Menyelami Pemikiran Allah

news-thumb1280

Yer 15:15-21, Rm 12:9-21 & Mat 16:21-28

Suatu hari seorang ayah sedang memandangi dengan takjub bayi mungilnya yang tertidur lelap di sebuah ranjang kecil dan unik. Dari ruang tamu, sang istri memerhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya dan menghampirinya. Dalam kekaguman dan kebahagiaan ia berkata, “bayi kita cantik sekali ya pak!”. Sahut suaminya, “Bukan! Ini bukan tentang bayi kita. Aku sedang berpikir, mengapa ranjang bayi ini harganya sangat mahal!”

Cerita ini menunjukkan betapa sulitnya memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Suami istri saja susah, apalagi menyelami pemikiran Allah! Nabi Yeremia dan Petrus pun mengalami kesulitan untuk bisa menyelami pemikiran Allah.

Nabi Yeremia meratapi hidup yang dijalaninya dalam kesengsaraan dan perlawanan dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Padahal ia merasa sudah memberikan yang terbaik dalam mengikut Tuhan. Oleh karena itu, ia menuduh Allah telah berlaku curang kepadanya. Ia menyebut Allah seperti ‘sungai yang curang’ atas semua kesengsaraannya. Sebuah ratapan yang jujur dari seseorang yang tertekan jiwanya dan merasa putus asa dihadapan Allah. Bagaimana respon Allah? Allah menjawab tuduhan Yeremia dengan menegaskan janji penyertaan-Nya. Ia akan menyelamatkan dan melepaskan Yeremia dari orang-orang jahat. Allah juga menjelaskan bahwa semua yang dialami oleh Yeremia menjadi cara-Nya membentuk Yeremia menjadi nabi yang tangguh (tembok berkubu
dari tembaga).

Petrus pun mengalami kesulitan dalam menyelami pikiran Allah. Ketika Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam dan ahli Taurat lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari, Petrus menegor- Nya. Ia katakan, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Mengapa Petrus melakukannya? Sebab dalam pemikiran Petrus, seorang Mesias tidak akan mengalami penderitaan. Mesias justru akan membebaskan orang Yahudi dari penindasan Romawi dan menjadi raja atas bangsanya! Yesus kemudian menegur Petrus karena ia hanya mengutamakan pemikirannya sendiri.

Petrus tidak memberi ruang bagi Allah dalam pemikirannya dan berupaya untuk menyelami pemikiran Allah. Menyelami pemikiran Allah, berarti mengubah kecendrungan dari mengikuti pemikiran pribadi menjadi mengutamakan pemikiran Allah. Memikirkan apa yang dipikirkan Allah berarti bersedia mengikuti-Nya dalam
kehidupan.

Ada 3 hal yang harus dilakukan untuk mengikut Yesus:

1. Menyangkal Diri
Menyangkal diri berarti kesediaan untuk meniadakan kepentingan diri sendiri, dan mengarahkan diri untuk melihat dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan.

2. Memikul Salib
Kesediaan untuk menderita sebagai konsekuensi dari menyangkal diri dalam menyelami pikiran Allah.

3. Mengikut Yesus
Bukan hanya sekedar penggemar yang tahu banyak mengenai kehendak dan pikiran Allah. Akan tetapi, menjadi seorang pengikut yang berfokus pada Tuhan, tidak mudah digoyahkan untuk mengikuti pemikiran sendiri. Mengarahkan diri pada kehendak Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya dalam berbagai situasi kehidupan.
Sepenggal syair lagu persekutuan berbunyi, “ kau mengenal hatiku. Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun…” Allah pasti mengenal isi hati dan pikiran kita secara mendalam sebab Ia juga yang menenun kita dalam kandungan. Maka, apakah kita juga bersedia untuk menyelami pikiran Allah melalui suka dan duka yang kita alami di tengah peziarahan iman ini?

Mari kita merefleksikannya:
1. Menurut saudara, kesulitan apa yang menghalangi saudara dalam memahami pikiran orang lain?
2. Mengapa Petrus menegur Yesus ketika Ia memberitahukan penderitaan yang akan dialami-Nya?
3. Dalam hal apa saja saudara masih sulit untuk menundukkan pikiran kepada kehendak Allah? Apa komitmen saudara untuk hal itu?

DRS

Leave a comment