MENILIK HATI,MENEGUHKAN RELASI

news-thumb1280

Yohanes 12:1-8

Peristiwa salib Kristus, yang semakin dekat kita peringati pada Jumat Agung nanti, merupakan peristiwa transformatif (bersifat sangat mengubahkan). Kristus yang tersalib itu membuat dosa berganti anugerah, malapetaka berganti berkat, kebinasaan berganti keselamatan, dan keterpisahan berganti perdamaian dengan Allah. Dengan demikian, siapapun yang sungguh memaknai dan mengimani salib Kristus akan juga mengalami pembaruan hidup yang sejati. Hidupnya benar-benar akan berubah. Jika selama ini kutuk berkuasa karena dosa, di dalam Kristus akan tercurah anugerah keberkahan. Jika selama ini hati dikuasai kekuatiran, ketakutan dan kemarahan, di dalam Kristus akan nyata kedamaian dan sukacita yang kekal.

Akan tetapi, transformasi tidak dengan sendirinya akan terjadi. Transformasi menuntut refleksi diri yang mendalam disertai tindakan-tindakan iman yang nyata. Refleksi tanpa aksi akan menjadi ‘verbalisme’, yakni kebiasaan untuk pandai bicara dan banyak omong, tetapi tanpa aksi-aksi kasih yang nyata. Sementara, aksi tanpa refleksi akan menjerumuskan orang pada sikap ‘aktivisme‘, yakni menyibukkan diri dengan timbunan pelayanan yang tanpa arah dan tanpa makna. Kedua sikap ini, verbalisme dan aktivisme, tidak akan membuat orang mengalami pembaruan hidup selain berakhir pada kesalehan diri yang munafik.

Sayangnya, gejala verbalisme dan aktivisme juga muncul dalam hidup bergereja. Gejala ini dapat diamati pada banyaknya gereja dengan kultur yang anti keterlibatan sosial kemasyarakatan. Mereka cenderung menutup diri,
menyembunyikan keberadaan dan terhanyut dalam doa-doa tanpa partisipasi sosial. Di sisi lain, ada gereja yang sangat aktif melakukan kegiatan kemasyarakatan, menghabiskan banyak dana untuk lingkungan, dan menyusun banyak program eksternal. Akan tetapi, jemaat tetap merasa hampa.

Agar tidak verbalisme dan aktivisme, penginjil Yohanes mengajak kita untuk menilik keteladanan Tuhan Yesus, Maria, Marta dan Lazarus. Sepekan sebelum penangkapan dan kematiannya, Yesus pergi ke Betania. Di tempat inilah Yesus pernah membangkitkan Lazarus, Saudara Marta dan Maria, dari kematian. Peristiwa luar biasa itu tidak akan dilupakan ketiga bersaudara ini. Itu sebabnya, setiba-Nya di Betania, Yesus dan rombongan segera disambut dan dijamu keluarga Lazarus. Ketiga kakak beradik ini melayani Yesus dengan cara yang berbeda. Marta melayani dengan jamuan makan yang terbaik. Lazarus dengan melayani dengan menemani mereka berbicara dan makan bersama. Sementara, Maria datang dengan setengah kati minyak narwastu. Maria lalu mendekati Yesus dan meminyaki kaki-Nya. Tindakan itu sekejab membuat seluruh ruangan menjadi wangi semerbak. Semua orang tentu bertanya, “Mengapa Maria berbuat demikian?”

Kita bisa memahami tindakan Maria sebagai ungkapan rasa syukurnya, karena Tuhan Yesus sudah membangkitkan saudaranya, Lazarus. Maria tidak dapat menutupi luapan kasihnya kepada Yesus. Ia ingin mengungkapkan syukur dan cintanya dengan pelayanan yang paling mendalam. Itu sebabnya, ia tidak segan-segan mencurahkan minyak narwastunya di atas kaki Yesus. Sebenarnya, minyak itu dapat dihargai setara dengan gaji 300 hari atau setahun hari kerja. Itu memang minyak yang sangat mahal. Tetapi, bagi Maria, minyak semahal itu tidak sebanding dengan anugerah yang telah diterimanya. Bahkan, Maria tidak saja mencurahkan minyak itu di atas kaki Yesus, tetapi juga menyekanya dengan rambutnya. Kasih dan kebaikan Yesus telah mengubah hidup Maria. Maria sangat menghormati dan mengasihi Yesus melebihi siapapun. Secara terbuka di hadapan semua orang, Maria meneguhkan relasinya yang penuh kasih dengan Tuhan Yesus.

Uniknya, penginjiil Yohanes secara sengaja mengontraskan sikap Maria dengan kemunculan Yudas. Yudas blak-blakan mengritik tindakan Maria sebagai pemborosan. Padahal Yudas, walau selalu bersama dengan Tuhan Yesus, tidak pernah dicatat melakukan aksi kasih apapun baik kepada Gurunya maupun kepada orang miskin. Sebaliknya, Yudas sering melakukan kecurangan dan kejahatan dengan mengambil uang kas yang dipegangnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Di permukaan, Yudas nampak sangat aktif dan terlihat bicara. Sayangnya, Yudas penuh kemunafikan. Hidupnya tidak mengalami pembaruan (transformasi) sama sekali. Ia bahkan tega menjual Gurunya kepada musuh-musuh-Nya, hanya demi keuntungan materi yang murahan.

Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita perlu selalu menilik hati kita. Semoga tahun demi tahun hati kita makin berpaut pada Tuhan Yesus. Keterpautan pada Kristus itu makin memurnikan hati kita. Kemurnian hati kita makin memampukan kita untuk beribadah dengan segenap hati. Peribadahan yang kita jalani makin mengantar kita pada kesalehan hidup yang benar. Kesalehan yang kita dambakan makin disertai dengan pelayanan-pelayanan kasih. Pelayanan yang kita lakukan makin berangkat dari hati yang selalu mencintai dan mempermuliakan Tuhan. Maria telah belajar dari Tuhan Yesus, yakni bagaimana menghidupi kasih Bapa di dalam seluruh sikap, perkataan dan perbuatan-Nya. Demikian pula kita, makin hari makin mampu meneguhkan relasi dengan Kristus disertai tindakan dan pelayanan kasih yang mempermuliakan nama Tuhan.

Pendalaman Alkitab

  1. Bagaimanakah sikap Tuhan Yesus terhadap tindakan kasih Maria?
  2. Bagaimanakah sikap Tuhan Yesus terhadap perkataan Yudas Iskariot?

Pendalaman Refleksi Diri

  1. Menurut Saudara, apakah banyaknya program dan orang yang melayani bisa menjadi tolok ukur kesuksesan atau keberhasilan gereja?
  2. Apakah aktivitas beribadah dan melayani yang Saudara lakukan selama ini benar-benar berangkat dari dan semakin membuat Saudara cinta akan Tuhan?
  3. Perubahan-perubahan positif apa yang Saudara alami selama masa prapaskah ini atau selama setahun ini? Bagikanlah!
  4. Pernahkah Saudara menghadapi orang yang banyak omong dan orang yang pura-pura sibuk supaya dihargai? Bagaimana Saudara menyikapinya?

MM

Leave a comment