MENYAMBUT UNDANGAN TUHAN DENGAN SUKACITA

news-thumb1280

(Yesaya 25:1-9, Mazmur 23, Filipi 4:1-9, Matius 22:1-14)

Undangan pada umumnya dimaknai sebagai wujud sebuah penghargaan dari pribadi yang mengundang terhadap diri orang yang diundang. Karena itu menerima sebuah undangan berarti menerima sebuah pengakuan bahwa keberadaan kita diperhitungkan dan dipandang penting untuk dilibatkan atau diikutsertakan. Penghargaan yang kita terima melalui sebuah undangan pada akhirnya mendorong kita juga untuk menghargai pribadi pemberi undangan, yang biasanya diwujudkan dengan kesediaan untuk mengindahkan dan memenuhi undangan tersebut.

Hal Kerajaan Sorga diumpamakan oleh Tuhan Yesus seperti seorang raja yang akan mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya dan mengundang banyak orang untuk datang. Jadi undangan yang Tuhan berikan untuk masuk dalam Kerajaan Sorga adalah sebuah undangan untuk masuk dalam sukacita besar, seperti sukacita dalam sebuah jamuan pesta perkawinan anak raja. Setiap orang yang menerima undangan tersebut, sewajarnya merasa sangat bahagia dan menyambut dengan sukacita, karena mendapat penghargaan yang begitu besar. Pertanyaan “Siapakah saya sehingga Tuhan, Sang Raja berkenan mengundang saya untuk datang dan bersukacita dalam jamuan yang akan diadakan-Nya?” mungkin akan terus berkecamuk dalam hati dan pikiran setiap orang yang menerima undangan tersebut. Pertanyaan itu pada akhirnya membawa mereka melihat betapa besarnya anugerah dan kemurahan yang Tuhan Allah berikan kepada mereka.

Tetapi tidak demikian yang terjadi pada waktu perumpamaan ini disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya. Saat itu Tuhan Yesus justru berhadapan dengan para imam kepala dan para tua-tua bangsa Yahudi, orang-orang yang sejak semula telah dipilih untuk diundang masuk dalam Kerajaan Sorga. Bukannya menyambut undangan dan menerima panggilan untuk masuk dalam pesta perjamuan kawin yang diselenggarakan, mereka malah menolak panggilan dan tidak mengindahkan undangan yang sudah diberikan. Seperti para penerima undangan yang diceritakan dalam perumpamaan, mereka tidak mau datang, malah menangkap dan membunuh para utusan raja yang diutus untuk memanggil mereka masuk dalam pesta perjamuan.Penolakan mereka terhadap para utusan raja yang datang menyampaikan panggilan, menunjukkan betapa mereka tidak menghormati dan mengakui otoritas sang raja atas mereka. Dan sebagaimana penolakan mereka mendatangkan murka sang raja atas mereka (ayat 7) demikian jugalah murka Tuhan akan menimpa setiap orang yang menolak undangan dan panggilan Tuhan (bandingkan dengan Yohanes 3:16-18).

Undangan untuk masuk dalam sukacita pesta perjamuan, tidak hanya Tuhan berikan kepada orang-orang Yahudi, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain; orang-orang yang baik maupun orang- orang yang jahat (Matius 22:8-10, lihat juga Yesaya 25:1-9). Orang- orang yang tidak layak, dilayakkan oleh Tuhan untuk datang dan mengambil bagian. Mereka yang tidak memiliki pakaian yang layak untuk pesta, akan tetap berpakaian pesta karena semuanya telah disediakan. Undangan itu diberikan untuk semua orang. Jika demikian apakah semua orang akan masuk dalam Kerajaan Sorga? Tidak juga. Semua orang memang diundang untuk masuk, tetapi hanya mereka yang mau menyambut undangan itu dengan sukacita dan yang bersedia memberi diri didandani dengan mengenakan pakaian pesta yang disediakan Tuhan, yang akan masuk dan ikut ambil bagian dalam pesta perjamuan Tuhan.

Ketika undangan Tuhan disampaikan kepada kita, baik itu undangan untuk menerima keselamatan, undangan untuk melayani Tuhan ataupun undangan untuk masuk dalam perjamuan Tuhan, itu menunjukkan betapa Tuhan menghargai kita. Kita mungkin tidak layak menerima itu semua, Tuhan yang akan melayakkan kita. Kita mungkin tidak pantas, Tuhan yang akan membuat kita pantas berada di tempat Tuhan memanggil kita. Karena itu, jangan takut, mari sambut undangannya dengan sukacita. Tuhan menolong kita.

LN

Leave a comment