAN

news-thumb1280

(Amos 7:7-15, Mazmur 85:8-13, Efesus 1:3-14, Markus 6:14-29)

Bukan hal yang mudah bagi kita untuk hidup dalam kebenaran, terlebih di tengah-tengah situasi dunia yang lebih mencintai dan menyukai ketidakbenaran. Tetapi kita pasti setuju bahwa mendorong diri kita untuk melakukan kebenaran masih lebih mudah dibandingkan mendorong diri kita untuk menyuarakan kebenaran itu sendiri. Mengapa demikian? Karena sekalipun sukar, ada banyak hal yang baik yang bisa kita temukan dan jadikan alasan untuk melakukan kebenaran dalam hidup kita. Kita tahu bahwa jika kita hidup dalam kebenaran, maka kebenaran yang kita hidupi akan menjaga hidup dan memimpin langkah kita pada kebaikan demi kebaikan. Tidak demikian dengan panggilan untuk menyatakan kebenaran dan menelanjangi ketidakbenaran. Kita tahu bahwa ketika kita berani melakukannya, ada resiko yang harus kita terima. Kadang yang kita dapati bukannya penerimaan melainkan penolakan, bukannya kesadaran dan pertobatan melainkan kebencian dan permusuhan, bukannya kebaikan tetapi kejahatan dan kecelakaan. Karena dengan menyatakan kebenaran dan  menegur kesalahan kadang kita dipandang sebagai musuh dan bukan kawan. Oleh sebab itu tidak sedikit di antara kita yang merasa harus berpikir berulang kali sebelum melakukannya. Dan banyak yang enggan melakukannya karena berpikir apa baiknya dan apa untungnya bagi saya jika saya melakukan hal itu?

Alkitab kita dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan Allah tidak hanya memanggil kita untuk melakukan kebenaran, tetapi juga untuk menyatakan dan menyuarakan kebenaran itu di tengah-tengah umat manusia yang hidup dalam ketidakbenaran. Tidak cukup bagi kita jika hanya hidup dengan benar dan bersikap masa bodoh dengan banyak orang lain yang memilih untuk melakukan apa yang salah. Allah memanggil kita untuk menegur kesalahan mereka dan menyatakan kebenaran Allah kepada setiap mereka. Tidak cukup jika Amos hanya hadir di dunia menjadi seorang pengusaha atau peternak kambing domba yang baik, jujur dan melakukan kebenaran Allah. Allah memanggil Amos untuk melakukan lebih dari sekadar hidup benar. Ia memperlihatkan kepada Amos kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh bangsa Israel yang karenanya akan membangkitkan murka Allah atas mereka dan tanah mereka. Tuhan Allah mengutus Amos untuk berbicara kepada bangsa Israel, kepada para pemimpin agama di tengah-tengah mereka dan kepada raja mereka, agar mereka menyadari kesalahan mereka dan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat. Tetapi mereka menolak dan mengusir Amos.

Dalam Injil yang kita baca, kita juga diajak untuk melihat bagaimana Tuhan memanggil Yohanes Pembaptis, tidak hanya menjadi utusan yang dipanggil untuk memiliki cara hidup berbeda di tengah-tengah bangsa dan para pemimpin yang mengagungkan hedonism, kekuasaan dan ketamakan, yang rela melakukan berbagai macam kebejatan asalkan mendatangkan kesenangan dan kepuasan. Yohanes dipanggil untuk menyuarakan kebenaran, menegur setiap orang yang melakukan kesalahan dan memanggil mereka untuk bertobat, dengan tidak pandang bulu, Yohanes melaksanakan tugas panggilannya. Dan apa yang diperolehnya? Memang ada orang-orang yang mau bertobat dan berbalik kembali kepada Allah. Tetapi ada juga yang menyimpan dendam dan menanti saat yang baik untuk melampiaskannya. Markus mencatat bahwa Yohanes Pembaptis harus kehilangan nyawanya setelah ia di penjara karena tindakannya menyatakan kebenaran, menegur kesalahan yang dilakukan Raja Herodes.

Jika demikian, menjadi sia-siakah apa yang dilakukan? Sekali-kali tidak. Sekalipun banyak orang tidak menyukai kebenaran yang kita suarakan dengan lantang, dan mungkin tidak sedikit yang akan bangkit menentang, tetapi tidak akan menjadi sia-sia kebenaran yang kita suarakan. Roh Kudus akan terus bekerja dalam hati setiap orang yang mendengar kebenaran itu dinyatakan. Kebenaran itu akan menyelamatkan orang-orang yang telah mendengar dan menerimanya, sekalipun mungkin banyak juga yang akan menolaknya. Firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia, karena Tuhan sendiri berkata: “Demikianlah firman-Ku, yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Itu sebabnya sekalipun ditolak dan dihina, Amos tetap berbicara menyuarakan kebenaran. Sekalipun ditangkap dan dipenjara, Yohanes Pembaptis tetap menyuarakan kebenaran dan tidak menarik kembali perkataannya. Bagaimana dengan kita, bersediakah kita juga diutus Tuhan menyatakan kebenaran-Nya di tengah-tengah hidup kita? Kiranya Tuhan menolong dan memberi keberanian pada kita. Amin

Pdt. LN

Leave a comment