MENYATAKAN KERAJAAN ALLAH DALAM HIDUP BERSAMA

news-thumb1280

(Amsal 5:6-7, 10-15, Mazmur 90:12-17, Ibrani 4:12-16, Markus 10:17-31)

Hidup keagamaan seringkali hanya dipahami sebatas melakukan ritual ibadah, sehingga banyak orang merasa diri benar dan pasti masuk sorga karena sudah melaksanakan berbagai tuntutan ritual. Padahal hal kerajaan sorga bukan hanya bicara soal ritual ibadah, tetapi juga bicara soal tanggung jawab kita kepada Allah berkaitan dengan semua yang telah Allah percayakan kepada kita, waktu kita, harta kita, talenta kita dan semua kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Bagaimana kita mengatur dan mengelola dan mempergunakan semuanya itu, apakah sesuai dengan maksud dan kehendak Allah atau tidak. Hal kerajaan sorga berkaitan erat dengan pemberlakuan kehendak Allah dalam hidup kita.

Dengan bangga seorang kaya datang kepada Tuhan Yesus, bukan untuk mencari tahu jalan apa yang harus diambil agar ia dapat memperoleh hidup yang kekal, memperoleh bagian dalam kerajaan Sorga. Sekalipun ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Melainkan hanya untuk mencari peneguhan dan penegasan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan itu bisa membawanya pada hidup yang kekal. Perhatikan apa yang dikatakannya ketika Tuhan Yesus menjawab pertanyaannya, “Semuanya itu telah aku lakukan sejak masa mudaku.” Ia yakin bahwa ia sudah sempurna melakukan semua tuntutan hukum agama yang diajarkan kepadanya. Betapa kecewanya ketika ia tidak mendapatkan jawaban seperti yang diharapkannya. Semua tuntutan hukum agama yang dilakukannya ternyata belum cukup untuk membuatnya dibenarkan di hadapan Allah.

Apa yang masih kurang dengan yang dilakukannya? Tuhan memintanya menjual harta yang dimilikinya, membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin yang ada di sekitarnya, lalu datang kepada Tuhan dan mengikut Tuhan. Alkitab mencatat bahwa orang kaya yang datang menjumpai Tuhan Yesus itu lalu pergi dengan amat sedih, bukan hanya karena apa yang sudah dilakukannya masih belum cukup untuk menyelamatkannya. Tetapi terutama karena ia harus mengakui bahwa kasihnya kepada Tuhan masih sangat dangkal, belum sampai membuat ia mampu mengasihi sesamanya. Ia pergi dengan sedih karena ia sangat mencintai hartanya yang banyak dan tidak siap untuk melepaskannya. Hidup keagamaan yang berkenan di hadapan Tuhan bukan hanya berhenti pada ritual ibadah, tetapi bagaimana ibadah itu dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Kasih kita kepada Tuhan tidak cukup hanya dinyatakan dengan menjalankan hukum atau peraturan agama, tetapi terutama dengan menyatakan kasih kepada sesama yang menderita. Kasih itu harus kita wujudkan dengan kesediaan untuk berbagi berkat Allah yang percayakan kepada kita dan kesediaan untuk mengikut Tuhan serta melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan merasa puas hanya karena kita sudah tekun menyembah dalam ritual ibadah kita.

Kita mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang kita sembah dalam ritual ibadah kita dan sebagai Tuan yang kita layani dalam setiap pelayanan kita, pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah apakah Ia juga sudah menjadi Tuhan dalam seluruh hidup kita? Apakah kehendak-Nya kita berlakukan dalam kehidupan kita bersama dengan orang-orang di sekitar kita, dalam keluarga dan masyarakat di mana kita tinggal? Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dengan kesediaan kita untuk tunduk pada kehendak-Nya dan menyatakan kasih kepada sesama.

LN

Leave a comment