Menjadi Terang Bagi Bangsa

news-thumb1280

Yesaya 42:5-9

“Menurutmu siapa itu hamba Tuhan?” jika pertanyaan ini dilontarkan kepada anggota jemaat, rasanya sebagian besar akan menjawab hamba Tuhan adalah Pendeta atau Tenaga Pelayan Gerejawi (TPG) atau penginjil, dsb. Apakah sudah tepat pemahaman ini? Roma 6:22, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Rasul Paulus memberi definisi bahwa hamba Tuhan adalah mereka yang telah dimerdekakan dari dosa dan menerima pengudusan oleh Tuhan. Demikian pula jika kita perhatikan Yesaya 42:1, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh- Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa- bangsa.” Hamba Tuhan adalah mereka yang atasnya Tuhan telah menaruh Roh-Nya. Maka hamba Tuhan adalah setiap orang yang percaya kepada Tuhan, sebab hanya oleh karena karya Roh Kudus seseorang dapat percaya kepada Tuhan (1 Kor 12:3).

Status sebagai hamba Tuhan mengandung sebuah panggilan dan misi yang harus dikerjakan. Misi apa itu? Yesaya 42:6, “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,”. Misi hamba Tuhan adalah menjadi terang bagi bangsa-bangsa.

Apa arti menjadi terang bagi bangsa-bangsa?
1. Terang bagi orang lain
Yesaya 42:7, “untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”. Menjadi terang berarti ada bagi pihak lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Sama seperti fungsi menara mercusuar. Mercusuar ada untuk menerangi, menunjukkan dan membimbing kapal yang sedang berlayar disekitarnya agar tidak menabrak karang yang dapat membuat kapal menjadi karam. Maka hamba Tuhan yang menjadi terang bagi bangsa berarti menyadari bahwa kita ada bagi orang lain dan berperan sebagai petunjuk dan pembimbing agar mereka dapat mengenal dan memuliakan Tuhan (Mat 5:16).

2. Terang berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran
Irenaeus mengatakan Gloria Dei vivens homo vivens (kemuliaan Allah adalah kehidupan manusia yang sepenuhnya). Kalimat ini mau mengingatkan bahwa ketika kita memperjuangkan kehidupan manusia yang manusiawi, itulah saat Tuhan dimuliakan. Hal ini yang juga ditekankan di dalam Yesaya 42:7. Oleh sebab itu, menjadi terang berarti berjuang bagi kebaikan, keadilan dan kebenaran yang memanusiakan manusia, pada saat itulah kita sedang memuliakan Allah.

Bagaimana memperjuangkan kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam kehidupan? Maka mulailah dari hal yang sederhana salah satunya adalah pada saat berbelanja terkait dengan hobi menawar harga semurah mungkin. Mampukah kita memanusiakan manusia, memperjuangkan kebaikan, keadilan dan kebenaran dengan cara membeli dengan harga yang wajar? Dengan pedagang di pasar tradisional, pedagang keliling kita menawar harga supaya bisa berkurang seribu, dua ribu sekuat tenaga, padahal ketika belanja di supermarket yang harganya jauh lebih mahal kita membeli tanpa menawar.

3. Terang bagi bangsa!
Yesaya mencatat kita dipanggil menjadi terang bagi bangsa-bangsa, yang berarti bahwa jadilah terang dalam keutuhan hidup sehari-hari di segala aspek dan bukan cuma di gereja. Jadi terang di gereja itu baik, tetapi jangan jatuh dalam keasyikan di gereja dan lupa dengan panggilan menjadi terang bagi bangsa. Maka jadilah terang ketika kita berelasi dengan tetangga, dengan mereka yang berbeda agama, dengan sanak saudara, dengan rekan bisnis, dan dengan semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan.

Jadilah terang! Terangilah dunia dengan terang yang bersumber dari Sang Terang Dunia. Supaya banyak orang dapat Mengenal dan Datang kepada Sang Terang. Tuhan beserta kita.

DRS

Leave a comment