Menjadi Yang Dikasihi

WhatsApp Image 2021-04-09 at 11.56.58

Yohanes 20:1-18 & 1 Kor 15:1-11

Sokola Rimba, pernahkah saudara membaca kisahnya atau menonton filmnya? Sokola rimba menceritakan tentang kisah cinta Butet Manurung kepada Orang Rimba. Butet, seorang perempuan asal Jakarta, rela meninggalkan gemerlapnya ibu kota untuk menjadi pendidik bagi suku asli orang Rimba, Jambi. Mudahkah perjalanannya untuk mengajar di sana? Tidak mudah. Ia mengalami penolakan mentah-mentah ketika ia mulai hadir di tengah mereka. Namun, ia tidak pernah berhenti. Dengan otot, otak dan hati, ia terus bergerak maju untuk memahami dan mendekati mereka. Perlahan namun pasti, kerja kerasnya membuahkan hasil. Pendidikan yang awalnya dijauhi oleh suku orang Rimba, perlahan mulai digemari. Bahkan, pendidikan menjadi trend di kalangan anak muda suku orang Rimba. Salah satu hasil dari kasih yang Butet nyatakan terlihat ketika seorang anak Rimba membatalkan surat perjanjian batas tanah karena kemampuanya membaca isi perjanjian. Kasih seorang Butet dapat mengubah mereka yang awalnya tertutup, tak tersentuh pendidikan, menjadi terbuka terhadap pendidikan. Mereka yang tadinya tidak bisa membaca dan berpikir kritis, sekarang dapat menjaga hutannya dari eksplotasi dunia bisnis. Semua perubahan ini diawali oleh kasih yang ada dalam diri Butet bagi mereka.

Hari ini kita semua merayakan Paskah, hari Kebangkitan Tuhan Yesus. Kebangkitan-Nya dari kematian menjadi bukti kemenangan-Nya atas kuasa maut sekaligus menjadi bukti kasih Allah bagi kita. Dia bukan hanya datang ke dunia, menyatakan diri-Nya supaya kita kenal. Ia datang juga untuk menyatakan kasih dan kerelaan-Nya berkorban bagi saudara dan saya. Kasih dan pengorbanan memang selalu berjalan beriringan dan Kristus telah menyatakannya. Karena kasih, Ia mati di atas kayu salib dan menanggung dosa kita. Apakah saudara merasakan kasih-Nya yang besar atas diri saudara? Bagaimana saudara memaknai kematian dan kebangkitan Kristus? Apakah memang ini suatu hal yang pantas saudara terima dan biasa-biasa saja? Atau saudara memahaminya sebagai anugerah terbesar dalam hidup saudara?

Rasul Paulus memaknai pengorbanan Kristus sebagai kasih karunia Allah bagi dirinya. Itu semua dimulai dari kesadaran bahwa dirinya tidak layak menerima kasih Allah yang melimpah itu. Ia tidak layak untuk dikasihi, tetapi Allah tetap mengasihi-Nya dan sebagai yang dikasihi oleh Allah, ia hidup di dalamnya. Dalam 1 Kor 15:10, dia menuliskan pengalamannya disentuh oleh kasih Allah, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Kasih Karunia Allah mengubah hidup Paulus. Ia seorang Farisi yang menganiaya pengikut Kristus, berubah menjadi seorang pengikut Kristus. Ia seorang yang hadir waktu Stefanus dieksekusi, berubah menjadi orang yang disesah karena memberitakan Injil, sama seperti Stefanus. Ia seorang Yahudi yang fanatik, berubah menjadi rasul bagi kalangan non Yahudi. Ia mengubah namanya dari Saulus menjadi Paulus. Perubahan nama ini menjadi simbol hidup barunya bersama Kristus. Perjumpaan dan pengalaman dikasihi Kristus telah mengubah hidupnya. Dalam Filipi 3:8, ia bahkan menuliskan, “malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,”. Kasih Allah atas diri Paulus, tidak sia-sia. Ia hidup sebagai yang dikasihi-Nya dan mengalami perubahan total dalam seluruh aspek hidupnya. Ia bekerja lebih keras bagi Allah.

Saudara, sama seperti Paulus, kita pun dikasihi oleh Allah dengan luar biasa. Kita menerima penebusan dosa, bukan karena usaha dan kebaikan kita sendiri. Melainkan semata-mata karena kasih-Nya bagi kita. Lalu, bagaimana kita merespon pernyataan kasih Allah ini? Bersediakah kita berjalan bersama dengan Dia yang bangkit? Mengalami hidup yang sungguh berubah di dalam Dia sebagai yang dikasihi-Nya. Meninggalkan kebiasaan dan cara hidup kita yang lama, dan menghidupi Kristus dalam cara pandang dan seluruh perilaku hidup kita. Di hari Paskah ini, mari kita rayakan dengan memeriksa diri kita dan meneguhkan kembali semangat kita untuk hidup sebagai orang yang dikasihi-Nya. Selamat Paskah. Allah mengasihimu dan hidupah sebagai orang yang dikasihi-Nya. Tuhan memberkati.

                                                                                                     DRSS

Leave a comment